Ilustrasi otak kanan dan otak kiri (Sumber: Pixabay)
Ilustrasi otak kanan dan otak kiri (Sumber: Pixabay)

Logika adalah jalan pikiran yang masuk akal dan metode pencarian kebenaran secara sahih. Karena berkaitan dengan nilai kebenaran, logika menjadi kunci dalam filsafat dan segala bidang ilmu pengetahuan yang menjadi turunannya. Dalam sastra, logika dapat dilihat menggunakan paradigma bidang-bidang ilmu pengetahuan tersebut, yang secara umum sering dikelompokkan menjadi tiga rumpun: (1) ilmu alam, (2) ilmu sosial, dan (3) ilmu humaniora.


Persoalan pertama yang mesti dibahas terkait hubungan sastra dan logika ialah fenomena kisah-kisah tak masuk akal yang sering ditemukan dalam karya sastra, khususnya dongeng peri, fiksi realisme magis, fiksi fantastik, fiksi sains, dan semacamnya. Memang, dalam sastra demikian kita sering menemukan peristiwa-peristiwa yang absurd, ajaib, irasional, namun pada dasarnya peristiwa-peristiwa tersebut memiliki logikanya tersendiri atau khusus. Di sana kadang tak berlaku logika umum, tapi tetap saja ia perlu dipahami oleh pembaca umum. Maksud logika umum di sini berkaitan dengan ilmu alam–fisika, biologi, kimia. Harry Potter bisa mengendarai sapu terbang, menerbangkan benda-benda dari jarak jauh, dan menjadi tak terlihat dalam jubah tembus pandang. Semua itu  bisa terjadi karena di dunia Harry Potter hal-hal semacam itu merupakan persoalan-persoalan yang lumrah. Kenapa lumrah? Karena di sana berlaku keajaiban sihir yang bisa dipelajari di sekolah sihir. Jadi, dunia Harry Potter punya “hukum alam” yang khas dan segalanya berlangsung dalam logikanya yang khas pula. Begitu pun kisah-kisah yang menampilkan kancil dapat berbicara, manusia menjadi batu, mayat bangkit dari kubur, ramuan hidup abadi, dan seterusnya.


Karena sifat logika ialah konsisten, segala macam keganjilan (jika dibandingkan dengan realitas) dalam sastra bisa saja diterima akal selama ia tampil konsisten sebagai logika dalam dunia tempat cerita berlangsung. Ini berhubungan juga dengan masalah kausalitas. Logika selalu menjelaskan hubungan sebab-akibat peristiwa. Karena itu, tindakan-tindakan (yang memunculkan peristiwa-peristiwa) yang membangun alur cerita, serumit apa pun, harus pula menunjukkan konsekuensi-konsekuensi logis yang bisa diterima akal.


Sebagai refleksi kehidupan manusia–sementara manusia adalah makhluk sosial–sastra juga mengandung logika yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Dengan kata lain, logika ini berurusan dengan kebenaran yang dapat disandingkan dengan kebenaran yang juga diurus oleh ilmu-ilmu sosial–psikologi, sosiologi, antropologi.


Dalam novel, cerpen, atau drama, pusat cerita adalah tokoh. Tokohlah yang menciptakan peristiwa-peristiwa, dan rangkaian peristiwa menjadi cerita. Segala peristiwa pada mulanya terjadi karena tindakan tokoh, dan setiap tindakan selalu memiliki motif-motif, baik secara sadar maupun tidak; karena keinginan sendiri atau terpaksa; sengaja atau tidak sengaja. Motif-motif demikian merupakan persoalan psikologi. Segalanya mesti terjadi, terhubung, dan terangkai dengan masuk akal. Kenapa Hamlet membunuh pamannya? Kenapa Zainuddin mengingkari perasaannya terhadap Hayati? Kenapa Murad yang berprinsip jujur dan sederhana pada akhirnya tergelincir dalam praktik korupsi?

Baca juga:   Sastra dan Etika


Dalam ruang lingkup yang lebih besar, karena tokoh-tokoh merupakan bagian dari masyarakat, sastra juga memerlukan kelogisan dalam aspek sosiologis cerita. Struktur sosial suatu masyarakat berkaitan dengan masalah-masalah sosial tertentu secara umum dan kehidupan (jiwa) individu-individu di dalamnya secara khusus. Latar keluarga tertentu membentuk kepribadian tertentu bagi suatu individu. Begitu juga lingkungan kerja, lingkaran pergaulan, budaya daerah, dan model pemerintahan tertentu. Keadaan-keadaan sosial tersebut merupakan latar bagi kehidupan individu dalam masyarakat. Ia menjadi tesis bagi sikap-sikap individu yang merupakan reaksi dan antitesis terhadapnya. Maka, bergulirlah dialektika. Bagaimanapun bentuk dinamikanya, hubungan timbal balik antara tokoh dan masyrakat yang melingkupinya juga mesti terjadi secara masuk akal.


Sejauh ini dapat dilihat bahwa sastra memiliki logika-logika tertentu dalam struktur bangunannya. Logika-logika tersebut menghadirkan kebenaran sebagai basis sastra. Adapun di dalamnya, terdapat pula kebenaran yang menjadi raison d’etre (alasan keberadaan) sastra itu sendiri. Kebenaran ini adalah kebenaran yang dicari dan dapat disamakan dengan kebenaran dalam ranah filsafat. Dalam Seni Novel Milan Kundera (2016: 48) menegaskan, “Satu-satunya raison d’etre novel adalah untuk mengatakan apa yang hanya bisa dikatakan oleh novel.” Apa itu? “Sebuah novel tak menyelidiki kenyataan melainkan eksistensi …. Eksistensi adalah dunia pelbagai kemungkinan manusia, segala sesuatu yang dimungkinkan manusia menjadi hal itu, segala sesuatu yang sanggup dilakukannya …. baik tokoh maupun dunianya harus dipahami sebagai pelbagai kemungkinan.” (Kundera, 2016: 58)


Pada titik ini, ruang sastra (khususnya fiksi) yang dibangun oleh “pelbagai kemungkinan” dapat dibayangkan sebagai dunia simulasi. Dalam esainya Jose Saramago dan “Apa yang Terjadi, Jika …” Eka Kurniawan (2020: 24) menjelaskan bahwa cerita dalam sastra merupakan refleksi bagi pertanyaan “apa yang terjadi jika …” atau “bagaimana jika ….” terkait persoalan-persoalan hidup manusia. Misalnya, apa yang terjadi jika sepasang muda mudi saling jatuh cinta, tapi masing-masing keluarga mereka saling bermusuhan akut sejak lama? Tentu ada banyak kemungkinan, dan salah satu kemungkinan tersebut berupa kisah Romeo & Juliet yang ditulis Shakespeare. Simulasi lain yang lebih rinci: Bagaimana jika seorang pemuda memberanikan diri menyatakan perasaannya pada gadis yang ia cinta tapi sudah punya pacar? Setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, cintanya bersambut–dan si gadis meninggalkan pacarnya. Kedua, cintanya ditolak–apa pun alasannya. Jika yang terjadi adalah kemungkinan terakhir, bagaimana jika ia seorang laki-laki yang rada-rada gila dan tidak peduli dengan perintah-perintah agama? Bisa jadi ia akan bunuh diri, atau mungkin ia akan meneror laki-laki yang memacari gadis itu, atau menyusun rencana tak terpuji supaya gadis itu mau tak mau harus menjadi pendamping hidupnya di dunia. Kemungkinan yang satu membuka ruang bagi kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Begitu seterusnya dan seterusnya.

Baca juga:   KOLAM IKAN DI SAMPING RUANG KERJAKU


Boleh dikatakan, pertanyaan “bagaimana jika …” sebenarnya selalu membayangi setiap alur cerita dalam fiksi. Setiap sendi cerita tak terlepas dari paradigma tersebut, sehingga Eka pun menyatakan bahwa “Itu strategi kuno yang dipakai para pendongeng, para juru cerita, untuk memikat pembaca di awal, dan mempertahankan pembaca di sepanjang cerita.” Kuno di sini maksudnya sudah digunakan sejak lama hingga sekarang. Selalu tentang kemungkinan-kemungkinan. Inilah yang memberi ruang bagi sastra untuk mencari kebenaran sebagaimana filsafat.


Kundera (2016: 61) mengatakan bahwa novel adalah ruang untuk “memeriksa teka-teki kehidupan” dan novelis adalah “penjelajah eksistensi”. Ia mencari kebenaran-kebenaran dalam kehidupan lewat pergulatan dengan berbagai kemungkinan yang bisa ditemukan dan dirangkai (secara masuk akal) menjadi cerita. Dengan berpijak pada unsur-unsur cerita yang mengandung logika umum (psikologi, sosiologi, antropologi, dll.), tentu sastra dapat merefleksikan kebenaran yang lebih tinggi tentang eksistensi manusia dan dunianya, sehingga “membuat kita melihat apakah kita ini, apakah yang sanggup kita lakukan” (Kundera, 2016: 59).


Maka, dapat dimengerti jika dalam buku Tifa Penyair dan Daerahnya H.B. Jassin merumuskan bahwa syarat menjadi sastrawan adalah penguasaan terhadap psikologi, sosiologi, dan filsafat. Sastra memang produk intelektual–hasil kerja berpikir sarat perenungan. Dalam sejarah sastra pun dapat ditemukan sejumlah sastrawan yang juga terkenal sebagai filsuf, atau filsuf yang terkenal sebagai sastrawan. Untuk menyebut beberapa nama, mereka yaitu Ibnu Tufail, Voltaire, Jean-Jacques Rousseau, Kahlil Gibran, Rabindranath Tagore, Muhammad Iqbal, Aldous Leonard Huxley, Albert Camus, Jean-Paul Sartre, dan Umberto Eco.


Warren (2016: 122) menyebutkan, “Secara langsung atau melalui alusi-alusi dalam karyanya, kadang-kadang pengarang menyatakan bahwa ia menganut aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan paham-paham yang dominan pada zamannya, atau paling tidak mengetahui garis besar ajaran paham-paham tersebut.” Lalu, ia pun menambahkan, “sejarah sastra … secara terus-menerus berisi masalah-masalah sejarah pemikiran.” (2016: 124)


Jadi, sastrawan selalu berada dalam sejarah pemikiran zamannya, dan hal itu sekaligus menunjukkan posisinya dalam sejarah pemikiran tersebut. Meski akrab dengan filsafat, pemikiran sastrawan cenderung dianggap bukanlah pemikiran besar sebagaimana pemikiran filsuf yang menghasilkan sistem-sistem filsafat. Budi Darma (2019: 43) menyatakan bahwa sastrawan hanyalah pemikir-pemikir kecil, alias “turunan” pemikir-pemikir besar. Sastrawan cenderung hanya berperan sebagai penggaung sistem besar yang ada dalam filsafat pada zamannya. Misalnya, sastrawan-sastrawan marxis di Uni Soviet merupakan penggaung filsafat marxisme.


Namun, Kundera (2016: 105) mengingatkan bahwa sastrawan tertentu, terutama Dostoyevsky, pantas juga disebut pemikir besar dalam sejarah pemikiran dunia. Dan Dostoyevsky benar-benar pemikir besar hanya karena ia lebih diakui sebagai sastrawan. Bukan karena ia pertama-tama dikenal sebagai filsuf yang kemudian menulis karya sastra. Kata Kundera tentang pemikiran Dostoyevsky, “… pada tokohnya dia bisa menciptakan jagat-jagat intelektual yang luar biasa kaya dan orisinil. Orang-orang cenderung menemukan proyeksi gagasan-gagasannya dalam tokoh-tokohnya ….”

Potret Fyodor Dostoyevsky (Sumber: Pixabay)

Memang, agaknya tidak semua sastrawan menggunakan sastra untuk mencari kebenaran sebagaimana dalam filsafat. Atau, mungkin tidak selalu bahwa sastrawan dengan sengaja atau secara sadar demikian. Ada kesan bahwa sastra yang dalam ceritanya begitu kentara memuat persoalan-persoalan filsafat hanyalah salah satu jenis fiksi saja, dan biasanya diberi label fiksi filosofis (philoshopical fiction), sebagaimana jenis sastra lain dilabeli fiksi psikologis (psychological fiction) karena ia fokus pada persoalan kejiwaan tokoh-tokohnya sepanjang cerita. Seolah-olah hanya pada karya sastra yang berlabel demikian saja muatan filsafat dan psikologi terdapat, sementara pada jenis sastra lain tidak. Tentu paradigma begini kurang tepat. Persoalan ini mirip dengan pandangan sempit mengenai filsafat yang sering kali diacu secara terbatas sebagai aliran-aliran pemikiran yang kompleks, sistematis, dan khas saja, seperti marxisme, eksistensialisme, nihilisme, strukturalisme, dan sebagainya. Padahal, segala macam aktivitas berpikir yang mendalam, lurus, dapat dipertanggungjawabkan, dan bernilai guna sebenarnya sudah merupakan wujud filsafat secara prinsip. Begitu juga dalam sastra, karena ia disusun dengan logika berpikir yang tertib, sastra pasti tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang psikologi, sosiologi, dan filsafat–nilai-nilai kebenaran secara umum.

Baca juga:   Student Hidjo: Pendidikan dan Kedaulatan


Suatu paralelisasi metode pencarian kebenaran pernah dirumuskan Eka Kurniawan dalam esainya yang lain, yang kurang lebih menyatakan bahwa sains mencari kebenaran lewat eksperimen, filsafat lewat spekulasi, dan sastra lewat cerita. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, cerita merupakan ruang bagi aneka kemungkinan, wadah bagi simulasi-simulasi, dan dalam definisi Kundera yang lain: “alam hipotesis” (2016: 104). Nah, bukankah spekulasi dan simulasi (cerita/hipotesis) pada dasarnya mirip-mirip? Modal utamanya sama-sama logika–selain juga imajinasi tentu saja.


Jadi, selalu ada logika di dalam sastra, entah itu logika umum ataupun logika khusus. Logika inilah yang membuat pembaca bisa memahami cerita dengan baik, tergugah pikirannya, dan kemudian memercayainya–bukan sebagai kebenaran faktual, melainkan kebenaran batin (inward truth). “Realitas boleh saja tidak masuk akal, tetapi fiksi harus bisa dipercaya,” kata Tom Wolfe.


DAFTAR PUSTAKA


Darma, Budi. 2019. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Kompas


Kundera, Milan. 2016. Seni Novel. Diterjemahkan dari The Art of the Novel oleh Cep Subhan KM. Depok: Octopus


Kurniawan, Eka. 2020. Usaha Menulis Silsilah Bacaan. Yogyakarta: Circa


Wellek, Rene dan Austin Warren. 2016. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan dari Theory of Literature oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia

Tentang penulis

Tinggalkan balasan!