Kiprah Sastrawan Aceh dalam Pusaran Kesusastraan Indonesia

Para seniman dari lintas komunitas foto bersama usai pagelaran seni budaya Aceh di UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh, Senin (16/3/2020)(foto/posaceh.com)

Oleh: Muhammad Fadli Muslimin (Dosen Sastra Universtitas Dian Nusantara)

Kesusastraan Aceh telah mengakar di Nusantara sejak abad ke-15 bersamaan dengan tahap kedua masuknya Islam yang sekaligus mempengaruhi corak kesusastraan Aceh.1 Identitas melayu religius dengan nuansa kearifan lokal melekat kuat sebagai ciri khas yang umumnya berupa hikayat, sastra lisan, dan kitab-kitab. Sering perkembangan, bentuk novel, puisi, dan cerita pendek menjadi primadona. Lantas identitas kepenulisan pun berkembang menanggapi kondisi zaman. Luapan emosi, identitas kebudayaan, isu sosial, dan lain-lain menjadi ramuan yang dikemas secara apik oleh para penulis Aceh dari masa ke masa.

Para pesohor sastrawan yang telah meletakkan tonggak sejarah kesusastraan Indonesia di Aceh seperti Ali Hasyimi, AG Mutyara, Abadi AAG, Lesik Kati Ara, Agam Ismayani, Alan Kaslan, Alisyah, dan Deknong Kemalawati setidaknya pada periode pasca kemerdekaan telah menjadi pengirim pesan sejarah dan budaya ke generasi saat ini tentang khazanah kesusastraan Aceh dan Indonesia.2 Menengok jauh ke belakang, nama Hamzah Fansuri atau yang disapa dengan Mbah Obeh, seorang penyair Melayu, ulama dan tokoh terkenal di Aceh yang didapuk menjadi pelopor konvensi sajak berbahasa Melayu berpola bunyi akhir a a a a, telah terlebih dahulu mewarnai kesusastraan Nusantara dengan corak islaminya.3

Warisan kesusastraan ini terus berlanjut dan turut mewarnai jagad kesusastraan Indonesia yang berasal dari Aceh. Para penulis bertalenta menyumbang pemikiran kreatifnya melalui berbagai macam karya sastra, baik puisi, novel maupun cerita pendek. Mengidentifikasi penulis sastra pada suatu rentang periode tertentu merupakan langkah untuk meletakkan perkembangan sastra yang memiliki corak, sifat, dan kekhasan yang dilakukan berdasarkan kriteria tertentu, misalnya masa penerbitan, unsur intrinsik, ekstrinsik, genre, dan lain-lan tentu saja menarik melihat perkembangan kesusastraan Indonesia di Aceh berdasarkan kriteria-kriteria tersebut. Namun, masa penerbitan karya dianggap langkah awal untuk menempatkan penulis beserta karyanya dalam suatu periode tertentu yang sekaligus menempatkan mereka menjadi pelaku sejarah sastra.

Periodisasi sastra Indonesia yang telah dikemukakan oleh para ahli sastra menunjukkan gerak sejarah penulis dan karya sastranya yang telah melintasi berbagai periode. Dalam konteks ini, Ajip Rosidi misalnya memperkenalkan periode Masa Kelahiran, masa penjadian, dan masa perkembangan.4 Periode tersebut merekam jejak penulis beserta karyanya dalam kurun waktu periode pasca kemerdekaan, setelah kemerdekaan dan menjelang reformasi.

Di Aceh, terbitnya karya-karya pasca reformasi sekaligus menandai beragamnya genre, tema, dan isu-isu yang dibawa oleh para penulis Aceh di Indonesia. Salman Yoga, Sulaiman Tripa, Azhari Aiyub, Din Saja, Harun Al- Rasyid, D. Keumalawati, Mursyidah, Sulaiman Juned Ita Khairani, Arafat Nur , Pilo Poly, Fikar W. Eda, Azhari Aiyub, Mustafa Ismail, Ridwan Amran, Helmi Hass, Nab Bahany, Rosni Idham, D. Kemalawati, Doel C.P. Allisah, Udin Pelor, Harun Al Rasyid, Nani Hs., Agam Fawirsa, Mustafa Ismail, Zulfikar Sawang, Saiful Bahri, Ayi Jufridar, Halim Mubary, Azhari, Fozan Santa, Arafat Nur, Deny Pasla, dan M.N. Age5 dikenal luas sebagai sastrawan Aceh yang telah mewarnai jagad kesusastraan Indonesia.

Baca juga:   Inilah 14 Ranah Wajib Bahasa Indonesia

Salman Yoga S, semenjak tahun 1995 hingga tahun 2021 telah secara konsisten menulis sastra di berbagai kesempatan, baik dalam bentuk antologi puisi, buku puisi, cerpen, naskah teater maupun novel. Selain itu, apresiasi sastranya tidak perlu diragukan lagi. Ia mewujudkannya melalui audio dan audio visual secara daring dan luring di berbagai acara dan media alternatif lainnya. Tidak heran, ia sering kali dijumpai di berbagai acara-acara lokal dan nasional yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, muktamar sastra ,Radio Republik Indonesia, Ikatan Musara Gayo Jabodetabek, Taman Ismail Marsuki, Lembaga Indonesia Perancsi (LIP) Yogyakarta, Taman Kebiasaan Istiadat Banda Aceh, Aceh Culture Institute, Taman Budaya Gayo dan berbagai festival karya lainnya.

Pada tahun 2017, Salman pun terlibat dalam Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia II bersama dengan Sulaiman Tripa di Jakarta yang melahirkan rekomendasi-rekomendasi penting tentang pengembangan kesusastraan Indonesia meliputi pemberdayaan komunitas, internasionalisasi sastra, dan fasilitasi sastra.. Keterlibatan karya-karyanya yang dirintis dari Aceh telah menyapa publik Indonesia secara luas melalui syair-syairnya yang menyuarakan identitas bangsa yang dapat memperkuat kepribadian dan jati diri bangsa. Karya terakhirnya di penghujung tahun 2020 yang berbahasa Gayo sekaligus menegaskan bahwa ia tidak saja menjunjung tinggi khazanah kesusastraan Indonesia. Namun, ia pun mengapresiasi kekayaan bahasa nusantara, yaitu bahasa Gayo sebagai upayanya mengkomunikasikan isu-isu terkini sebagai bentuk penghargaan dan pelestarian bahasa daerah yang mengandung unsur lokalitas yang tinggi.10

Sulaiman Tripa mengawali keterlibatannya di dunia kepenulisan pada tahun 2001 dan kesusastraan Indonesia pada tahun 2004 setelah meluncurkan buku Kekerasan itu tak Damai Sekalipun Hanya Sekali Saja dan antologi puisi yang berjudul Peluklah Aku Sekali Saja. 11 Buku pertama dan antologinya dapat dikatakan sebagai sebuah kegelisahan sekaligus penolakannya terhadap berbagai bentuk macam kekerasan. Sejak saat itu, ia terus produktif dalam menghasilkan baik tulisan sastrawi, ilmiah, dan populer. Hingga penghujung tahun 2021, sebanyak 227 tulisan telah terbit di berbagai media di seluruh Indonesia.12 Semua tulisan tersebut ditulisnya dalam kurun waktu selama mengenyam pendidikan di perguruan tinggi hingga berprofesi sebagai dosen Hukum di Universitas Syiah Kuala. Bahkan produktivitasnya di kesusastraan Indonesia tidak pudar meskipun berprofesi sebagai dosen. Setelah antologi puisi pertamanya tahun 2004, ia mengejutkan publik Aceh dengan merilis 44 judul buku sekaligus yang delapan terbitan lainnya adalah cerpen, novel dan kumpulan puisi di tahun 2019 bersamaan dengan peringatan hari lahirnya yang ke-43.13

Baca juga:   Mencintai Sastra, Mencintai Kehidupan

Azhari Aiyub tampil sebagai sosok muda yang sarat pengalaman bersastra. 1999 adalah awal tahun emas baginya ketika masih berusia 18 tahun. Ia meraih penghargaan dari Taman Budaya Aceh sebagai cerpenis terbaik se-Aceh. Lima tahun berselang, cerpennya yang diterbitkan oleh  koran Tempo dan terhimpun bersama cerpen lainnya di buku yang berjudul Perempuan Pala (2004) masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award. Setahun setelahnya, ia menerima penghargaan lainnya dari Poets of All Nation di Belanda atas puisinya yang berjudul “Ibuku Bersayap Merah”. Di tahun 2008 dan 2009, cerpen-cerpennya masuk kategori cerpen terbaik versi Anugerah Sastra Pena Kencana. Kiprahnya berlanjut dengan berbagai tulisan sosial, budaya, sastra di tahun-tahun berikutnya. Tahun 2016, ia mendapatkan kesempatan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program Pengiriman Sastrawan Berkarya dengan model residensi ke Meksiko bersama sastrawan lainnya yang juga mendapatkan residensi di daerah 3T seperti Wayan Jengki, Okky Madasari, F. Rahardi, Ni Made Purnamasari, dan Linda Christanty. Perjalanan residensi yang pertama kali diselenggarakan tersebut, menghasilkan tulisan dengan tajuk Catatan Jurnalisme Sastrawi berjudul Catatan Meksiko terbit pada tahun 2017.14

Azhari berhasil memotret perjalanan sosio-kulturalnya di kota Meksiko yang mencakup berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi yang terjadi di sana. Melalui perjalanan itu pula, ia membuktikan diri sebagai penulis multi-talenta dengan menghasilkan catatan jurnalisme lainnya yaitu Tembok, Polanco, & Alien: Suatu perjalanan kecil ke Negeri Meksiko. Puncaknya, tahun 2018, karya novel pertamanya, Kura-Kura Berjanggut, berhasil memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 kategori prosa. Novel setebal 960 halaman ini merupakan salah satu novel yang menyuguhkan latar sejarah abad ke-16 di Aceh yang menyoroti  realitas kemaritiman dan perdagangan rempah. Novel ini dapat dikatakan sebagai salah satu novel dengan masa penulisan yang cukup panjang, yaitu memakan waktu selama tiga belas tahun yang dirintis sejak tahun 2006.15 Kesuksesan novel ini mendapatkan penghargaan turut diikuti oleh alih wahananya ke pementasan teatrikal dan bahkan film oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya Aceh.16

Baca juga:   SAAT DI PUNCAK GEURUTEE

Tiga sastrawan tersebut adalah potret kecil dari puluhan atau bahkan ratusan penulis, penyair, pujangga, novelis, cerpenis di Aceh yang telah malang melintang di kesusastraan Indonesia. Karya-karya yang secara sadar diproduksi dan dihadirkan di masyarakat Aceh dan umumnya Indonesia dengan harapan khazanah kebudayaan lokal dapat terlestarikan dan dinikmati dalam format sastra. Hadirnya para penulis Aceh ini turut mengisi ruang-ruang kosong periodisasi sastra Indonesia yang sekaligus berkontribusi pada pemberian corak penulisan sastra dengan beragam tema, genre, gaya dan isu dari masa ke masa. Dalam seri penulisan selanjutnya, nama-nama penulis Aceh lainnya akan mendapatkan ruang yang lebih mendalam untuk menelusuri jejak karya-karyanya yang secara konsisten menyuarakan pesan-pesan sastrawi melalui tulisannya.

Referensi

1.    Huda, K. ISLAM MELAYU DALAM PUSARAN SEJARAH Sebuah Transformasi Kebudayaan Melayu Nusantara. Toler. Media Ilm. Komun. Umat Beragama 8, 78–96 (2017).

2.    DATA SASTRAWAN ACEH | ALIANSI SASTRAWAN ACEH [A.S.A]. https://aliansisastrawanaceh.wordpress.com/category/data-sastrawan-aceh/.

3.    Umami, R. Hamzah Fanzuri – Sang Sufi Sastrawan – Sastra-Indonesia.com. http://sastra-indonesia.com/2012/02/hamzah-fanzuri-sang-sufi-sastrawan/ (2012).

4.    Artikel ‘Periodisasi sastra’ – Ensiklopedia Sastra Indonesia. http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Periodisasi_Sastra.

5.    Eda, F. W. Dua Penyair Aceh, Mustafa Ismail dan Pilo Poly Jadi Penggerak Festival Sastra Bengkulu – Serambinews.com. https://aceh.tribunnews.com/2019/08/07/dua-penyair-aceh-mustafa-ismail-dan-pilo-poly-jadi-penggerak-festival-sastra-bengkulu (2019);

6.    Sastrawan Aceh Tulis Memo “UNTUK WAKIL RAKYAT” – LINTAS GAYO. https://lintasgayo.co/2015/09/17/sastrawan-aceh-tulis-memo-untuk-wakil-rakyat/;

7.    Sastrawan Aceh Masuk Sekolah – Seleb Tempo.co. https://seleb.tempo.co/read/83100/sastrawan-aceh-masuk-sekolah.

8.    Salman Yoga Wakili Aceh di Muktamar Sastra Pertama – LINTAS GAYO. https://lintasgayo.co/2018/12/18/salman-yoga-wakili-aceh-di-muktamar-sastra-pertama/.

9.    Salman Yoga S ~ P2K – UNUGHA ~ ENSIKLOPEDIA DUNIA. https://p2k.unugha.ac.id/id3/2-3050-2947/Salman-Yoga-S_113316_unukaltim_p2k-unugha.html.

10.  Full Berbahasa Gayo, Buku Pungi dan Pakan Laya Karya Salman Yoga Terbit – LINTAS GAYO. https://lintasgayo.co/2020/12/07/full-berbahasa-gayo-buku-pungi-dan-pakan-laya-karya-salman-yoga-terbit/.

11.  SULAIMAN TRIPA | ALIANSI SASTRAWAN ACEH [A.S.A]. https://aliansisastrawanaceh.wordpress.com/2008/03/13/sulaiman-tripa/.

12.  ‪Sulaiman – ‪Google Scholar. https://scholar.google.com/citations?hl=en&user=0BS7YMkAAAAJ&view_op=list_works&sortby=pubdate.

13.  Penulis Aceh ini Kenduri Buku – Balai Bahasa Provinsi Aceh. https://bbaceh.kemdikbud.go.id/2019/04/01/penulis-aceh-ini-kenduri-buku/.

14.  Majalah JendelaPengiriman Sastrawan Berkarya ke Daerah 3T Residensi untuk Hasilkan Karya Sastra bagi Negeri. https://jendela.kemdikbud.go.id/v2/fokus/detail/pengiriman-sastrawan-berkarya-ke-daerah-3t-residensi-untuk-hasilkan-karya-sastra-bagi-negeri.

15.  EA, P. Novel Kura-Kura Berjanggut – Mojok.co. https://mojok.co/esai/kepsuk/novel-kura-kura-berjanggut/ (2018).

16.  Nasir, M. Setelah Sukses di Teater, Kini Novel Kura-Kura Berjanggut Diangkat ke Film – Halaman all – Serambinews.com. https://aceh.tribunnews.com/2021/09/19/setelah-sukses-di-teater-kini-novel-kura-kura-berjanggut-diangkat-ke-film?page=all (2021).

Tinggalkan balasan!