Tentang Kata “Demo”: Bentuk Singkat dalam Bahasa Indonesia

Demo mahasiswa menolak PT. EMM. Foto: acehkita.com


Demonstrasi gabungan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang berlangsung beberapa hari kemarin di Kantor Gubernur Aceh sempat heboh. Selain melibatkan massa yang cukup banyak (katanya seribuan), unjuk rasa itu juga berlangsung selama beberapa hari, menyebabkan kerusakan, dan sempat ricuh.

Setelah sempat menghindar, untunglah Plt. Gubernur Aceh akhirnya bersedia menemui demonstran untuk berdialog. Tampaknya kesepakatan telah tercapai. massa pedemo puas. Demo pun bubar.

Saya tentu sangat tertarik dengan  isu yang disuarakan oleh mahasiswa dalam unjuk rasa itu. Saya ingin sekali membahasnya, paling tidak untuk menunjukkan dukungan terhadap keadilan sosial dan kelestarian lingkungan hidup. Namun, biarlah hal itu kita bahas di tempat dan kesempatan lain. Di sini cukuplah kita diskusikan soal-soal bahasa saja.

Karena konteksnya kebetulan tepat, saya akan membahas kata dan istilah yang sering kita sebut-sebut sehubungan dengan peristiwa  unjuk rasa kemarin. Anda pasti sudah akrab dengan istilah unjuk rasa maupun demonstrasi. Keduanya merupakan verba sinonim, jika merujuk pada makna yang direkam oleh KBBI Daring berikut.

demonstrasi:

(1) pernyataan protes yang dikemukakan secara massal; unjuk rasa;

(2) peragaan atau pertunjukan tentang cara melakukan atau mengerjakan sesuatu.

unjuk rasa: pernyataan protes yang dilakukan secara massal; demonstrasi.

Istilah yang dipakai untuk menunjukkan nomina pelaku dari kedua verba tersebut adalah demonstran, berarti: orang yang berdemonstrasi; pelaku demonstrasi; dan pengunjuk rasa, berarti orang yang melakukan unjuk rasa; sekumpulan orang yang mengadakan unjuk rasa; demonstran.

Baca juga:   Penggunaan Istilah Nominasi, Nominator, dan Nomine

Selain demonstrasi dan unjuk rasa, masih ada satu istilah lain yang merujuk pada makna yang relatif sama, yaitu demo.  Istilah ini cukup populer dan semakin sering kita pakai. Rupanya kata ini merupakan kependekan dari demonstrasi yang sudah kita bahas di atas.

Ketika mengetikkan kata tersebut pada laman pencarian KBBI Daring, kita akan disuguhi hasil berikut.

Peristilahan dalam bahasa Indonesia rupanya dapat dibentuk dari proses penyingkatan atau pemendekan. Coba Anda baca Pedoman Umum Pembentukan Istilah (Pusat Bahasa, edisi ke-3, 2007). Di dalamnya disebutkan bahwa Istilah dapat berupa (1) bentuk dasar, (2) bentuk berafiks, (3) bentuk ulang, (4) bentuk majemuk, (5) bentuk analogi, (6) hasil metanalisis, (7) singkatan, (8) akronim.

Dalam buku pedoman tersebut disebutkan bahwa istilah bentuk singkatan ialah bentuk yang penulisannya dipendekkan menurut tiga cara berikut.

1. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang dilisankan sesuai dengan bentuk istilah lengkapnya. Misalnya:

  • cm yang dilisankan sentimeter
  • l yang dilisankan liter
  • sin yang dilisankan sinus
  • tg yang dilisankan tangen

2.  Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankan huruf demi huruf. Misalnya:

  • DDT (diklorodifeniltrikloroetana)yang dilisankan de-de-te
  • KVA(kilovolt-ampere) yang dilisankan ka-ve-a
  • TL (tube luminescent) yang dilisankan te-el

3. Istilah yang sebagian unsurnya ditanggalkan. Misalnya:

  • Ekspres yang berasal dari kereta api ekpres
  • Kawat yang berasal dari surat kawat
  • Harian yang berasal dari surat kabar harian
  • Lab yang berasal dari laboratorium
  • Info yang berasal dari informasi
  • Demo yang berasal dari demonstrasi
  • Promo yang berasal dari promosi
Baca juga:   Penggunaan Tanda Baca Titik Koma (;) dan Titik Dua (:)

Jadi, demo merupakan salah satu contoh istilah dalam bentuk singkatan melalui penanggalan sebagian unsur lengkapnya (demonstrasi).

Saya pikir beberap contoh lain berikut dapat dikategorikan sebagai istilah yang lahir dengan proses yang sama. Koreksi saya jika salah!

  • ekspo dari eksposisi
  • intro dari introduksi
  • admin dari administrator
  • memo dari memorandum

Masih banyak contoh lain atau barangkalai Anda mau mempopulerkan istilah baru dengan pola tersebut tersebut, silakan! Bukankah kita menyukai bahasa dan komunikasi yang singkat?

Oh ya, jangan keliru! nomina untuk menunjukkan pelaku dari demo bukan “pendemo”, tetapi pedemo. Setidaknya itu yang tercantum dalam KBBI Daring. Ingat ya!

Saya belum sempat mempelajari asas dan paradigma yang digunakan dalam pembentukan istilah pedemo. Adakah di antara pembaca yang bersedia mendiskusikannya?

Tinggalkan balasan!