Tinggalkan Ramadhan, Mari Sambut Ramadan! (Penyerapan Kosakata Arab)

Foto profil facebook مرحبا رمضان

Judul di atas sedikit membingungkan. Kalau boleh dianalogikan: bagaimana mungkin meninggalkan seseorang sekaligus menyambutnya dalam satu waktu? Bukankah ramadhan dan ramadan memiliki makna yang sama; bulan kesembilan dalam kelender Hijriah; bulan pelaksanaan ibadah puasa? Benar.

Baik ramadlan maupun ramadan, di manapun kita menemukannya, tetap akan mengarahkan kita pada asosiasi makna yang sama. Rasanya, dalam bahasa Indonesia, belum ada rujukan pengertian yang lain bagi kedua kata tersebut.

Masih tetap dalam pengertian yang sama, kita sering pula menyebutknya bulan puasa. Ramadhan vis a vis ramadan merupakan dua kata yang ditulis berbeda, tetapi dengan pengertian yang sama. Lalu mengapa masih menulis judul demikian?

Mohon maaf! Saya tidak bermaksud membingungkan pembaca. Keanehan judul di atas agar lebih menarik semata. Apakah saya berhasil? Ehm, entahlah! Sebenarnya, keduanya berbeda dan saya ingin mengajak pembaca meninggalkan bentuk penulisan yang salah dan membiasakan yang benar.

Jadi, kali ini saya ingin mengajak Anda lebih fokus pada bentuk (penulisan) daripada makna. Memang keduanya tidak menimbulkan kesalah pahaman, tetapi dari segi penulisan, salah satunya tidak dapat dibenarkan, karena menyalahi kaidah penyerapan unsur kosakata/istilah asing dalam bahasa Indonesia.

Ramadhan atau Ramadan?

Sepengetahuan saya, selain ramadhan dan ramadan, sebenarnya masih ada beberapa bentuk penulisan lain seperti ramadlan, ramazan, dan romadhon. Saya yakin pembaca juga pernah menemukan variasi penulisan tersebut. Jika demikian, bentuk manakah yang baku di antara variasi tersebut?

Baca juga:   Tentang Kata "Demo": Bentuk Singkat dalam Bahasa Indonesia

KBBI Daring menunjukkan kepada kita bahwa penulisan yang benar (baku) adalah ramadan. Perhatikan hasil pencarian kata tersebut di bawah ini!


Ra.ma.dan
bentuk tidak baku: Ramadhan

  • n bulan ke-9 tahun Hijriah (29 atau 30 hari), pada bulan ini orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa

Bagi pembaca yang sekadar ingin tahu bentuk yang baku, sampai di sini mungkin Anda sudah puas. Namun jika ingin memahami proses atau alasan pemilihan bentuk tersebut, Anda perlu memahami kaidah penulisan serapan yang berasal dari bahasa Arab. Dengan memahami kaidah ini, Anda dapat menghindari kekeliruan dalam penulisan bentuk-bentuk serapan lain yang memiliki unsur yang sama.

Kaidah Penyerapan Kosakata Bahasa Arab

Persoalan utama timbulnya variasi dalam penulisan ramadan ( رمضان ) adalah penyerapan huruf ض (ḍad) (ditransliterasi menjadi [d dengan titik di bawahnya]).

Berhubung karena ḍad tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, banyak orang yang terpengaruh dengan paradigma transkripsi dan transliterasi dalam pemadanan huruf tersebut sehingga muncullah variasi dh, dl, dan d. Padahal, sesungguhnya transliterasi hanya dipakai untuk kebutuhan penulisan kosakatan/istilah asing yang belum terserap ke dalam bahasa bahasa sasaran. Tujuannya untuk mengalihkan huruf, bukan bunyi, sehingga apa yang ditulis dalam huruf bahasa sasaran dapat diketahui bentuk asalnya dalam tulisan bahasa sumbernya.

Meskipun tetap memperhatikan kesesuaian bunyi, namun dalam penyerapan terjadi banyak penyederhanaan (penyesuaian ejaan dan lafal) terutama ketika unsur serapan itu sulit mencari padanannya.

Baca juga:   Penggunaan Tanda Baca Titik Koma (;) dan Titik Dua (:)

Untuk menghindari kerancuan, di sinilah pentingnya kaidah penyerapan. Nah, ḍad (ﺽ Arab) diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi d sehingga ramaḍān ( رمضان ) mengalami penyesuaian menjadi ramadan didasarkan pada kaidah berikut.

ḍad (ﺽ Arab) menjadi d. Contoh:

ḍa’īf ( ضعيف ) menjadi daif;

farḍ (ﻓﺭﺽ ) menjadi fardu;

hāḍir (حاﻀﺭ ) menjadi hadir

Baca PUEBI, Tim Pengembang Kaidah Bahasa Indonesia, edisi IV, 2016: 61)!

Penyesuain lain adalah vokal a panjang yang berada di tengah kata tersebut berubah menjadi vokal pendek. Hal ini sama dengan pemadanan ṣaḥābat ( صحابة ) menjadi sahabat.

Khusus pada kata ramadan, ada yang tidak setuju. Alasannya, kata tersebut dapat menimbulkan salah pengertian. Menurut mereka, kalau ditulis ramadan yang dirujuk bukanlah رَمَضَان, melainkan رَمَدًا yang berarti “sakit mata”.

Itu benar kalau kita berbicara bahasa Arab, namun sesungguhnya kita bicara dalam konteks bahasa Indonesia. Kata رَمَدًا hingga kini belum diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Seandainya mau diserap pun, bentuknya tidak akan menjadi ramadan, melainkan ramad. Jadi, jangan khawatir, apalagi sampai beranggapan bahwa penulisan ramadan akan mengurangi kesakralan bulan suci ini!

Sekali lagi, meskipun beberapa variasi penulisan ramadan di atas relatif tidak menimbulkan kerancuan makna, namun demi ketertiban pemakaian bahasa Indonesia, sejak saat ini, tinggalkanlah bentuk-bentuk tidak bakunya dan mari menyambut Ramadan!

Tinggalkan balasan!