Sampul Novel 1984 karya George Orwell. Gambar dari penguin.com.au

Judulnya memang 1984, tetapi novel ini perdana terbit pada 1949 dan konon menjadi semacam ramalan terhadap masa depan peradaban umat manusia pada saat itu. Ditulis George Orwell dalam bayang-bayang Perang Dunia II yang penuh teror dan kacau balau, novel ini tampak jelas lahir sebagai ekspresi ganjil seorang manusia terhadap masa depan dunia yang jauh dari bahagia.

Bisa dikatakan novel ini fiksi yang mengeksplorasi fantasi-fantasi horor, atau istilah inteleknya distopia, yang kompleks, dibumbui romansa antimainstream, serta, yang terutama, sarat akan teori-teori kekuasaan yang menggambarkan bagaimana dunia tempat manusia hidup ini dipolitisasi oleh suatu doktrin penuh muslihat. Semua poin-poin ini saling berkaitan cantik sebagai suatu kesatuan yang utuh dan dinarasikan lancar dengan tuturan bahasa yang sangat canggih.

Tak pelak, dari awal hingga akhir kisah, pikiran pembaca akan dipenuhi oleh imaji-imaji buruk tentang hidup yang tanpa kebebasan, perang yang (sengaja) tak berkesudahan antara tiga adinegara di dunia, larangan menikmati hubungan seks antara suami dan istri, gerak-gerik yang 24 jam dipantau teleskrin di mana-mana, keberadaan mikrofon tersembunyi yang bikin resah, pikiran yang tidak boleh dongkol pada Partai, ancaman penguapan (baca: lenyap dari muka bumi) jika warga tidak hati-hati dengan pikiran dan lakunya, dan banyak lagi. Semua adalah citra-citra hidup yang tak indah, atau dalam bahasa Newspeak–bahasa miskin kosakata karya Partai yang berkuasa di Negara Oceania untuk mempersempit cakrawala berpikir warganya–yaitu ungood.

Sebagaimana umum ditemukan dalam banyak kisah di jagat raya, di cerita ini juga hadir kisah cinta antara laki-laki dan perempuan yang bikin hati jadi gemas. Tokoh utamanya, Winston Smith yang bekerja di Departemen Catatan, Kementrian Kebenaran, suatu hari bertabrakan dengan pekerja perempuan dari Departemen Fiksi di kementrian yang sama, lalu mendapat secarik kertas bertulisan I love you. Karena alasan keamanan, Winston yang juga tertarik pada si gadis, namanya Julia, berusaha mencari kesempatan yang tepat untuk membuka komunikasi. Itu akhirnya terjadi di kantin setelah beberapa kali gagal berhari-hari kemudian.

Baca juga:   Ajai

Dari curi-curi obrolan singkat itu mereka pun merancang rencana kencan rahasia dengan strategi ketemuan yang luar biasa rumit, penuh perjuangan untuk menghindari Polisi Pikiran, dan selalu begitu pada kencan-kencan selanjutnya. Singkat cerita mereka bahagia dengan cinta gelap yang penuh resiko itu, sebelum suatu hari, seperti yang telah dikhawatirkan sejak awal, Polisi Pikiran datang mengacaukan keadaan. Winston dan Julia ditangkap. Utamanya bukan karena sexcrime yang mereka lakukan sembunyi-sembunyi, melainkan karena sebelumnya mereka ikut Persaudaraan—sebutan untuk semacam gerakan bawah tanah kontrapartai—dan di lubuk hati terdalam masing-masing memang ada keinginan untuk berontak terhadap Partai sejak lama. Maka baik Winston maupun Julia kemudian mengalami proses penyiksaan yang berlarut-larut. Fisik dan psikis keduanya hancur. Ketika setelah bebas mereka bertemu lagi, cinta yang dulu hadir pada keduanya beda sudah. Betapa tragis!

Tetapi kisah cinta Winston dan Julia bukanlah bagian utama dalam novel ini. Itu hanyalah suatu soal kehidupan yang mendapat imbas buruk dari kegilaan praktek kuasa si Bung Besar! Ia sebenarnya bukanlah individu yang despot. Ia hanyalah sosok yang mewakili Partai alias para penguasa dalam sistem oligarki dengan ideologinya sosialisme—konon rakyat akan lebih mudah memuja dan mengelu-elukan citra hebat sosok individu ketimbang Partai (baca: kumpulan individu) untuk kepentingan Partai agar bisa langgeng berkuasa. Nah di karya ini Orwell berkisah sambil memaparkan secara apik teori-teori kekuasaan dalam sejarah umat manusia, khususnya dalam makna negatif yang mengakibatkan distopia. Ada kesia-siaan revolusi melawan tiran karena kelak aktor-aktor revolusi itu akan menjadi tiran baru, upaya menebar ketakutan di tengah-tengah masyarakat, pelestarian kedunguan kaum proletar biar tidak peduli pada keadaan, rekayasa sejarah, dll. Semua dijelaskan secara meyakinkan—mencengangkan. Sering juga bikin ngeri.

Baca juga:   Cerita dari Patani (3): Pengantin adalah Pelayan

Tinggalkan balasan!