Tantangan Konservasi Meurukon

Pengumpulan naskah syair-syair Meurukon di Desa Pulo Ie Meunasa Dua, Jangka, Bireun. Foto: Subhan/Balai Bahasa Provinsi Aceh.

Sebelum maraknya perkembangan media massa (televisi dan radio), teknologi informasi dan komunikasi, internet, dan teknologi hiburan, kegiatan meurukon merupakan salah satu wahana dakwah, pendidikan keagamaan sekaligus sekaligus sarana hiburan rakyat.

Seni pertunjukan ini mempertontonkan tanya-jawab (debat) masalah keagamaan Islam oleh dua kelompok atau lebih menggunakan bahasa puitis (syair) yang digubah dalam bait-bait yang disebut rukon.

Karena materi tanya-jawab sering kali lebih banyak berkisar pada masalah tauhid, di daerah Aceh Besar, meurukon kerap disebut meusifeut (membahas sifat-sifat Allah Swt. dan Rasul).

Selain aktif berlatih di meunasah atau balai-balai pengajian, kelompok-kelompok meurukon kerap menyemarakkan berbagai acara sosial maupun kegiatan keagamaan.

Mereka tampil tidak hanya di daerahnya. Ada tradisi saling mengundang dalam komunitas meurukon lintas daerah, baik untuk sekadar eksibisi maupun untuk tunang (bertanding) pada waktu-waktu tertentu.

Dalam tradisi ini, syekh (Aceh: syeh) dan grup meurukon tertentu, karena reputasinya, menjadi sangat populer dan dihormati di berbagai daerah.

Kini, berbarengan dengan semakin minimnya grup rukon yang masih eksis, seni yang dapat disebut sebagai salah satu tradisi lisan khas Aceh sudah jarang ditampilkan, apalagi dipertandingkan.

Situasi ini menunjukkan bahwa eksistensi seni meurukon dewasa ini semakin terancam, bahkan di beberapa daerah telah hilang. Akhir-akhir ini, meurukon relatif hanya dapat ditemui di desa-desa tertentu di wilayah Bireun, Aceh Utara, dan Aceh Timur.

Selain faktor eksternal berupa perubahan sosial akibat modernisasi berbagai aspek kehidupan masyarakat yang berdampak pada perubahan tradisi, nilai, struktur sosial, serta tata cara  orang-orang mengakses informasi, pendidikan, maupun hiburan, faktor lain yang cukup berpengaruh pada tingginya kerentanan meurukon adalah hilangnya tokoh-tokoh utama tanpa waris.

Baca juga:   SABAB KAMENG

Kondisi ini sebenarnya bukanlah khas meurukon. Hampir semua seni sastra yang mengandalkan teknologi ingatan mengalaminya, di Aceh maupun di tempat lain.

Ketika para syekh (guru-guru utama) wafat, mereka sangat jarang meninggalkan penerus. Dengan berbagai alasan, murid-murid yang masih tersisa tidak lagi berlatih dan aktif meurukon.

Karena proses kaderisasi yang tidak berjalan baik, mereka yang mencoba bertahan menghadapi masalah keterbatasan keilmuan dan kepenyairan. Itulah sebabnya, kini, para syekh cenderung hanya mengandalkan syair-syair meurukon lama yang mereka warisi, baik melalui hafalan maupun tulisan, nyaris tanpa pengembangan dan pembaharuan.

Situasinya semakin genting karena para syekh tampaknya memiliki kecenderungan untuk tidak mewariskan seluruh pengetahuan dan syair yang dimilikinya. Di sisi lain, karena persaingan tidak sehat, banyak syekh dan grup meurukon yang dengan sengaja berusaha menyembunyikan koleksi rukon yang mereka miliki.

Dalam perang persaingan ini, koleksi syair meurukon telah berubah menjadi senjata rahasia kelompok untuk melumpuhkan lawan sehingga harus diproteksi sedemikian rupa. Jika bukan senjata rahasia, tampaknya koleksi itu telah coba diposisikan sebagai kekayaan intelektual yang karena hak ciptanya tidak terjamin harus disembunyikan agar tak bisa diakses oleh sembarang orang.

Jadi, jangan heran jika khazaanah syair  meurukon semakin hari semakin menipis dan sulit didapat! Padahal, ketersediaan dan penguasaan syair-syair tersebut (selain kompetensi keilmuan tentunya) sangat fundamental ketika kemampuan menggubah syair-syair baru secara spontan sudah semakin langka.

Baca juga:   Hudep Nyoe

Lambat laun, proses regenerasi dan pembinaan kelompok pun mulai mandek dan akhirnya banyak yang bubar (mati).

Hilangnya empunya atau katakanlah waris kitab/koleksi syair adalah masalah besar, tetapi ada masalah lain yang turut menghantui upaya-upaya pelestarian meurukon, yakni sikap ketertutupan.

Sudi tak sudi, satu per satu syekh atau mereka yang menguasai syair-syair rukon akan pergi. Negosiator ulung sekalipun, tak bisa berkompromi dengan kematian. Tetapi ketertutupan adalah sikap sosial yang sifatnya dinamis dan oleh karena itu dapat dipengaruhi.

Sebagai seni pertunjukan rakyat, siapa pun sesungguhnya dapat menyaksikan meurukon; mengamati gerak dan posisi duduk para pesertanya; menyimak masalah yang mereka bahas; serta menikmati lengkingan suara dendang syair khas meurukon yang bersahutan, bahkan sambil menikmati kopi dan kacang rebus.

Singkatnya, semua penonton memiliki akses penuh terhadap segala hal yang berlangsung di panggung. Dengan begitulah tradisi lisan ini menjalankan fungsi sosialnya (dakwah, pendidikan, kritik sosial, dan hiburan) dengan baik.

Jadi, upaya menyembunyikan syair-syair rukon merupakan tindakan yang ganjil karena dengan sendirinya bertentangan dengan karakter sejati tradisi meurukon.

Meskipun ganjil, tetapi fenomena tersebut memang tidak bisa dipungkiri dan sedikit banyak telah memengaruhi kelestarian tradisi meurukon. Oleh karena itu, agar tetap hidup dan berkembang, upaya-upaya yang sungguh dan berkelanjutan tetap saja dibutuhkan.

Proses identifikasi dan survei awal para syekh dan grup meurukon yang masih bertahan serta dokumentasi syair-syair yang mereka pakai merupakan langkah penting yang harus segera dilakukan. Pada saat yang bersamaan, penelusuran berbagai naskah rukon dari berbagai sumber dalam berbagai bentuk juga harus gencar dilakukan.

Baca juga:   Kontroversi Penghargaan Sastra

Selain memperoleh gambaran profil komunitas meurukon pada setiap daerah, kedua langkah strategis di atas paling tidak juga akan menghasilkan koleksi syair rukon dari berbagai sumber yang dapat disusun sedemikian rupa agar lebih mudah diakses oleh semua kalangan.

Upaya di atas dapat dilakukan secara berkesinambungan sampai diperoleh data yang relatif lengkap sambil mempertimbangkan langkah-langkah konservasi lanjutan (misalnya pembinaan kelompok, pelatihan, festival, dan penghargaan).

Pada sisi lain, mengingat meurukon dan berbagai tradisi lisan lainnya merupakan kekayaan budaya masyarakat, upaya pelestarian seyogyanya harus melibatkan mereka sejak awal. Mengandalkan pendekatan top-down semata acap kali tidak berdampak lama.

Tinggalkan balasan!