Sekilas Gerakan Literasi Nasional (GLN): Tugas Masih Berat

Dr. Tengku Syarfina, M.Hum. menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Bimbingan Teknis Fasilitator Literasi Baca-Tulis Tingkat Regional Sumatera di Pekan Baru Riau, 17 Juni 2019.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan GLN (Gerakan Literasi Nasional) pada tahun 2016 sebagai induk gerakan literasi secara nasional untuk menyinergikan berbagai program dan kegiatan lintas sektor.

GLN merupakan bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Pada tahun 2017 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) ditunjuk sebagai koordinator GLN.

Banyak pembaca yang tidak asing lagi dengan istilah Gerakan Literasi Nasional (GLN). Meskipun demikian, tidak sedikit yang masih bertanya-tanya: apa sebenarnya GLN itu? Maklum, istilah ini memang relatif baru.

Pengertian dan tujuan

Gerakan Literasi Nasional (GLN) merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat sinergi antarunit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia.

Gerakan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup.

Pemerintah menyadari bahwa peningkatan literasi bangsa sulit berhasil tanpa melibatkan seluruh komponen bangsa. Pemerintah bersama pemangku kepentingan lain (perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, organisasi sosial, pegiat literasi, orangtua, tokoh masyarakat, termasuk dunia usaha dan media massa) harus berbagi peran untuk bahu-membahu berkontribusi dalam setiap kegiatan literasi.

Dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional, GLN merupakan gerakan nasional yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk menyinkronkan seluruh program literasi yang sudah berjalan pada setiap utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan penyinergian segenap potensi serta perluasan keterlibatan publik dalam pengembangan budaya literasi untuk meningkatkan indeks literasi nasional.

Latar Belakang

Gerakan ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil survei tentang keberliterasian dan indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia yang tidak memuaskan. Perlu upaya lebih serius agar generasi muda Indonesia siap berperan aktif dalam kancah pergaulan global abad ke-21 di berbagai bidang demi kemajuan bangsa dan negara.

Buku Panduan GLN mengutip beberapa data terkait. Data IPM yang dirilis Badan Program Pembangunan PBB/United Nations Development Program (UNDP) misalnya menunjukkan bahwa IPM Indonesia pada tahun 2013 hanya berada di peringkat 108 dari 187 negara; jauh di bawah negara ASEAN lainnya.

Baca juga:   Balada Retorika

Survei lain tentang literasi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016 juga menempatkan Indonesia dalam posisi cukup memprihatinkan, yaitu urutan ke-60 dari 61 negara.

Hasil survei Progamme for International Student Assessment (PISA) 2015 juga tak jauh berbeda. Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara. Selama kurun waktu 2012–2015, skor PISA untuk membaca hanya naik 1 poin dari 396 menjadi 397, sedangkan untuk sains naik dari 382 menjadi 403, dan skor matematika naik dari 375 menjadi 386.

Melengkapi beberapa survei di atas, Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI)/Indonesia National Assessment Programme (INAP) yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains bagi anak sekolah dasar juga menghasilkan kesimpulan yang menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia sangat lemah. Secara nasional, yang berada pada kategori kurang perbidang adalah: matematika (77,13%; membaca (46,83%); dan sains (73,61%).

Prinsip, ranah, dan dimensi GLN

Gerakan ini dilaksanakan secara berkesinambungan, terintegrasi, kolektif, dan menyeluruh (pada ranah keluarga, sekolah, dan masyarakat) (Kemendikbud, 2017:1-5).

Fokus utama GLN adalah 6 aspek literasi dasar: baca-tulis, numerasi, sains, finansial, digital, dan budaya & kewargaan. Pelaksanaannya berlangsung secara simultan pada tiga ranah pendidikan (sekolah, keluarga, dan masyarakat) melalui program yang dikenal sebagai Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi Masyarakat.

Strategi GLN

GLN tidak hanya berlangsung di sekolah, melainkan berjalan simultan dengan dua ranah pendidikan lain (keluarga dan masyarakat). Fokusnya mencakup 6 literasi dasar (baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, dan budaya dan kewargaan).

Agenda peningkatan literasi bangsa melalui GLN akan menempuh lima strategi utama. Kelima strategi tersebut adalah: kapasitas fasilitator, jumlah dan ragam sumber belajar bermutu, akses terhadap sumber belajar dan cakupan peserta belajar, pelibatan publik, serta tata kelola. Kelima strategi ini diterapkan di setiap ranah literasi dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing.

Program dan kegiatan

Sehubungan dengan hal tersebut, sejak 2017, Badan Bahasa selaku koordinator telah melaksanakan berbagai kegiatan, di antaranya: penajaman konsep GLN, diskusi kelompok terpumpun dengan pakar dan pegiat literasi, lokakarya penyusunan peta jalan, panduan, dan materi pendukung GLN, diskusi kelompok terpumpun dengan Kementerian/Lembaga, koordinasi dan sinkronisasi kegiatan lintas unit utama, pelatihan fasilitator GLN nasional dan regional, sosialisasi, pembinaan komunitas baca, dan pelatihan praktik baik literasi.

Baca juga:   Guru dan Pustakawan Ikuti Diseminasi GLN di Takengon

Selain dapat mengakses langsung laman GLN sebagai pusat informasi seluk-beluk dan perkembangan serta sumber rujukan pelaksanaan berbagai programnya, pembaca dapat mengunduh beberapa referensi penting GLN berikut: Peta Jalan GLN; Modul dan Pedoman Pelatihan Faslitator GLN; Panduan GLN; Pedoman Evaluasi dan Penilaian GLN.

Bagaimana beberhasilannya? Selain masih terlalu dini, mengukur keberhasilan GLN dengan satu instrumen uji lalu menarik kesimpulan umum tentu sulit dan rentan bias, mengingat banyaknya kegiatan dan program/kegiatan yang berlangsung pada berbagai ranah oleh unit yang beragam pula. Akan lebih bijaksana jika setiap evaluasi mengacu pada jenis kegiatan, tempat, dan waktu pelaksanaannya. Jadi, setiap unit pelaksana bertanggung jawab atas hasil dan capaian prorgam yang telah dilaksanakan.

Namun demikian, hasil-hasil penelitian tentang tingkat literasi dan kemampuan pelajar Indonesia, misalnya oleh UNESCO atau OECD melalui PISA (Programme for International Student Assessment) misalnya merupakan informasi dan acuan penting untuk melihat potret capaian kinerja pelaksanaan GLN maupun pendidikan nasional secara umum.

Catatan indeks literasi dari survei-survei tersebut merupakan input berharga dalam mengevaluasi ketepatan, efektivitas, dan efisiensi berbagai program kegiatan GLN terutama yang dilaksanakan oleh unit-unit kerja instansi pemerintah.

Survei terbaru PISA

Patut digaris bawahi bahwa indeks literasi pelajar Indonesia untuk membaca, matematika, dan sains dalam beberapa tahun terkahir cenderung stagnan dan masih berada di bawah rerata OECD. Studi PISA menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan Matematika, Membaca, dan kinerja Sains dari tiap anak.

Laporan hasil studi PISA 2018 yang dirilis pada Selasa (3/12/2019) menunjukkan bahwa untuk kategori kemampuan Membaca, Indonesia berada pada peringkat peringkat ke-74 dari 79 negara. Untuk kategori Matematika, Indonesia berada di peringkat ke-73 dengan skor rata-rata 379. Pada bidang Sains, Indonesia berada di peringkat ke-71, yakni dengan rata-rata skor 396.

Penjelasan hasil survei PISA merinci bahwa di Indonesia hanya 30% peserta didik mencapai kemampuan level 2 dalam membaca, padahal rerata negara OECD adalah 77%. Untuk membaca di level 5, rerata negara OECD di 9% sedangkan Indonesia 0%. 

Baca juga:   Inilah 14 Ranah Wajib Bahasa Indonesia

Pada bidang Matematka, hanya sekitar 28% saja anak Indonesia yang mencapai level 2, sementara rerata negara OECD adalah 76%. Pada level 5, rerata negara OECD berada pada angka 11%, sedangkan Indonesia hanya 1%. 

Untuk sains, jumlah siswa Indonesia yang mampu mencapai level 2 hanya 40%, jauh kalah dibandingkan rerata negara OECD yang berjumlah 78%. Tidak ada siswa Indonesia yang mencapai level 5, padahal rerata negara OECD mencapai 7%.

Alarm keras peningkatan literasi/pendidikan

Dibandingkan dengan hasil survei 2015, capaian tersebut mengalami penurunan. Pada survei tersebut, secara berturut-turut skor Membaca, Matematika, dan Sains adalah 397, 386, dan 403. Tragisnya, skor untuk Membaca mengalami penurunan terendah, bahkan lebih rencah dari skor tahun 2012 yaitu 396.

Survei di atas memperlihatkan secara jelas posisi indeks literasi Indonesia di antara negara-negara berkembang. Namun lebih dari itu, data yang dihasilkanya sekaligus menerangkan kepada kita bahwa kemampuan ilmu-ilmu dasar peserta didik Indonesia sangat memprihatinkan. Bahkan untuk bidang kemampuan membaca (sebagai fondasi bagi literasi lain), anak-anak Indonesia masih cukup jauh tertinggal.  

Mungkin agak berlebihan untuk mengatakan bahwa GLN telah gagal. Namun demikian, jika bercermin dari hasil survei di atas, sejauh ini berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam lingkup GLN tampaknya belum memberikan dampak signifkan bagi peningkatan indeks literasi nasional serta perbaikan mutu pendidikan secara umum.

Karena baru berjalan sekitar dua tahun, alasan waktu mungkin masih masuk akal. Namun hasil survei terbaru PISA patut menjadi alarm dan peringatan keras bahwa masih banyak yang perlu kita perbaiki agar agenda peningkatan literasi bangsa melalui GLN tidak hanya sekadar slogan.

2 thoughts on “Sekilas Gerakan Literasi Nasional (GLN): Tugas Masih Berat

Tinggalkan balasan!