Balai Bahasa Aceh Diseminasi GLN di Lhokseumawe

Untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi berbagai elemen masyarakat dalam berliterasi, Balai Bahasa Aceh (BBA) terus mengkampanyekan pentingnya peningkatan kualitas literasi bagi kemajuan bangsa. Menggandeng IAIN Lhokseumawe dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, BBA melaksanakan Diseminasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) selama tiga hari (6-8 Maret) bertempat di Aula Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) IAIN Lhokseumawe. Diseminasi ini diikuti oleh 50 orang peserta dari kalangan guru SD dan SMP/sederajat, pengelola perpustakaan, serta unsur mahasiswa.

Mewakili Kepala Balai Bahasa Aceh, Iskandar Syahputera, M.Pd. menyampaikan sambutan pada pembukaan Diseminasi GLN di Aula FITK IAIN Lhokseumawe

Dalam rilis berita yang dikirimkannya kepada redaksi media bba, Syarifah Zurriyati (ketua panitia) mengatakan bahwa kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor IAIN Lhokseumawe, Dr. Hafifuddin, M.Ag. IPak rektor mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Balai Bahasa dan menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut di kampus IAIN Lhokseumawe. Dalam sambutannya, pak rektor mengingatkan bahwa membaca merupakan syarat penting agar sebuah bangsa maju dan berkembang. Ia menyemangati peserta agar meniru sikap hidup indatu: “Leuh bu, pat lham” yang maksudnya lebih kurang “selesai makan langsung kerja, tidak ada waktu berleha-leha”.

Kepala BBA, Drs. Muhammad Muis, M.Hum. dalam paparan materinya pada hari kedua menyampaikan bahwa GLN merupakan program prioritas Badan Bahasa sebagai jawaban terhadap rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia di kancah internasional. Setelah memaparkan perbandingan tingkat literasi membaca di Indonesia dengan negara-negara lain, kepala balai menekankan pentingnya kerja sama semua elemen bangsa dalam menumbuhkembangkan budaya literasi. “Kita ingin mengingatkan kepada mahasiswa, guru, dan pustakawan bagaimana pentingnya literasi. Saya ingin bapak, ibu, dan adik-adik mahasiwa bisa memberikan perspektif kepada generasi muda dan anak-anak tentang literasi”.

Baca juga:   Badan Bahasa Tutup Bimtek Fasilitator Literasi Regional di Pekan Baru

Syarifah menambahkan, selain kepala Balai Bahasa Aceh, diseminasi ini juga dibahani oleh Iskandar Syahputera, M.Pd. pada hari pertama dan Dr. Baun Thoib Soaloon SGR, M.Ag. pada hari terakhir. Iskandar memfokuskan materinya peningkatan minat keterampilan menulis. Para perserta diajak untuk mengenali bentuk-bentuk teks dan berlatih menulis. Narasumber yang merupakan salah satu peneliti di BBA ini memotivasi peserta agar giat menulis dan mulai dari hal-hal sederhana.

Peserta Disemninasi GLN Lhokseumawe berlatih meningkatkan kecepatan membaca

Sementara itu, pada hari terakhir, Baun mengawali presentasinya dengan merekonstruksi sudut pandang peserta tentang literasi dalam Islam. Menurutnya, doktrin Islam tentang literasi bertolak belakang dengan kondisi literasi di negara-negara muslim. Ia menyinggung tradisi pemahaman masyarakat muslim yang cenderung mengedepankan keajaiban dalam meyakini keotentikan Alquran sebagai kitab literasi. Salah satu pertnyaanya yang cukup menggelitik dan memancing perdebatan adalah “Apakah kita harus mepertahankan keyakinan bahwa Nabi Muhammad Saw. merupakan seorang yang buta huruf untuk membuktikan keotentikan Alquran, sementara Alquran sejak ayat pertama mengeluarkan perintah membaca?”. Yang tidak kalah penting dari acara diseminasi ini adalah praktik peningkatkan kemampuan membaca yang menjadi fokus kegiatan pada sesi lanjutan hari terakhir. Menutup kegiatan hari terakhir, setelah melatih peningkatan kecepatan membaca, narasumber juga berlatih bersama peserta untuk membaca kritis setiap teks yang dibaca. “Pembaca yang terampil tidak seyogyanya menerima begitu saja pesan-pesan penulis, tetapi harus terlibat aktif dan berusaha membongkar selubung ideologi dan kepentingan setiap teks sebelum memutuskan pemaknaan yang lebih tepat”, pesan Baun diakhir diskusi.

Baca juga:   Revitalisasi Nazam di Aceh Barat

Tinggalkan balasan!