Belajar Kembali Penulisan Partikel -pun

 Saya termasuk yang masih bingung dengan pemakaian dan penulisan kata -pun , padahal telah berulang kali mempelajarinya. Setiap kali menemukan kata ini dalam tulisan, saya kerap mencoba memahami pemakaiannya dan memeriksa cara penulisannya; tepat atau keliru.

Begitu pula ketika hendak memakai kata tersebut, tak jarang saya harus berhenti sejenak sambil berpikir keras agar tak salah pakai maupun salah tulis. Adakah di antara pembaca yang mengalami hal yang sama? Jika ya, berarti Anda termasuk golongan yang masih belum mahir berbahasa Indonesia. Sama seperti saya he he he.

Tulisan singkat ini merupakan hasil belajar saya untuk kesekian kalinya tentang kata -pun . Kali ini saya menuliskan rangkumannya karena orang pintar berpetuah, “tulisan membantu ingatan”.

Kelas Kata, Makna, dan Pemakaian –pun

Pemahaman tentang ketiga aspek ini amat fundamental dalam memahami seluk-beluk –pun . Itu pelajaran penting yang saya peroleh sehingga saya meletakkannya di awal. Informasi dari KBBI Daring cukup untuk menjelaskan hal ini.

Sebagaimana tampak pada tangkapan layar di atas, ­-pun  merupakan partikel (p). Kata yang termasuk partikel biasanya bersifat statis atau tidak mengalam perubahan bentuk sebagaimana kata kerja atau kata benda misalnya. Selain -pun , partikel lain dalam bahasa Indonesia adalah -lah, -kah, dan -tah.

Dari segi makna, partikel sama seperti kata sambung atau kata depan. Kata ini tidak memiliki makna leksikal dan hanya memiliki arti ketika berada dalam kalimat (makna gramatikal).

Dalam KKBI Daring, partikel ini memiliki setidaknya lima makna berbeda sesuai dengan konteks kalimat. Kelima makna tersebut adalah: (1) juga atau demikian juga; (2) meski, biar, kendati; (3) saja; (4) sesuatu mulai terjadi; dan (5) menegaskan, menguatkan atau menyatakan pokok kalimat. Anda dapat melihat kembali kelima makna tersebut serta contoh kalimatnya pada tangkapan layar di atas.

Baca juga:   Penamaan Bahasa Sigulai: Sudah Tepatkah?

Agar lebih paham, saya membuat contoh kalimat lain di bawah ini.

  • Dia -pun  tahu perbuatan mereka selama ini (juga).
  • Sampai malam -pun , aku akan menunggumu (meski, biar, kendati).
  • Siapa pun yang datang, pasti dimuliakannya (saja).
  • Setelah beberapa saat, dia pun siumanlah (mulai).
  •  Tanpa basa-basi, kelompok itu pun meminta bagian pula (menegaskan pokok kalimat)

Partikel -pun dengan empat makna pertama (juga, meski, saja, dan mulai) jauh lebih sering digunakan. Pola-pola kalimat yang mengandung ­-pun dengan pengertian demikian, hemat saya juga cenderung lebih umum pemakaiannya.

Kalimat senada contoh (5) di atas jarang saya temukan. Pemakaian -pun dalam pola kalimat demikian tampaknya lebih sebagai penegasan saja, bukan menunjukkan arti tertentu.  Oleh karena itu, andai partikel -pun dibuang pada contoh kalimat tersebut, makna yang dipahami relatif sama.  

Penulisan partikel -pun

Sama dengan -lah, -kah, dan -tah, partikel -pun selalu berada di belakang kata lain. Oleh karena itu, dalam artikel ini, partikel tersebut diawali tanda hubung pendek (-) untuk menunjukkan unsur (kata) tertentu yang mendahuluinya.

Masalahnya, apakah partikel tersebut ditulis bersambung dengan kata yang mendahuluinya atau dipisah? Inilah yang sering membingungkan.

Tiga partikel lain (-lah, -kah, dan -tah) selalu ditulis menyatu dengan kata yang mendahuluinya, tetapi -pun tidak. Ada kalanya ia ditulis bersambung, tetapi ada kalanya pula ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya.

Bagaimana cara paling mudah mengenali -pun ­yang terpisah dan yang bersambung?

Partikel -pun yang terpisah

Pengetahuan tentang makna –pun akan sangat membantu dalam memahami tata cara penulisannya partikel ini dalam kalimat. Salah kaprah pada umumnya bermula dari kealpaan bahwa ­kata ­-pun memiliki empat arti tersendiri dan satu fungsi penegas pokok kalimat yang dapat dipahami berdasarkan konteks kalimat.  Cobalah periksa lagi contoh-contoh di atas!

Baca juga:   Tantangan Konservasi Meurukon

Nah! Ketika partikel -pun mengandung salah satu makna juga, meski, biar, kendati, saja, atau mulai, saat itulah ia ditulis terpisah dengan kata di depannya.

Partikel -pun yang demikian pada dasarnya merupakan kata penuh yang bersinonim dengan kata-kata tersebut. Jadi, partikel -pun yang termasuk dalam kelompok ini dapat digantikan oleh salah satu dari kata-kata tersebut. Dengan demikian, ia ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya sebagaimana kalau kita menulis kata-kata tersebut.

Dalam contoh berikut, saya akan mencoba menggantikan partikel -pun  dengan kata semakna untuk memperjelas partikel -pun  yang ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

  • Jika tak setuju, saya pun tidak akan memaksa.
    • Jika tak setuju, saya juga tidak akan memaksa.
  • Ketika kamu bersikap hormat, orang pun akan hormat.
    • Ketika kamu bersikap hormat, orang akan hormat pula.
  • Jangankan seribu, lima ratus perak pun akan ditagihnya.
    • Jangankan seribu, lima ratus perak saja akan ditagihnya.
  • Datanglah, kapan pun engkau mau!
    • Datanglah, kapan saja engkau mau!
  • Punya mobil pun, tak perlu sombong.
    • Biar punya mobil, tak perlu sombong.
  • Sakit pun, saya akan datang.
    • Meski sakit, saya akan datang.
  • Amarahnya pun memuncaklah
    • Amarahnya mulai memuncak.

Berdasarkan contoh-contoh di atas, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pun yang terpisah dari kata yang mendahuluinya adalah didahului kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat.

Lalu kapan partikel -pun ditulis bersambung?

Partikel -pun yang bersambung

Penulisan ­-pun yang bersambung dengan kata yang mendahuluinya jauh lebih mudah dipahami. Kapan saja partikel ini tidak memiliki makna tersendiri sebagaimana telah kita diskusikan di atas, maka ia ditulis menyatu dengan kata di depannya.

Partikel -pun yang termasuk dalam kelompok ini merupakan unsur klitika yang tidak dapat berdiri sendiri. Ia ditulis serangkai dengan kata lain sebagai unsur pembentuk kata penghubung.

Baca juga:   Balai Bahasa Provinsi Aceh Mengirim Lima Pegawai untuk menjadi Penyuluh Bahasa

Sebagian contoh berikut saya kutip dari PUEBI. Giliran Anda membuat contoh lain sebanyak-banyaknya.

  • Meskipun  sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
  • Biarpun kaya, keluarganya tetap hidup sederhana.
  • Dia tetap bersemangat walaupun  lelah.
  • Kalaupun harus kembali, pekerjaan kita sudah tuntas.
  • Adapun  penyebab kemacetan itu belum diketahui.
  • Bagaimanapun  pekerjaan itu harus selesai minggu depan.

Sebagai pengingat, partikel -pun yang ditulis serangkai sebagai pembentuk konjungsi terdapat dalam 12 kata yang sudah dianggap padu dan telah dibakukan KBBI. Konjungsi tersebut adalah: adapun, biarpun, ataupun, maupun, kendatipun, sungguhpun, sekalipun, walaupun, andaipun, kalaupun, meskipun, bagaimanapun.

Kesimpulannya, partikel -pun yang ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya merupakan unsur pembentuk kata penghubung.

Sebagai penutup, coba perhatikan penulisan partikel -pun dalam beberapa kalimat di bawah ini? Bisakah Anda mengenali penempatan dan penulisan -pun yang tepat dan keliru dalam contoh-contoh tersebut?

  • Pun demikian, polisi tidak berwenang untuk melarang pelaksanaan demonstrasi.
  • Banyak bicara bisa merusak otak, pun demikian tidak Sarapan dan begadang.
  • Ada pun saya tak akan mengambilnya
  • Sekali pun dipaksa bubar, para pengunjuk rasa bergeming.
  • Mau pun, kesempatan sudah berlalu.
  • Tua maupun muda sama saja.

Bagaimana? Masih bingung?

Tinggalkan balasan!