MAKAN SIANG ISTIMEWA

Ilustrasi kotak makan siang. Sumber: id.lovepik.com

Oleh Nurhaida

Awal bulan, gajian. Ninda menyambutnya dengan sukacita. Berarti ada lembaran-lembaran uang yang dapat digunakannya untuk meneruskan perjalanan kehidupan. Pekerjaannya sebagai karyawan di pabrik kue menyenangkan baginya. Hobinya membuat kue sangat membantunya untuk menuntaskan pekerjaan. Apalagi gaji yang didapatnya sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Uang itu digunakannya untuk biaya hidup hingga akhir bulan. Ninda harus pandai mengatur keuangannya agar ia tak ‘sakit kepala’ di tengah bulan.

Siang ini Ninda ingin makan dengan menu istimewa. Masakan yang lain dari biasanya. Meskipun makan dengan tumis kankung dan ikan teri balado kacang atau telur dadar sudah sangat enak baginya. Seusai mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu di ATM, Ninda bergegas menuju ke sebuah rumah makan yang berada di pusat kota. Ia naik bus. Transpotasi umum yang juga dinaikinya setiap hari untuk pergi dan pulang dari bekerja.

Tiga puluh menit kemudian bus berhenti di halte. Ninda turun dari bus bersama puluhan penumpang lainnya. Ada beberapa orang dikenalinya. Setelah saling menyapa sebentar, mereka menuju ke tempat tujuan masing-masing. Ninda mengarahklan langkahnya menuju ke suatu rumah makan besar yang terkenal di kotanya. Belum banyak pembeli yang datang ketika Ninda tiba di rumah makan yang terkenal dengan kelezatan masakannya itu.

Ninda menunggu di depan meja panjang yang membatasi antara pembeli dan pramusaji. Pramusaji sedang melayani pesanan pembeli lain. Seorang Pramusaji berpakaian seragam itu memandangnya sekilas ke arahnya tanpa berucap apa pun.

Baca juga:   SABAB KAMENG

“Nasi tujuh bungkus. Tiga bungkus pakai ikan balado, tiga bungkus pakai ikan bakar, dan satu bungkus pakai ikan goreng,” ucap Ninda menyebutkan pesanannya.

“Pesan apa tadi?” tanya pramusaji.

Ninda kembali mengulangi pesanannya. Pramusaji kembali meneruskan pekerjaannya. Sedari tadi Ninda melihat tidak ada senyuman di wajah-wajah mereka ketika melayani para pembeli. Begitu sibukkah mereka sehingga tidak sempat tersenyum. Padahal pembeli belum begitu ramai berdatangan.

Setelah pesanannya selesai, Ninda menuju ke meja kasir. Kasir perempuan itu pun tanpa senyum.

“Apa saja pesanannya?” tanya kasir perempuan itu dengan nada datar.

Ninda kembali mengulangi daftar pesanannya. Sementara itu, kasir terus mengetikkan sejumlah angka di mesin hitung. Kasir menyebutkan jumlah yang harus dibayar oleh Ninda. Ketika hendak mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya, Ninda mendengar  ada suara-suara dari arah sampingnya. Ada empat orang yang sedang mengatur hidangan, mereka sedang bercakap-cakap. Mereka berada tidak jauh dari meja kasir. Ada seseorang di antara mereka yang sedang berkata.

 “Bagaimana kita semangat bekerja kalau keadaan seperti ini.  Kesejahteraan tidak terjamin. Hasil penjualan rumah makan banyak, tetapi karyawan tidak kebagian sebagian hasilnya. Gaji pun sering terlambat diberikan. Ekonomi kurang. Tersenyum pun susah sekali,” keluhan seseorang terdengar di telinga Ninda.

“Makanya nanti ketika Kau mempunyai rumah makan sendiri, jangan lupakan karyawanmu. Kau sejahtera, karyawanmu juga harus sejahtera,” terdengar lagi ucapan dari karyawan yang lain.

Baca juga:   JANGAN SEPERTI ITU

“Ninda tersenyum mendengar ucapan itu. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran di kasir, Ninda keluar dari rumah makan itu. Sebagian nasi bungkus yang dibelinya akan dibagikannya untuk pemulung dan penjual sayur di pinggir jalan yang ditemuinya dalam perjalanan pulang. Mereka bekerja keras untuk menafkahi kehidupan mereka.  Ninda ingin berbagi sebagian rezekinya untuk mereka. Menu makan siang kali ini begitu istimewa baginya.

                                      Balai Bahasa Aceh, Rabu, 03 Juli 2019

*Penulis adalah staf pengkaji kebahasaan di Balai Bahasa Aceh.

Tinggalkan balasan!