Idealisme vs Materialisme

Tanpa pikiran, manusia tidak bisa menyadari bahwa ia dan alam semesta ada. Bagi manusia yang tanpa pikiran, (hakikat) kehidupan itu tidak ada. Nah, pikiran terletak di otak. Tanpa otak, pikiran tidak ada. Tapi, tanpa pikiran, otak tak ada gunanya juga–hanya seonggok daging belaka. Hanya pikiran yang bisa menyadari bahwa manusia punya otak. Pertanyaannya: lebih esensial mana antara pikiran dan otak? Pikiran berhubungan erat dengan jiwa (sesuatu yang abstrak), sementara otak berhubungan erat dengan materi (sesuatu yang konkret). Apakah hakikat manusia itu jiwanya? Atau, tubuh/fisiknya? Perdebatan semacam ini merupakan refleksi persaingan paham antara idealisme dan materialisme. Idealisme mengutamakan ide sebagai hakikat realitas, sementara materialisme mengutamakan materi. Keduanya memiliki kebenaran masing-masing, dan tidak harus dipandang menggunakan paradigma kebenaran tunggal. Artinya, jika idealisme benar, bukan berarti materialisme pasti salah seluruhnya. Pun sebaliknya.

Adalah George Berkeley, Uskup Katolik Anglikan Irlandia, tokoh idealisme pertama dalam pengertian modern dan mencuri perhatian jagat filsafat pada paruh pertama abad ke-18. Ia dikenal sebagai filsuf yang sangat kritis terhadap materialisme. Filsafatnya berangkat dari empirisme dan berujung pada idealisme. Bagi Berkeley, pengetahuan memang diperoleh pertama-tama melalui pengalaman indrawi, namun informasi-informasi yang dikenali oleh sejumlah indra sifatnya masih mentah; mereka baru memiliki makna setelah dipahami oleh pikiran. Pikiran mendapat pemahaman melalui penghubungan satu informasi dengan informasi-informasi lainnya. Dengan kata lain, kumpulan informasi mentah tersebut harus diolah dan dicerna dulu sebelum menjadi pengetahuan. Nah, karena yang mengolah dan mencerna itu semua adalah pikiran, maka pikiran memainkan peranan utama. Tanpa kerja pikiran, informasi-informasi yang diserap panca indra tidak akan ada artinya–pun tidak berguna. Di sinilah argumen kunci Berkeley.

Implikasi dari pandangan Berkeley adalah penumpuan kenyataan pada pikiran manusia (selaku subjek)–bukan pada benda-benda (selaku objek). Dunia dan kehidupan hanya ada dalam kesadaran manusia. Dengan kata lain, segala sesuatu dalam kenyataan bergantung pada pikiran manusia. Karena pikiran manusia berawal dari penyerapan indra (baca: pengalaman empiris), pikiran itu menjadi sinonim bagi persepsi. Nah, persepsi itu sendiri mengandung konotasi relativitas dan subjektivitas. Dan, memang demikianlah prinsipnya. Karena itu pula filsafat Berkeley kemudian dikenal sebagai idealisme subjektif.

Jika kita bertanya tentang apa itu hidup, jawaban masing-masing orang pasti berbeda. Misalnya antara muslim dan nonmuslim, atau ateis; antara bangsa satu dan lainnya; antara kaum kaya dan kaum miskin, antara manusia kiwari dan bahela, dan seterusnya. Begitu pula terhadap pertanyaan apa itu belajar, apa itu bekerja, dan segala lainnya. Perbedaan-perbedaan pikiran itu tidak hanya bersifat variatif, tapi kadang bisa juga kontradiktif. Dalam pikiran yang satu agama bisa dianggap menguatkan manusia, sementara dalam pikiran lainnya agama bisa dianggap melemahkan manusia. Dalam pikiran yang satu manusia dapat dianggap pada dasarnya bersifat baik, tapi dalam pikiran lainnya manusia dapat dianggap pada dasarnya bersifat jahat. Hebatnya, setiap pikiran itu bisa menunjukkan bukti dan landasan argumen masing-masing secara meyakinkan. Begitulah idealisme subjektif. Setiap manusia memandang dunia secara subjektif, dan mereka menjalani hidup dengan pegangan persepsi mereka masing-masing dalam kepala.

Opini vs Fakta

Jika kita mencoba menahan diri sejenak, lalu dengan tenang merenungkan kapasitas kita dalam memperoleh pengetahuan, tentu kita harus dengan rendah hati mengakui keterbatasan-keterbatasan berikut. Pertama, realitas itu kompleks dan tidak bisa direduksi menjadi sederhana; sementara dalam mempersepsi sesuatu, kita selalu tidak mempunyai sudut pandang yang utuh. Kita selalu memandang sesuatu dari sudut pandang-sudut pandang tertentu saja. Kadang tidak berimbang. Lalu, sebagian yang kita tahu itu pun sebenarnya belum tentu sahih. Selalu ada kemungkinan terjadi bias dalam usaha kita mempersepsi/menalar sesuatu. Apalagi jika di hati ada tendensi dan emosi yang berkepentingan pula.

Kemudian, kita perlu juga mengingat kapasitas bahasa sebagai medium perantara antara pikiran satu dan lainnya. Sebagaimana akal dan indra memiliki banyak kelemahan, bahasa pun demikian–bisa dalam arti tak mampu memuat segenap makna dengan utuh (sebagian makna memang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata), atau bisa dalam arti berpotensi membiaskan informasi tanpa kita sadari. Dengan demikian, pengetahuan yang kita peroleh lewat bahasa (baik membaca maupun mendengar) juga mengandung banyak kelemahan.

Nah, di hadapan segala kelemahan kita untuk mengetahui kenyataan, kita mungkin akan teringat pada godam Nietzsche yang garang: “Tidak ada kenyataan. Yang ada hanyalah interpretasi.” (1968: 267)

Kalau kita mau bersetuju dengan landasan berpikir begini, maka konsekuensinya jadi jelas: kehidupan ini adalah apa yang kita pikirkan, sementara pikiran adalah kata lain dari rangkaian interpretasi. Apa yang kita lihat adalah perspektif dan apa yang kita dengar adalah opini dan kata-kata. Dalam pandangan Kantian juga dikenal paham yang senada: kita tak bisa mengetahui nomena (objek pada dirinya sendiri, das ding an sich); yang bisa kita ketahui hanyalah fenomena (penampakan objek).

Jika kita memandang kenyataan hidup sebagai misteri yang penuh teka-teki, maka pikiran yang menjadi semesta tempat ia berusaha dipahami (baca: dihidupkan) adalah puzzle yang disusun dari kepingan-kepingan interpretasi. Sebagian kepingan interpretasi inilah yang kadang mengandung eror dan melahirkan gosip, hoax, fitnah, dan sebagainya. Kadang, interpretasi yang menyimpang itu memang terjadi secara tidak disengaja. Tapi, di waktu lain, bisa jadi sebaliknya. Interpretasi sengaja disuguhkan ke orang lain atau publik secara menyimpang, terutama melalui penyembunyian sebagian informasi untuk menonjolkan sebagian informasi lainnya saja. Atau, dengan cara mencocok-cocokkan sejumlah informasi untuk tujuan yang sudah ditentukan sejak mula. Kita biasa mengenal praktik rekayasa ini sebagai framing atau “penggiringan opini”.

Baca juga:   Tantangan Konservasi Meurukon

Di sisi lain, keterbatasan ini pula yang menyebabkan ilmu pengetahuan dinamis. Dari waktu ke waktu penelitian (baca: pemikiran) yang satu berinteraksi dengan penelitian-penelitian lainnya–melengkapi, menegaskan, mengoreksi, membantah, merobohkan. Pengetahuan manusia tidak pernah utuh–tidak pernah final.

Dante Alighieri ♥ Beatrice Portinari

Suatu hari pada 1274 Dante dibawa ayahnya ke rumah keluarga Portinari untuk menghadiri suatu pesta. Di sana ia untuk pertama kalinya melihat anak gadis Portinari yang menawan hati. Itu merupakan peristiwa dahsyat yang tak pernah bisa ia lupakan selamanya. Dua puluh tahun kemudian Dante menerbitkan buku La Vita Nouva yang didedikasikannya khusus untuk Beatrice–nama gadis pujaan hatinya itu. Di sana Dante mengaku bahwa sejak pandangan pertama ia telah jatuh cinta pada Beatrice. Padahal, hari itu mereka baru berusia sembilan dan delapan tahun. Masih bocah.

Sulit dipercaya, memang. Apalagi Dante terus mencintai Beatrice meski setelah pertemuan pertama itu mereka baru berjumpa kembali sekitar sembilan tahun kemudian. Itu pun hanya pertemuan singkat di tepi sungai Arno, sebagaimana dua pertemuan lainnya di Florence. Hanya empat pertemuan itu pengalaman Dante melihat Beatrice, sebelum si gadis mati muda pada usia 24 tahun. Meski akhirnya Dante menikah dengan perempuan lain, Beatrice senantiasa menginspirasinya sepanjang hidup. Beatrice adalah cinta sejati Dante–begitulah orang-orang kemudian menceritakannya. Bahkan, dalam magnum opusnya La Commedia, Dante menggambarkan Beatrice sebagai bidadari yang memandu perjalanannya di surga.

Kahlil Gibran ♥ May Ziadah

Bisakah kau membayangkan dua sejoli yang saling mencintai tanpa pernah sekali pun bertatap muka? Aneh, memang, tapi itu terjadi pada Kahlil Gibran dan May Ziadah. Kedua penulis ini sama-sama berasal dari Lebanon, tapi ketika kisah cinta mereka terjadi, Gibran sudah tinggal di Amerika Serikat dan menjadi penyair sukses, sementara May tinggal di Mesir dan menjadi sastrawan ternama pula. Kisah LDR mereka yang terpisah jauh oleh jarak antara Kairo (Timur) dan New York (Barat) ini gilanya bertahan lama pula. Mereka menjalin komunikasi selama kurang lebih sembilan belas tahun (1912–1931/tahun kematian Gibran). Padahal, masa itu jangankan fitur panggilan video, teknologi telepon biasa saja belum menjadi peranti yang umum digunakan seperti sekarang. Lalu, bagaimana cinta mereka bisa langgeng?

Sebagai sesama pemikir, hubungan mereka mulanya terjadi dalam komunikasi tukar-menukar pendapat saja. Mereka secara berkala berkirim-kirim surat dan membicarakan banyak hal dengan penuh antusias, termasuk curhat dan komentar terhadap tulisan-tulisan mereka. Begitulah dari waktu ke waktu hingga–entah kapan persisnya–keduanya telah saling mencintai begitu saja. Kadang-kadang memang terjadi pula salah paham (lalu pertengkaran), tapi setelah itu mereka selalu berhasil mengatasinya.

Tidak hanya Gibran, May pun menulis banyak puisi. Maka, tak mengherankan jika bahasa dalam surat-surat mereka sering kali tersusun indah dan ekspresif. Surat-surat itulah–selain juga karya-karya yang telah mereka publikasikan–modal utama keduanya dalam proses saling mengenal dan mencintai. Gibran terpesona oleh gagasan-gagasan dan jiwa May yang cemerlang. Dan May tersihir oleh kepribadian Gibran yang cerdas dan romantis.

Mencinta & Membenci

Bagaimana cara memahami api cinta yang tiba-tiba menyala di hati laki-laki ketika ia melihat perempuan yang padahal tak pernah ia kenal sama sekali sebelumnya? Kenapa cinta bisa semendadak itu? Untuk menjawabnya, setidaknya kita dapat mempertimbangkan dua kemungkinan. Pertama, ia terpengaruh oleh dorongan seksual belaka–kehendak id yang naluriah dan irasional sebagaimana nafsu makan dan kenyamanan. Kedua, ia membangun interpretasi positif tentang gadis itu di kepalanya. Dengan kata lain, ia sebenarnya tidak mencintai si gadis dalam kenyataan; ia mencintai si gadis-indah-interpretatif dalam kepalanya. Pikiran tentang si gadis indah itu ia bangun dari asosiasi-asosiasi yang ia miliki berdasarkan interpretasi yang pernah ia punya sebelumnya–entah itu ia dapat dari pengalaman nyata, cerita faktual, atau cerita fiktif. Misalnya, penampilan si gadis yang syar’i menyeret pikirannya pada asosiasi-asosiasi semacam kesalehan, anak baik-baik, calon bidadari surga, dan sebagainya. Ia mencintai si gadis indah yang tercipta dari sejumlah asosiasi dalam pikirannya itu. Gadis yang tersenyum manis dalam kepalanya.

Dalam kasus cinta Dante dan Gibran, kita juga dapat berasumsi demikian. Sebagai sastrawan dengan daya pikir dan imajinasi yang luar biasa–selain juga jiwa romantis yang alami–perasaan cinta yang tiba-tiba muncul dan mekar gara-gara interpretasi indah dalam kepala mereka merupakan kondisi jiwa yang dapat dipahami. Sebagaimana terjadi pada banyak orang yang jatuh cinta, Dante dan Gibran pun memuja gadis indah dalam kepala mereka sendiri.

Pada surat bertanggal 3 November 1920 Gibran menulis kepada May, “Kini aku duduk dalam ruangan ini dan memandang wajahmu lama-lama, tanpa mengucapkan kata sepatah pun. Engkau, dalam pada itu memandangku, menggelengkan kepala, dan tersenyum–senyuman seseorang yang merasa senang melihat temannya dalam kebingungan.”

Percayalah, Gibran tak pernah bertemu dengan May di mana pun, dan gadis yang “menggelengkan kepala, dan tersenyum” itu hanya ada dalam kepala Gibran saja. Gibran yang mabuk cinta jelas telah hanyut oleh pikirannya tentang May, sebagaimana juga dapat dilihat pada surat yang ia tulis pada 25 Juli 1919, “Berjam-jam lamanya aku memikirkanmu, berbicara denganmu, berusaha menemukan rahasiamu, mencoba menguraikan rahasiamu. Namun demikian, kiranya masih mengherankan bahwa aku masih merasakan kehadiran Diri Pribadimu (rohaniah) di sanggarku, mengamati segala gerak-gerikku, berbicara, dan bertukar pendapat denganku, dan memberikan pandangan terhadap apa yang kulakukan.”

Baca juga:   Pergi Ke Masjid

Pada 21 Mei 1921 Gibran juga menulis, “Tahukah engkau, May, setiap hari aku membayangkan diriku tinggal dalam rumah di luaran sebuah kota negeri Timur, dan kubayangkan wanita sahabatku duduk di depanku sambil membacakan artikelnya yang terbaru atau yang belum terbit, lalu kami berlama-lama membincangkan pokok masalahnya sampai mencapai persesuaian pendapat bahwa itulah tulisannya yang terbaik sampai saat itu.”

Nah, sebagaimana mencintai, membenci pun begitu. Seseorang membenci sosok yang ada di kepalanya, yang ia bangun dari kepingan-kepingan interpretasi terhadap seseorang (atau sejumlah orang) dalam kenyataan. Kau tahu, seseorang yang bukan siapa-siapa dan tak terlalu dikenal bisa saja tiba-tiba sangat dibenci (bahkan, dibikin mampus!) hanya karena ia berasosiasi dengan suku bangsa tertentu, atau organisasi terlarang tertentu, partai politik tertentu, bajingan tertentu, dan sebagainya. Semuanya berlangsung dalam ranah pikiran. Dengan kata lain, ia dibenci hanya karena seseorang dengan ceroboh menyamakan sosok interpretatif yang dibencinya (dalam kepala) dengan sosok si bukan siapa-siapa yang faktual/an sich (di luar kepala).

Baik dalam mencintai maupun membenci, masalahnya juga sama: interpretasi tersebut bisa kebetulan (cenderung) tepat, atau ternyata malah melenceng jauh. Syukur-syukur jika interpretasi tersebut (cenderung) tepat. Kalau sesat? Memang kita bisa mendapat keuntungan-keuntungan tertentu kadang, tapi sering kali yang terjadi malah masalah-masalah yang tak perlu. Contoh sepele: pesan chat yang terlalu singkat atau lambat dikirim kadang bisa menimbulkan interpretasi yang buruk dan berujung pada ambyarnya masa depan hubungan cinta yang seharusnya baik-baik saja.

Masalah semacam itu tidak hanya terjadi karena kesesatan interpretasi seseorang terhadap lingkungannya, tapi juga sering terjadi karena kesesatan interpretasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Pikiran bahwa dirinya lebih penting, lebih pintar, lebih suci, lebih ganteng/cantik, lebih terhormat, harus disanjung-sanjung, berderajat tinggi, sering kali menjadi biang masalah dalam sengketa yang serius. Contohnya, tengoklah cewek sok bidadari yang suka merajuk jika ia tidak di-chat duluan, atau tidak disembah-sembah, sehingga lama-lama memicu muak dan sikap bodo amat pada diri pacarnya, dan pada gilirannya menjadikan hubungan mereka tinggal kenangan saja.

Romantisisme & Imajinasi

Setelah patah hati dan tak kuasa menahan duka lara yang membakar jiwanya, Werther akhirnya menembakkan pistol ke kepalanya, tepat di atas mata sebelah kanan, tempat semesta pikirannya beroperasi dan kemudian meledak hancur lebur–“sampai otaknya keluar”. Itu semua gara-gara kasih tak sampai Werther kepada Lotte yang telah bertunangan (kemudian menikah) dengan Albert. Kemalangan demikian tak hanya mematahkan hati Werther, tapi juga membuntukan pikirannya–membuat hidupnya tersiksa parah. Karena itu, Werther berkata, “Albert, dalam pikiran itu ada neraka.” (Goethe, 2000: 116)

Novel Penderitaan Pemuda Werther karya Goethe ini merupakan salah satu manifestasi romantisisme yang merajalela di Eropa pada penghujung abad ke-18 dan paruh pertama abad ke-19. Sebagai suatu paham atau orientasi pemikiran yang berpengaruh besar, romantisisme berciri subjektif, irasional, imajinatif, spontan, emosional, visioner, transendental, dan condong pada alam/kemurnian. Dari sekian banyak ciri umum romantisisme tersebut, salah satunya yang terpenting yaitu imajinatif.

Meski sama-sama produk pikiran, imajinasi (pikiran bebas) sedikit dibedakan dari logika (pikiran tertib). Imajinasi berkaitan dengan kreativitas–energi untuk berkreasi/mencipta. Ini merupakan anugerah utama yang membedakan manusia dari binatang. Dengan imajinasi, manusia memiliki visi untuk merencanakan sesuatu, membayangkan yang belum terjadi, menduga-duga peristiwa, melakukan abstraksi, membangun fiksi, dan menciptakan inovasi untuk memajukan peradabannya dari waktu ke waktu. Karena binatang tidak memiliki imajinasi, mereka tidak memiliki visi, sehingga mengalami stagnansi kehidupan selamanya.

Slogan romantisisme adalah–sebagaimana kata Novalis, filsuf dan sastrawan Jerman abad ke-18–“dunia menjadi impian, dan impian menjadi kenyataan”. (Gaarder, 2016: 536) Bagi kaum romantik, imajinasi tidak hanya membantu manusia dalam memahami kenyataan, tapi juga menciptakan kenyataan.

Karena imajinasi “meliarkan” pikiran manusia, pandangan-pandangan setiap manusia pun jadi cenderung beragam dalam mempersepsi segala hal. Dengan kata lain, imajinasi berperan besar dalam proses terciptanya berbagai interpretasi (terhadap kenyataan) dalam pikiran manusia. Rangkaian interpretasi ini pada gilirannya menjadi basis bagi aktivitas kreatif (baik kesenian maupun teknologi) yang menciptakan suatu dunia baru. Maka, tidak mengherankan jika pada era romantisisme banyak seniman jenius menjadi pahlawan kondang di masyarakat.

Karena imajinasi dijunjung tinggi dalam romantisisme, perhatian terhadap segala yang gaib dan misterius, seperti roh alam, hantu-hantu, dan rahasia (keheningan) malam menjadi kecenderungan di masyarakat. Tak ketinggalan, semangat spiritual yang merindukan misteri ilahi pun bangkit kembali. Alhasil, mistisisme berkembang. Novalis berpikir bahwa seluruh alam raya tersimpan dalam diri manusia, sehingga ruh dunia dapat dicari baik di alam maupun dalam pikiran manusia. Karena itu, ia pun berkata, “jalan misteri itu mengarah ke dalam batin.” (Gaarder, 2016: 542)

Gema romantisisme (yang mengandung idealisme dan mistisisme) ini kemudian menyebar hingga jauh ke luar Eropa, melampaui Barat. Di Arab, romantisisme menemukan tokoh pentingnya pada sosok Kahlil Gibran (dan May Ziadah).

Pikiran & Iman

Sejauh ini telah kita bahas bahwa pikiran berkorelasi dengan perasaan. Pikiran bisa mempengaruhi cinta, menyulut benci, dan menyuburkan nestapa. Sekarang mari kita mulai menggeser persoalannya ke urusan iman–ranah rasa yang lainnya.

Kita beriman sesuai pikiran kita. Yang kita imani adalah pikiran kita–lebih tepatnya pikiran kita tentang apa yang belum bisa kita indra/persepsi. Karena belum bisa mengindranya, kita beriman menggunakan imajinasi: sengaja atau tidak, kita membayangkan apa yang belum bisa kita indra itu, lalu membawanya ke dalam hati.

Baca juga:   Santri atau Murid: Ideologi Bahasa dalam Diksi

Dalam iman Kristen, Dante punya pengaruh besar berkat imajinasi religiusnya yang demikian tinggi. Dante memberi gambaran melalui puisinya La Commedia tentang bagaimana situasi di neraka (inferno) yang berisi manusia-manusia yang tanpa harapan, apa yang terjadi di tempat penyucian (purgatorio), dan bagaimana pemandangan surga (paradiso) yang indah dan dipenuhi orang suci beserta para malaikat. Imaji dalam puisi Dante mulanya hanya kata-kata belaka, tapi kemudian mengilhami banyak mahakarya seni lainnya, sehingga lahirlah sejumlah lukisan dan patung yang merupakan interpretasi atas imajinasi Dante tentang akhirat. Dante sendiri konon sedikit-banyak mendapatkan imajinasi tersebut dari interpretasi dan kreasinya terhadap kisah perjalanan Nabi Muhammad Saw. ke neraka dan surga sewaktu peristiwa isra mikraj (Ziolkowski, 2015: 11). Imajinasi ukhrawi inilah yang kemudian banyak mempengaruhi iman Kristen dan kebudayaan Eropa secara umum. “Kau bisa saja belum pernah membaca sebaris pun La Commedia, dan kau telah terpengaruh olehnya,” kata Blauvelt (2018).

Iman terletak di hati. Kita tahu, hati sangat menentukan baik/buruknya manusia secara total. Dan apa yang biasa kita ketahui tentang hati? Ia sesuatu yang pasif. Kita sering mendengar ungkapan “menjaga hati”, “membersihkan hati”, “menenangkan hati”, dan sebagainya. Hati selalu berposisi sebagai objek. Lalu, apa subjeknya? Pikiran. Pikiranlah yang menjadi/menciptakan tameng dan benteng bagi hati; pikiranlah yang menjadi/menciptakan kain lap dan air bagi hati; pikiranlah yang menjadi/menciptakan kidung dan zikir bagi hati. Dengan demikian, kualitas pikiran mempengaruhi pula kualitas hati (termasuk iman).

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman, “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (H.R. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675)

Apa yang dimaksud Allah dengan “Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku”? Wallahu ‘alam.

Yang jelas, sejauh ini kita dapat mengatakan bahwa cara manusia memandang dunia sangat memengaruhi jiwanya–menentukan pula kebahagiaan hidupnya. Di sini kita perlu bertanya: bukankah pikiran buruk–pikiran yang lahir karena berlaku tidak adil sejak dalam pikiran–hanya akan menghancurkan diri kita belaka; menghanguskan jiwa kita dari dalam secara diam-diam? Lagi pula pikiran buruk sering kali datangnya dari (bisikan) setan–jika kita yakin setan itu ada dan diciptakan dari api.

Maka, sebagai konsekuensinya, menata pikiran itu menjadi sangat penting. Kita mesti berhati-hati terhadap framing, penggiringan opini, dan bias bernalar sebab hidup kita adalah rangkaian interpretasi, dan interpretasi dihasilkan oleh aktivitas berpikir. Jika kita ingin condong pada interpretasi yang benar, maka kita harus condong pula pada aktivitas berpikir yang benar. Pada titik ini, kita perlu melakukan latihan (dan pembiasaan) berpikir benar dalam hidup.

Sementara itu, untuk berlatih berpikir benar kita perlu pula upaya pengendalian atas pikiran itu sendiri. Dalam agama Buddha terdapat meditasi. Dalam Islam terdapat khalwat dan zikir. Pada umumnya, semua itu mensyaratkan keheningan atau pengasingan diri dan ketidakterikatan atas hal-hal duniawi. Ingar bingar mengacaukan konsentrasi dan kekhusyukan, sementara keterikatan duniawi mendorong manusia untuk berpikir oportunistis.

Maka, tak mengherankan jika kemudian Siddharta, sang pangeran bangsa Shakya, meninggalkan kemewahan istana untuk bertapa di hutan dan menjalani kehidupan yang asketik–ya, ini memang contoh ekstrem. Setelah bertahun-tahun larut dalam meditasi, Siddharta akhirnya berhasil menjadi Buddha, yang berarti ‘yang tercerahkan’.

“Aku tak tahu sesuatu yang lain pun, o biksu, yang ketika tak dikembangkan dan tak dilatih mengakibatkan penderitaan dahsyat sebagaimana pikiran. Pikiran ketika tak dikembangkan dan tak dilatih menyebabkan penderitaan dahsyat,” kata Sang Buddha. “Aku tak tahu sesuatu yang lain pun, o biksu, yang ketika dikembangkan dan dilatih membawa kebahagiaan luar biasa sebagaimana pikiran. Pikiran ketika dikembangkan dan dilatih membawa kebahagiaan luar biasa.” (Bodhi, 2005: 267)

DAFTAR PUSTAKA

Bodhi, Bhikkhu (Ed.). 2005. In the Buddha’s Words: An Anthology of Discourses from the Pali Canon. Boston: Wisdom Publications.

Blauvelt, Christian. 2018. Dante and The Divine Commedy: He took us on a tour of hell. Bbc.Com. Diakses dari https://www.bbc.com/culture/article/20180604-dante-and-the-divine-comedy-he-took-us-on-a-tour-of-hell

Gaarder, Jostein. 2016. Dunia Sophie. Diterjemahkan Rahmani Astuti dari Sophie’s World. Bandung: Mizan

Gibran, Kahlil. 2016. Surat-Surat Cinta kepada May Ziadah. Diterjemahkan Sugiarta Sriwibawa dari Blue Flame: the Love Letters of Kahlil Gibran to May Ziadah. Jakarta: KPG.

Goethe, Johann Wolfgang von. 2000. Penderitaan Pemuda Werther. Diterjemahkan Moh. Godjali Harun dari Die Leiden De Jungen Werther. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Kurnialam, Alkhaledi. 2020. Tetap Berbaik Sangka kepada Allah di Masa Sulit. Republika.Co.Id. Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/qkyy94430/tetap-berbaik-sangka-kepada-allah-di-masa-sulit

Nietzsche, Friedrich. 1968. The Will to Power. Diterjemahkan Walter Kaufmann dan R.J. Hollingdale dari der Wille zur Macht. New York: Vintage Books.

Ziolkowski, Jan M..2015. Dante and Islam. New York: Fordham University Press.

Tinggalkan balasan!