BELAJAR MENULIS DARI ORHAN PAMUK

Tulisan ini berangkat dari wawancara-wawancara Orhan Pamuk di beberapa kesempatan, di mana pertanyaan-pertanyaan mengenai proses kreatifnya dalam berkarya selalu muncul dan menjadi perhatian yang utama. Tidak semua proses menulisnya, tentu, dibicarakan di sini, tapi hanya sebagian saja. Sebagian yang dianggap prinsipiel, dan mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja yang berminat melakoni karir serupa.

Orhan Pamuk adalah salah satu novelis kontemporer terbaik di seantero jagat. Ia meraih Hadiah Nobel Sastra 2006 saat usianya masih 52 tahun. Ia adalah penulis sekaligus orang Turki pertama yang meraih Hadiah Nobel, serta muslim kedua peraih Hadiah Nobel Sastra setelah Naguib Mahfouz (Mesir) pada 1988. Hingga rilis novel The Red-Haired Woman pada 2016, ia telah menerbitkan sepuluh novel serta beberapa karya nonfiksi lainnya. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 60 bahasa di seluruh dunia.

Kini ia berusia 67 tahun, masih hidup, masih tampak sehat, dan belum ada tanda-tanda hendak berhenti berkarya di bidang sastra.

Semua kisah keberhasilan Orhan dimulai ketika ia berusia awal dua puluhan (22 atau 23). Itu adalah titik di mana ia mulai bertekad menjadi penulis, mengabdikan hidupnya untuk sastra, dan berjuang mati-matian di bidang itu. Sejak itu ia menulis dengan serius, mengalami beberapa kali kegagalan, dan butuh waktu bertahun-tahun hingga novel pertamanya terbit saat ia berusia tiga puluh tahun. Novel pertama itu langsung membuat namanya mencuri perhatian publik, khususnya di Turki, dan konsistensinya yang luar biasa dalam berkarya kemudian membuatnya jadi penulis kaliber dunia hari ini.

Orhan Pamuk adalah seorang pekerja keras dalam bekarya. Itu pasti. Ia bilang bahwa ia bekerja seperti juru tulis. Setiap hari rata-rata ia menghabiskan sepuluh jam hidupnya untuk menulis. Sepuluh Jam. Masihkah ia sempat buang-buang waktu untuk pacar-pacaran di kala itu?

Lalu ada apa di balik semua kegilaan ini?

Yang pasti, Orhan mencintai pekerjaannya. Ia bilang, “Saya menikmati saat duduk di meja tulis saya seperti seorang bocah sedang asyik dengan mainannya. Ini (menulis) adalah kerja, pada dasarnya, tapi ini menyenangkan dan juga permainan.”

Baca juga:   1984

Oh ya, Orhan juga bilang bahwa “tempat di mana kamu tidur atau tempat di mana kamu berbagi dengan pasanganmu seharusnya terpisah dari tempat di mana kamu menulis.” Siapa pun yang ingin menulis idealnya harus punya suatu ruangan khusus bagi dirinya untuk menulis, di mana ia benar-benar sendirian di sana, dan ini sangat penting. Bagi Orhan, “Lebih dari sebuah komitmen kepada seni atau keterampilan, di mana saya mengabdi, ini (menulis) adalah sebuah komitmen untuk menyendiri di sebuah ruangan.” Ia pun kemudian menegaskan bahwa keramaian membunuh imajinasinya, dan ia butuh nyerinya kesepian (pain of loneliness) untuk merangsang imajinasi bekerja.

Orhan Pamuk adalah novelis pascamodern yang mengklaim karya-karyanya sebagai karya eksperimental. Formula menulisnya: taruh beberapa konsep secara bersamaan. Contohnya novel The Black Book. Di sana ia menggabungkan gaya Proust dengan alegori-alegori islami, kisah cinta, petualangan ala detektif, dan permainan-permainan, lalu menghamparkannya pada latar Kota Istanbul yang legendaris. Ketika novel My Name is Red diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Serambi dengan judul Namaku Merah (Cetakan I: 2015), pada halaman endorsement kita dapat membaca dua komentar mengenai komposisi novel tersebut sebagai gambaran kepiawaian Orhan Pamuk dalam mengonstruksi sebuah cerita. Pertama, komentar dari Pikiran Rakyat: “Anda akan menemukan keasyikan bermain puzzle dengan latar belakang sejarah peradaban Islam yang diramu dengan cinta, seks, dan drama.” Kedua, komentar dari Tempo: “Novel ini campuran misteri, roman, dan teka-teki filosofis.” Pada novel The Red-Haired Woman Orhan meramu mitos kompleks Oedipus pada dua kisah klasik yang mewakili kebudayaan Barat dan Timur, yaitu Oedipus Sang Raja (sastra Yunani) dan Rostam dan Sohrab (sastra Persia), dengan filosofi menggali sumur, pengaruh cerita-cerita bagi kehidupan sehari-hari, kisah cinta, dan kasus kriminal menjadi sebuah cerita yang apik dan penuh kejutan. Kesemarakan dan kecanggihan semacam itulah arsitektur karya-karya Orhan Pamuk.

Baca juga:   Bahasa Indonesia di Tanah Haram (1)

Soal formula ini, Orhan menegaskan, “Ambil sejumlah resiko dan kamu akan datang dengan sesuatu yang baru.”

Sebagai pribadi yang gigih, tak heran pula bahwa Orhan Pamuk adalah sosok penulis yang perfeksionis. Ia adalah penulis yang tahan berlama-lama memeriksa, mengoreksi, dan membongkar tulisannya, mulai dari tataran paling detail, yaitu susunan kata dalam sebuah kalimat, untuk menghasilkan narasi yang terbaik. Ia bilang, “Rahasia dari menulis adalah penulisan ulang, penyuntingan sendiri, penyuntingan ulang, bacakan ke orang-orang yang kamu cinta, ke istrimu, ke putrimu, ke temanmu dan dengarkan cerita dari sudut pandang orang lain, jangan pernah menyerah pada standar tinggimu atas kriteria tulisan yang bagus, dan terus dan terus dan terus dan terus sunting dan sunting dan hapus, tak peduli berapa banyak waktu yang kamu beri demi halaman yang indah itu, mudah-mudahan itu bisa pula menjadi pantas.” Di sini kita menjadi maklum ketika ia mengaku bahwa proses kreatifnya lebih banyak dihabiskan untuk menyunting, melakukan sejumlah perombakan, dan menulis ulang. Itulah kunci keindahan tulisannya.

Orhan Pamuk adalah penulis yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan utamanya, bukan pekerjaan sampingan. Ia tak punya kesibukan lain melebihi menulis sepanjang hidupnya sejak ia berkomitmen untuk sungguh-sungguh menjadi penulis. Ia konsisten menulis. Bahkan, popularitas dan limpahan materi berkat kesuksesannya dalam menulis tak membuatnya menjadi lalai di kemudian hari. Usai menerima IMPAC Dublin Literary Award 2003–penghargaan yang berhadiah besar itu!–untuk novelnya My Name is Red, Orhan ditanya soal pengaruh hadiah itu bagi kehidupannya. Orhan menjawab, “Tiada yang berubah dalam hidup saya karena saya bekerja sepanjang waktu. Saya telah menghabiskan tiga puluh tahun untuk menulis karya sastra. Selama sepuluh tahun pertama, saya khawatir soal uang dan tak seorang pun bertanya berapa banyak uang yang saya hasilkan. Dalam sepuluh tahun kedua, saya menghabiskan banyak uang dan tak seorang pun bertanya tentang hal itu. Kini, saya telah menghabiskan sepuluh tahun terakhir dan setiap orang ingin tahu bagaimana saya menggunakan uang itu, suatu hal yang tidak akan saya lakukan.”

Baca juga:   Cerita dari Patani (3): Pengantin adalah Pelayan

Meski ia mengorbankan begitu banyak waktu dan tenaga untuk karir kepenulisannya, ternyata novel yang kemudian diterbitkannya tak bisa pula dibilang banyak, hingga tahun 2016, setelah lebih empat puluh tahun berkarya, cuma sepuluh. Ketika ia meraih Hadiah Nobel Sastra 2006, ia baru menerbitkan tujuh novel saja. Dan inilah poin penting lainnya yang perlu dicamkan: meski secara kuantitas karyanya relatif sedikit, tapi secara kualitas semua yang sedikit itu bukanlah karya yang medioker, apalagi abal-abal. Tak diragukan lagi bahwa semua karya itu merupakan hasil pengerahan segenap daya dan upayanya untuk suatu ambisi yang berorientasi mutu. Kualitas lebih utama daripada kuantitas. Ia memang sadar bahwa “banyak hal berubah dalam waktu singkat sehingga buku-buku hari ini mungkin akan dilupakan dalam waktu seratus tahun. Sangat sedikit yang akan dibaca. Dalam waktu dua ratus tahun mungkin lima buku yang ditulis hari ini akan bertahan. Yakinkah saya menulis salah satu di antara lima itu?”

Lihatlah bagaimana ia dalam berkarya memiliki pandangan jauh semacam itu. Kita tahu bahwa dari tahun ke tahun ada banyak buku bermunculan dan ada banyak buku pula yang terlupakan. Sebagian buku bisa eksis dan dibaca banyak orang hingga beberapa tahun, dan sedikit saja yang bernafas panjang hingga berpuluh-puluh tahun, apalagi berabad-abad. Dan itu biasanya adalah karya-karya adiluhung. Itulah standar tinggi Orhan Pamuk atas kriteria tulisan yang bagus dalam berkarya. Itulah yang selalu diupayakannya, semacam harga mati dan motivasi untuk mempersembahkan hasil yang terbaik pada pembaca. Dan karena itulah ia selalu kritis mengoreksi tulisannya ketika menggarap suatu karya, menyunting, menulis ulang, berkali-kali tanpa peduli lelah, persetan berapa banyak waktu yang harus dikorbankan sebelum karya itu benar-benar memuaskannya dan siap terbit untuk dibaca banyak orang. Ia sungguh tak pernah tanggung-tanggung dalam menghasilkan sebuah karya. Ia adalah penulis yang penyabar, gigih, berorientasi mutu, dan penuh dedikasi dalam berkarya. Watak seperti itulah yang telah membedakannya (baca: menonjolkannya) dari kebanyakan penulis yang pernah meramaikan jagat sastra selama ini. Yeah, bukankah hasil tidak pernah mengkhianati proses?

Tinggalkan balasan!