Cerita dari Patani (4): Pengantin adalah Pelayan

Foto pengantin di Patani. Sumber: kompasiana.com

“Ada lelucon yang dikatakan oleh masyarakat Patani sendiri bahwa jika hari pernikahan dan pesta dilaksanakan pada hari yang sama, maka pengantin tak akan berbuat apa-apa dimalam pertamanya, karena keletihan di siang hari.”

Secara geografis dulunya wilayah Patani termasuk wilayah kesultanan Melayu yang berdaulat. Namun karena ekspansi dan serangan Kerajaan Siam wilayah Patani akhirnya tunduk di bawah Kerajaan Siam yang kini dikenal dengan negara Thailand. Masyarakat Patani yang tinggal di Thailand Selatan tetap diberi kebebasan untuk menjalankan adat budaya Melayu Patani yang islami.

Namun karena proses asimilasi dengan kehidupan  dan budaya Siam, beberapa budaya dan adat Melayu sudah luntur, bahkan tidak dipakai lagi. Di antara sekian banyak budaya Melayu tersebut mungkin yang paling jelas terlihat adalah budaya saat pesta perkawinan yang berbeda  jauh dengan budaya adat melayu di tempat lainnya seperti di Malaysia.

Saat pertama sekali saya diajak ke pesta pernikahan salah seorang alumni mahasiswa jurusan bahasa Melayu di Kota Patani, saya menyaksikan banyak hal unik yang belum saya temui di pesta-pesta serupa di Indonesia.

Pertama, undangan langsung disambut oleh kedua mempelai pengantin. Kedua, jamuan makan di hidang layaknya seperti di rumah makan. Ketiga, Pengantin ikut melayani menghidang makanan untuk  para tamu undangan. Keempat, saya tidak melihat pengantin memakai baju adat daerah. Kelima, tamu berhak makan sepuasnya dan meminta makanan tambahan. Di antara hal unik tersebut yang menggelitik saya adalah pengantin melayani tamu dan ikut mengangkat hidangan jamuan makanan.  

Baca juga:   Cerita dari Patani (3): Pengantin adalah Pelayan

Sesaat tiba di rumah pesta, kami langsung disambut oleh dua mempelai pengantin. Kemudian kami diarahkan dan diantar ke tempat meja makan yang kosong. Setelah itu, para pelayan langsung mengangkat berbagai makanan hidangan pesta. Sekitar lima menit saat kami baru makan, pengantin laki-laki datang, dan melihat hidangan kami lalu dia berlalu dan datang lagi dengan membawa berbagai makanan tambahan lainnya. Bukan kami saja, meja jamuan lainnya juga didatangi oleh pengantin laki-laki dan perempuan, dan mereka juga ikut melayani dan mengangkat makanan.

Bila tamu sedang ramai maka mereka akan berdiri di depan untuk menyambut tamu, tetapi setelah itu mereka akan berkeliling ke setiap meja untuk memantau makanan  apa yang kurang. Mereka akan memerintahkan  pelayan pesta dan mereka juga ikut mengangkat sendiri makanan tersebut ke meja tamu undangan.

Tamu wajib makan sepuas-puasnya. Kalau ada makanan yang kurang atau sudah habis dalam hidangan yang diletakkan di atas meja, pelayan akan datang dan menambah lagi porsi makanannya. Dan dalam kondisi tersebut, para tamu juga boleh meminta langsung kepada pelayan untuk ditambahi hidangan makanannya.

Kedua mempelai terlihat sangat sibuk dan saya juga tidak melihat mereka duduk di pelaminan seperti layaknya raja dan ratu sehari.  Oleh karena itu pelaminan tempat duduknya biasa dan sederhana saja dan  tidak mencirikan seperti kebudayaan melayu pada umumnya. Pada beberapa pesta yang juga saya datangi, pelaminan hanya berupa kain biasa yang dipasang dengan pernik bunga-bunga kertas yang modern. Pengantin akan kembali ke pelaminan bila ada tamu undangan yang ingin berfoto bersama mereka. Lalu mereka kembali menjadi penyambut tamu dan pelayan para tamu.

Baca juga:   Ajai

Satu lagi yang menarik pengantin pria memakai baju ala Arab dengan gamis panjang dan peci haji atau sejenisnya. Sementara itu, mempelai perempuan terkadang memakai baju kebaya atau gamis.  Dalam beberapa kesempatan menghadiri pesta walimah di Patani, saya sering melihat pengantin  perempuan  memakai baju gaun panjang seperti mempelai perempuan Eropa, tetapi tetap memakai jilbab.

Adat budaya pengantin jadi pelayan dipesta hari pernikahannya adalah sesuatu yang fenomenal yang belum pernah saya temui di pesta-pesta  pernikahan mana pun di Indonesia. Ada lelucon yang dikatakan oleh masyarakat Patani sendiri bahwa jika hari pernikahan dan pesta dilaksanakan pada hari yang sama, maka pengantin tak akan berbuat apa-apa dimalam pertamanya, karena keletihan di siang hari. Oleh karena itu, kebanyakan pesta walimah  dalam masyarakat Patani dilaksanakan dengan selang waktu minimal seminggu atau sebulan dengan pesta walimah pernikahannya. Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada pengantin baru untuk berbulan madu di malam pertamanya. Sungguh sangat unik, bukan?        

Tinggalkan balasan!