Membaca itu Bertamasya

Foto penulis

Begitulah, membaca merupakan petualangan jiwa dan silaturahmi dengan jiwa-jiwa lain untuk memperkaya jiwa sebagai unsur terpenting dari diri manusia.

Riki Fernando

Saya membayangkan membaca seperti bertamasya. Seseorang membaca karena ia punya tujuan, yaitu untuk mencapai pemahaman tentang sesuatu, atau malah, kadang, tanpa tujuan yang jelas sama sekali, artinya hanya untuk sekadar bersenang-senang. Dalam bertamasya, seseorang pun punya destinasi, tetapi tak jarang juga tanpa destinasi. Artinya, ia hanya ingin keluar dari rumah, jalan-jalan mengelilingi kota tanpa tujuan yang pasti, sekadar memanjakan mata, menghirup udara di alam bebas, melihat peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di sekitar, lalu pulang.

Nah, berdasarkan analogi sederhana ini, saya akan membahas beberapa soal kebahasaan membaca secara sederhana pula. Mungkin analogi yang saya tulis tak sepenuhnya tepat, tetapi harapan saya ia tetap bisa memberi sudut pandang yang sedikit memperkaya pemahaman kita tentang beberapa masalah membaca.

Jika membaca itu seperti bertamasya, teks adalah jalan, akal adalah kendaraan, dan kesadaran adalah pengendara. Karena teks terdiri atas rangkaian kata; rangkaian kalimat; rangkaian paragraf yang mengandung makna, ia dapat menjadi jalan yang mudah atau jalan yang susah bergantung pada makna-makna dalam satuan-satuan bahasa tersebut. Situasi ketika si pembaca menemukan kalimat-kalimat yang susah dipahami dalam teks dapat diibaratkan sebagai seorang pengendara yang sedang melewati jalan yang berliku dan menanjak, sehingga ia mesti pelan-pelan dan lebih berkonsentrasi dalam berkendara. Begitu juga dengan teks yang mudah dipahami, si pengendara bisa memacu kendaraannya dalam kecepatan normal, santai, atau ngebut-ngebut kalau mau.

Sebagaimana jalan yang baik adalah jalan yang mulus dan bersih, teks yang baik adalah teks yang bahasanya tersusun rapi sesuai dengan logika kaidah bahasa yang benar pula. Coba baca contoh berikut! “Dengan melakukan proses pemalsuan itu, akhirnya membawa Zarri Bano mendapatkan kembali arloji kesayangannya.”

Kita mungkin tetap bisa memahami maksud kalimat tersebut, tapi bukankah ada sesuatu yang mengganggu dan bikin tidak nyaman ketika membacanya? Pada kalimat tersebut kata “membawa” merupakan batu pengganggu yang mestinya disingkirkan. Itu sekadar contoh sederhana saja. Nah, bayangkan jika dalam suatu teks terdapat beberapa pembahasan yang pada dasarnya sudah tergolong rumit atau berat atau susah dipahami, lalu dipaparkan pula menggunakan bahasa yang logikanya centang perenang.

Baca juga:   Mengapa Bahasa Jawa Tidak Menjadi Bahasa Persatuan Negara Republik Indonesia?

Ibarat dalam tamasya, teks tersebut adalah jalan berliku yang menanjak, tak beraspal, tanahnya bergelombang, berbatu-batu, dan di sana-sini penuh lubang. Bah, tega sekali penulisnya! Syukur jika si pembaca, setelah berlambat-lambat, berlapang dada, dan dengan penuh kehati-hatian mencerna kata demi kata, berhasil memahami makna teks tersebut dengan baik. Kalau tidak? Bagaimana kalau si pembaca kemudian jadi pusing dan menutup buku dengan kecewa? Ini berarti kendaraan si pengendara telah mogok di tengah jalan, dan ia butuh perbaikan, bahkan kalau bisa peningkatan kualitas mesin untuk menunjang penaklukan medan yang ganas itu.

Bagaimana kalau si pembaca malah jadi frustasi, melempar buku ke sudut lantai, dan bersumpah tak akan lagi membaca buku untuk selamanya? Dalam keadaan ekstrem ini, mari kita bayangkan saja bahwa kendaraan si pengendara telah jatuh ke jurang, dan si pengendara jadi mampus. Begitulah barangkali.

Akal adalah kendaraan. Dalam konteks ini, saya tak menganalogikan membaca dengan bertamasya tanpa berkendara, alias jalan kaki. Tidak. Bahkan, biar lebih mudah, kendaraannya saya khususkan saja menjadi mobil. Nah, kita tahu, mobil ada banyak macamnya, dengan tingkatan mesin yang beragam pula. Jika ia adalah akal, maka variasi kecanggihan mesin mobil tersebut bisa dibilang sebagai variasi tingkat kecerdasan manusia pula. Manusia normal sejatinya adalah orang yang cerdas, tetapi sebagian kecil ada yang tak senormal itu, dan sebagian kecil lainnya ada yang lebih canggih daripada normal. Bukankah dalam membaca, ada orang-orang yang mudah dan cepat memahami tulisan-tulisan yang membahas perkara rumit? Barangkali kelompok inilah yang bisa disebut mempunyai kendaraan yang kapasitas mesinnya besar, serta onderdil yang bagus, di samping pengendaranya yang juga jago atau berpengalaman mengendarai mobil.

Bicara soal si pengendara yang tadi telah saya analogikan sebagai kesadaran dalam diri si pembaca, ia sebenarnya merupakan satu kesatuan dengan mobilnya. Pengendara yang terlatih (baca: kaya pengalaman) merupakan kesadaran seseorang terhadap betapa pentingnya membaca bagi kehidupan, dan itu ia dapatkan dari pengalaman membaca tulisan-tulisan tentang pentingnya membaca, atau ia peroleh sendiri dari perenungannya terhadap peran bacaan bagi peradaban umat manusia dalam sejarah. Semakin sadar seseorang bahwa membaca itu sangat penting, dan semakin mendarah-daging kesadaran itu dalam dirinya, maka pasti ia akan menjadikan membaca sebagai kebutuhannya, sehingga kemudian otomatis menjadi kebiasaannya, dan kebiasaan itulah yang membuatnya jadi terlatih.

Baca juga:   Penamaan Bahasa Sigulai: Sudah Tepatkah?

Mobil yang bermesin bagus, jika dikemudikan oleh pengendara yang tidak jago, lajunya akan biasa juga. Sementara itu, orang yang berakal cerdas, jika ia tak punya kesadaran yang mantap terhadap pentingnya membaca, daya membacanya tak akan kuat juga ketika berhadapan dengan teks yang sulit atau rumit, apalagi yang disajikan dengan bahasa yang logikanya bikin minta ampun.

Sekarang mari kita berbelok ke arah persoalan lain: teks. Dalam teks, kita tahu ada gaya bahasa. Jika tadi teks dianalogikan sebagai jalan, maka gaya bahasa ini adalah arsitektur jalan tersebut. Ada jalan yang dibangun dengan gaya yang polos saja, dan ketika kita melewatinya lama-lama, kadang terasa membosankan, meski secara fungsi ia tetap efektif mengantarkan kita ke tujuan.

Di kota lain, ada jalan yang dibangun dengan arsitektur yang menarik, katakanlah di kiri-kanannya terdapat pohon-pohon hijau yang memberi keteduhan dan bikin udara terasa sejuk, kadang ada taman-taman yang memamerkan bunga-bunga cantik, dan kadang, di sejumlah persimpangan, ada pula tugu-tugu bernilai seni tinggi yang memanjakan mata, sehingga perjalanan jauh yang kita tempuh jadi begitu menyenangkan.

Jika malam tiba, kita bisa melihat lampu-lampu jalan yang tak hanya terang-benderang, tetapi juga berdesain menarik. Semua itu kita nikmati sebagai hasil kesadaran dan kerja keras pemerintah dalam membangun jalan sebagai akses ke sejumlah tempat. Begitu pun dalam membaca, teks yang bergaya bahasa ciamik, yang membuat kita tidak bosan selama membaca berjam-jam, merupakan hasil kesadaran dan kerja keras penulis dalam menyusun tulisannya.

Kita tahu, tanpa pemerintah harus repot-repot membangun jalan yang bagus untuk para pengguna jalan, kita akan tetap bisa sampai ke tempat tujuan dengan menempuh keadaan jalan yang seadanya. Akan tetapi, percayalah, pengendara tak akan bergairah menggunakan jalan itu, apalagi membuat pengguna jalan menjadi ketagihan untuk bertamasya. Dalam membaca pun juga begitu. Kita menyukai kenyamanan. Selain itu, arsitektur yang indah, canggih, dan tertata rapi jelas menunjukkan ketinggian budaya masyarakat penciptanya, dan sebaliknya: arsitektur yang seadanya, apalagi yang dirancang secara serampangan, merupakan bentuk kerendahan budaya masyarakat penciptanya pula. Dalam konteks berbahasa pun juga begitu.

Baca juga:   Jalan Terjal Pelestarian Bahasa

Meskipun pada dasarnya manusia lebih cenderung kepada segala sesuatu yang nyaman, kadang ia tertarik pula kepada hal-hal yang susah, repot, atau bahkan mengancam nyawa. Memang, tamasya tak selalu identik dengan senang-senang belaka. Kadang daya tarik tamasya lebih terletak pada bahaya yang ditawarinya, meski ujung-ujungnya itu demi kepuasan yang langka setelah kita berhasil melewati (baca: menaklukkan) bahaya-bahaya tersebut. Ada sensasi yang membanggakan, semacam rasa yang prestisius atau semacamnya.

Nah, membaca kadang bisa pula menjadi suatu tamasya yang menantang, semacam tur panjang yang melintasi banyak medan sulit (baca: banyak tanjakan, banyak simpang, dan banyak belokan tajam), tapi kita bergairah karena itu. Sebagai variasi, seorang pecandu petualangan mungkin akan berpikir untuk mencoba suatu tantangan baru, semacam destinasi lain yang lebih asing; tamasya yang membutuhkan energi lebih banyak, konsentrasi lebih tinggi, dan kepiawaian mengemudi lebih super, tapi memberi kepuasan yang lebih besar pula setelahnya. Kondisi ini bisa kita samakan dengan gairah pembaca yang mulai tertarik untuk menjelajahi bacaan-bacaan yang terkenal rumit, berat, tapi berkelas. Katakanlah, sebagai contoh, bacaan-bacaan itu sejenis karya filsafat atau mistik.

Bagaimanapun, membaca merupakan perjalanan dalam kepala si penulis. Ketika membaca, pembaca mengarungi gagasan-gagasan si penulis dan berusaha menuju inti dari gagasan-gagasan tersebut tanpa tersesat. Orang bijak mengatakan bahwa banyak membaca akan memperluas cakrawala. Semakin banyak pembaca bertamasya dalam kepala banyak penulis, semakin banyak mengarungi gagasan, semakin luas daya jelajahnya, semakin mudah baginya melihat keterkaitan antara gagasan satu dan gagasan-gagasan lainnya, dan semakin mudah pula baginya memetakan suatu konsep atau tema atau persoalan.

Begitulah, membaca merupakan petualangan jiwa dan silaturahmi dengan jiwa-jiwa lain untuk memperkaya jiwa sebagai unsur terpenting dari diri manusia. Karena faedahnya begitu besar, membaca mestinya disikapi sebagai suatu kesenangan yang memberi gairah untuk senantiasa menjelajah demi mengenal dunia, sejarah, dan Ilah sehingga kita bisa menemukan syukur bahwa hidup betapa luar biasa.

Tinggalkan balasan!