Jika kau ingin Tuhan jadi menyenangkan bagimu, pandanglah Dia dengan mata orang-orang yang mencintai-Nya.

–Jalaluddin Rumi

Buku How to Be Free

Dalam pleidoinya di hadapan seluruh warga Athena, Sokrates berkata kepada orang-orang yang ingin membuatnya dijatuhi hukuman mati, “Ketahuilah, jika kalian membunuhku, kalian tak akan menyakiti siapa-siapa kecuali diri kalian sendiri.” Pernyataannya terkesan retorik belaka, tapi sebenarnya Sokrates tidak sedang mengada-ada. Ia mengatakan sesuatu yang bersandar pada prinsip-prinsip hidup yang telah begitu lama ia uji. Bahkan, berjarak sekitar lima abad kemudian, Epiktetos mengembangkan prinsip-prinsip tersebut dan menjadikannya bagian penting stoikisme yang didirikan Zeno.


Gagasan Epiktetos yang terkenal ialah pembedaan antara apa yang bergantung pada individu dan apa yang tidak bergantung pada individu. Bergantung pada individu berarti sepenuhnya bebas dikendalikan individu. Ia adalah pikiran–pengertiannya mencakup motivasi dan kehendak. Pikiranlah yang menimbang berbagai macam keadaan, menilainya, lalu menentukan keputusan untuk si individu. Dalam berpikir, setiap individu bebas mengendalikan pikirannya. Sebaliknya, yang tak bergantung pada individu adalah segala sesuatu di luar dirinya; hal-hal yang terjadi tanpa bisa ia kendalikan. Seseorang bisa saja dikhianati dan itu tak bisa ia cegah, tapi bagaimana sikapnya terhadap penghianatan tersebut, itu jelas seratus persen dalam pertimbangan dan keputusannya yang mandiri. Apakah ia menganggap penting atau tidak penting orang yang menghianatinya, itu sepenuhnya juga berada dalam kendali pikirannya.


Dengan berpegang pada prinsip ini, Epiktetos berkata, “Sesungguhnya tak seorang pun akan menyakitimu tanpa persetujuanmu; kau hanya akan tersakiti jika kau berpikir kau disakiti.”


Bagi Epiktetos pemahaman tentang pembedaan ini memiliki implikasi yang begitu penting. Ia sangat menentukan bagaimana manusia meraih kebebasan dan kedamaian hidupnya, serta bagaimana manusia dihajar ketidakbahagiaan dan frustrasi. Menurut Epiktetos, kebahagiaan berasal dari kebajikan, sementara ketidakbahagiaan dari keburukan. Sesuatu dinilai bajik karena ia pada dasarnya bermanfaat, misalnya keadilan, sementara sesuatu dinilai buruk karena ia pada dasarnya bermudarat, misalnya kezaliman. Sesuatu bermanfaat karena ia selaras dengan alam/kodrat, sementara sesuatu bermudarat karena ia menyimpang dari alam/kodrat. Untuk bisa selaras dengan alam/kodrat, manusia memerlukan kebijaksanaan. Sebaliknya, hidup yang menyimpang dari alam/kodrat merupakan akibat kebodohan. Baik kebijaksanaan maupun kebodohan, keduanya bergantung pada individu, persisnya pikirannya sendiri. Jadi, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan, bagi Epiktetos sepenuhnya bergantung pada pikiran manusia, yang merupakan pusat pengendalian diri.


Dalam ajaran Epiktetos dikenal juga nilai netral. Ia tidak baik dan tidak buruk sebab pada dasarnya ia tidak bermanfaat dan tidak bermudarat. Nilai inilah yang terletak pada segala hal yang tidak bergantung pada individu. Karena ia netral, apakah ia akan mendatangkan kebaikan atau keburukan bagi individu, itu tergantung sikap si individu terhadapnya. Dalam pengertian ini, bagi Epiktetos kekayaan/kemiskinan dan kedudukan tinggi/kedudukan rendah sejatinya bernilai netral. Alasannya: tak ada kepastian bahwa orang yang punya kekayaan atau jabatan tinggi akan menjadi baik/bermanfaat/bahagia; sebagaimana tak ada kepastian bahwa orang yang mengalami kemiskinan atau tanpa jabatan akan menjadi buruk/bermudarat/tidak (bisa) bahagia.


Dengan kesadaran begini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di luar kendalinya belum pasti mendatangkan kebaikan atau keburukan baginya, seseorang tidak akan menjadi pribadi yang mudah mengeluh, apalagi putus asa. Ia tidak akan menyalahkan siapa-siapa, apalagi Dewa, sebab atas apa pun yang terjadi, ia sepenuhnya bebas untuk melakukan penilaian dan mengambil keputusan sebagai sikap. Bagi Epiktetos prinsip-prinsip inilah yang akan membebaskan manusia.


Tapi, kau mungkin akan bilang: kekuasaan bisa membuat seseorang mengatur orang lain begini dan begitu, sementara kekayaan bisa membuat seseorang membeli apa saja! Bukankah mereka juga menjadi bebas? Ya, mungkin itu benar. Tapi, bukan pengertian demikian yang dimaksud Epiktetos terkait kebebasan.


Sekalipun seseorang punya jabatan sangat tinggi, ia tak bisa memastikan bahwa kekuasaan itu akan selalu ada dalam genggamannya, apalagi jika ia tak sibuk memikirkan dan melakukan berbagai cara untuk mempertahankannya. Pun demikian: sekaya-kayanya seseorang, ia tak bisa memastikan bahwa hartanya akan selalu banyak, apalagi jika ia berhenti memikirkan atau mengurus harta tersebut.


Dalam ajaran Epiktetos kebebasan itu melibatkan dua pengertian. Pertama, pikiran sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Pikiran tak bisa dikudeta, tak bisa diatur-atur, kecuali pikiran itu sendiri yang membiarkan dirinya diperdaya–katakanlah karena kebodohan. Pun demikian: pikiran tak bisa dirampok, tak bisa dibegal, atau dibikin bangkrut, kecuali pikiran itu sendiri yang memilih menjadi lalai.


Karena pikiran itu sejatinya bebas untuk menentukan dirinya sendiri, manusia sepenuhnya bisa mengarahkannya untuk meraih kebebasan dalam pengertian kedua, yaitu bebas dari belenggu-belenggu batin, seperti kekecewaan, kecemasan, kedengkian, kemarahan, dan kesedihan. Jadi, pikiran memberi manusia kebebasan untuk mencapai kebebasan dari emosi-emosi negatif. Dalam pengertian inilah Epiktetos menegaskan: mengendalikan pikiran adalah “satu-satunya cara untuk meraih kebebasan dan kebahagiaan”. Di luar kendali pikiran, kebahagiaan itu “sama sekali bukan hal yang nyata”, malah tak jarang berujung pada kekecewaan, kesedihan, kedengkian, frustrasi, atau bahkan “perbudakan”.


Nah, penting untuk diperhatikan: Epiktetos sangat menjunjung rasio, tapi ia lebih memilih diksi ‘kebijaksanaan’ ketimbang ‘kecerdasan’. Kecerdasan itu baru sebagian dari kebijaksanaan. Ia masih netral: bisa digunakan untuk tujuan yang baik dan buruk. Sementara itu, kebijaksanaan adalah kecerdasan yang telah berorientasi pada kebaikan dan keindahan. Kebijaksanaan inilah yang dalam peradaban Yunani Kuno dikenal sebagai sophia, yang bergandengan dengan philos (cinta) menjadi philosophia.


Selaras dengan Alam

Filsafat Yunani Kuno secara umum berorientasi pada kosmos (alam semesta). Mula-mula manusia takjub dan bertanya-tanya tentang alam. Bagaimana alam ini tercipta, bagaimana ia beroperasi, dan seterusnya. Lalu, pada gilirannya manusia pun sadar bahwa manusia merupakan bagian integral dari alam; untuk bisa hidup dengan baik manusia mesti mengenal (hukum) alam dengan baik pula, lalu menyelaraskan segala sikapnya dengan alam.


Dalilnya sederhana: semua yang ada di alam raya pada dasarnya tunduk pada hukum alam. Selaras dengan alam berarti kebaikan; menyimpang dari alam berarti keburukan. Semua makhluk, termasuk manusia, tak bisa lepas dari hukum alam. Manusia memang bisa seenaknya memilih tidak makan dan tidak tidur sampai berhari-hari, tapi konsekuensi buruknya tak bisa ia elakkan. Ia akan lapar, ngantuk, sakit, atau bahkan mati.

Baca juga:   Sepatu Putri Biru


Bagi Epiktetos, penyelarasan ini menjadi tujuan utama pengendalian pikiran. Katanya, “Jangan pikirkan mengapa [kondisi menjadi keos] seperti itu, tetapi pikirkan apa yang harus kau lakukan untuk menjaga agar kehendakmu selaras dengan alam.”


Karena manusia terdiri dari raga dan jiwa, maka hukum alam itu pastinya juga berlaku pada jiwa. Sebagaimana raga manusia akan celaka jika ia tidak tunduk pada hukum alam, jiwa manusia pun demikian. Sokrates membandingkan jiwa yang sehat dan bahagia dengan raga yang sehat dan segar. Ketika raga manusia mengalami ketidakseimbangan–mungkin karena satu atau beberapa fungsi organnya bermasalah–maka ia akan sakit. Begitu juga jiwa, ketika ia mengalami ketidakseimbangan–katakanlah karena hatinya terjangkit dengki dan benci–maka ia pun akan sakit.


Jadi, keseimbangan adalah kebaikan; adalah keindahan; adalah kebahagiaan. Dan sebaliknya. Begitu hukum alamnya.


Nah, prinsip ini selaras dengan istilah ‘kosmos’ yang mulanya berasal dari bahasa Yunani Kuno. Secara harfiah kosmos bermakna ‘ketertiban’ atau ‘susunan yang bagus/teratur’. Dari istilah ini lalu diturunkan istilah ‘kosmetike’ yang berarti ‘seni berpakaian dan menghias’. Dalam bahasa Inggris istilah ‘kosmos’ kemudian menjadi ‘cosmos’ dan bermakna ‘alam semesta’, sementara ‘kosmetike’ menjadi ‘cosmetic’ dan bermakna ‘alat/bahan kecantikan’.


Hewan Rasional

Untuk bisa hidup selaras dengan alam, selain pemahaman tentang alam, manusia juga butuh pemahaman tentang dirinya sendiri, sehingga ia bisa mengarahkan sikapnya, potensi-potensi kodrati dalam dirinya, untuk selaras dengan alam. Maka, keselarasan merupakan hasil pengendalian diri. Karena keselarasan berpangkal pada pemahaman, maka pengendalian diri berhubungan erat dengan soal pikiran. Dengan kata lain, hidup yang selaras dengan alam berarti “menjadikan nalar sebagai prinsip yang menentukan dalam segala hal”.


Peran nalar dalam hidup manusia memang krusial. Bagi Aristoteles, pembeda utama manusia dari hewan ialah nalarnya. Karena itu ia menyebut manusia sebagai hewan rasional. Di sisi lain, bagi Sokrates, “dalam diri kita semua, bahkan dalam pribadi setiap manusia yang baik, terdapat sifat dasar binatang buas yang melanggar hukum”. Ia merupakan prinsip buruk yang mewakili nafsu. Menurut Sokrates lagi, “sebaiknya prinsip rasional, yang bijaksana dan memperhatikan seluruh jiwa itu, memimpin, dan prinsip yang sangat bernafsu dan penuh semangat menjadi rakyat dan bersekutu”. Jika demikian, “begitu prinsip yang lebih baik itu bisa mengendalikan prinsip yang lebih buruk, maka seseorang bisa dikatakan menjadi tuan bagi dirinya sendiri”.


Jadi, (dominasi) nalar membuat manusia menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Karena setiap manusia diberkahi nalar oleh Dewa, maka setiap manusia sebenarnya adalah pemimpin. Ia menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan makhluk-makhluk lain yang tak rasional. Tanpa nalar, manusia akan kehilangan keutamaannya sebagai manusia dan tak bisa menyelaraskan hidup dengan alam. Jiwa manusia adalah rasio. Jiwa kosmos adalah hukum alam/rasio universal.


Individualistik

Di permukaan, ajaran Epiktetos tampak sangat individualistik. Ia mendorong manusia untuk “membatasi kebaikan dan manfaat pada keutamaan dan kearifan yang tergantung pada pikiran” sendiri, hal satu-satunya yang berada dalam kendali individu. Di luar itu–yang mencakup orang lain–seorang individu tak punya kendali absolut atasnya. Ia bisa saja melakukan sesuatu terhadap orang lain, tapi apakah perlakuan itu direspon baik atau tidak, itu di luar kendalinya. Jika orang lain berlaku tak sesuai keinginannya, lalu segalanya kacau-balau, ia paling-paling hanya bisa bilang, “Itu bukan urusanku.” Di sini ia harus legawa menerima keadaan atau bersikap bodo amat terhadap segala urusan yang berada di luar kendalinya. Kalau tidak, kalau ia tetap ngotot menuntut segala yang eksternal dari dirinya sesuai dengan kemauannya, ia akan frustrasi.


Meski ajaran Epiktetos terkesan individualistik dan tak memikirkan orang lain, sebenarnya implikasinya sangat berhubungan dengan kebaikan publik. Epiktetos berkata, “Cukuplah jika setiap orang melakukan pekerjaan masing-masing. Dan, jika kau menyediakan bagi negaramu satu lagi warga negara terpercaya dan terhormat, bukankah kau memberikan manfaat kepadanya?”


Ukuran keutamaan dalam ajaran Epiktetos ialah keadilan. Manusia yang utama ialah manusia yang adil. Epiktetos berpikir bahwa tidak mungkin semua orang mendapat peran menjadi orang kaya, atau orang rupawan, atau orang berpangkat, atau lainnya. Perbedaan adalah kemutlakan dalam kosmos. Meski demikian, setiap manusia diberkahi nalar, sehingga pada prinsipnya ia adalah pemimpin. Ia punya kesempatan dan potensi yang sama untuk memainkan perannya dengan baik, yaitu dengan adil.


Menjadi adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya; memperlakukan sesuatu sesuai kodratnya; tidak mengurangi dan tidak melebihkan; dan itu pada dasarnya adalah syarat bagi sikap hidup yang selaras dengan alam. Hukum alam itu sendiri sebenarnya keadilan mutlak. Ketika manusia menjadi adil, ia menyelaraskan diri dengan alam. Ketika keselarasan tercipta, secara alamiah kedamaian pun akan tumbuh. Begitulah kodratnya. Persis seperti makan mendatangkan kenyang, mengindra keindahan mendatangkan senang, dan seterusnya. Kosmos itu tertata rapi oleh hukum alamnya. Segala yang ada di dalamnya, baik dalam dimensi lahir maupun dimensi batin, mesti tunduk pada hukum alam itu. Pun hewan rasional.


Maka, hanya dengan menjadi adil saja manusia bisa menjadi rahmat bagi sekalian alam. Manusia yang adil minimal tidak akan merusak, atau mengacau, atau mengganggu apa dan siapa pun di sekitarnya. Manusia yang adil memahami perannya di muka bumi, bagaimana tanggung jawab dan kewajiban peran tersebut, dan melakoninya dengan sebaik-baik kemampuannya. Ketika ia memainkan perannya dengan adil, yaitu sesuai kodratnya, ketika itulah otomatis ia menjadi rahmat bagi orang lain, entah itu teman (saat ia berperan sebagai teman), pasangan (saat ia menjadi pasangan), anak (saat ia menjadi orang tua), orang tua (saat ia menjadi anak), tetangga (saat ia menjadi tetangga), dan seterusnya. Di sinilah hubungan ajaran Epiktetos dengan kebaikan publik.

Baca juga:   Ajai


Dan perlu digarisbawahi, usaha yang memberi manfaat bagi orang lain itu pada dasarnya bukan didorong oleh motivasi untuk menyenangkan orang lain–yang cenderung altruistik–melainkan oleh motivasi untuk menjadi pribadi yang adil–yang penekanannya terletak pada kepentingan diri sendiri. Jika seseorang berpatok pada (kemauan) orang lain, ketika orang-orang menyukai gaya hidup berfoya-foya, misalnya, maka ia akan meninggalkan keadilan. Sebaliknya, orang yang memang sungguh-sungguh ingin menjadi adil akan selalu berusaha adil, tak peduli apa pun kemauan orang lain di sekitarnya. Ia berusaha adil karena ia tahu adil itu baik untuk dirinya. Ia lebih mementingkan dirinya sendiri ketimbang orang lain.


Anakmu Bukanlah Anakmu

Implikasi lain dari ajaran Epiktetos adalah pengenalan ilusi rasa memiliki. Karena yang sepenuhnya dalam kendali individu hanyalah akalnya sendiri, maka segala yang di luar kendalinya sejatinya bukanlah miliknya, termasuk orang-orang yang ia pikir ia miliki, seperti sahabat, pasangan, anak, pengikut, dan lainnya. Ia hanya akan lelah dan frustrasi jika berharap dan memaksakan mereka selalu sesuai dengan kemauannya, hanya karena ia pikir ia memiliki mereka.


Untuk lebih memperjelas implikasi ini, mari kita rujuk sebuah puisi dalam buku The Prophet karya Kahlil Gibran yang menggambarkan prinsip ajaran Epiktetos dengan tepat. Penggalannya seperti berikut. “Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan. Mereka datang melaluimu, tapi tidak berasal darimu. Walaupun mereka bersamamu, mereka bukanlah milikmu. Kau boleh memberi mereka cintamu, tapi bukan pikiranmu, karena mereka memiliki pikiran sendiri.”


Sebelumnya telah dibahas bahwa nalar (pikiran) adalah anugerah yang menjadikan setiap manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Karena kepemimpinan sejajar dengan kedaulatan/kemandirian/kebebasan, maka setiap manusia yang sudah akil balig sejatinya akan condong pada kedaulatan/kemandirian/kebebasan. Karena definisi ‘setiap manusia’ juga mencakup siapa saja selain diri seorang individu, maka kedaulatan itu sejatinya juga sama-sama dimiliki oleh anak, pasangan, dan sahabat-sahabat si individu. Dengan berpegang pada prinsip begini, setiap individu pada akhirnya akan menemukan bahwa yang benar-benar ia miliki sebenarnya hanyalah dirinya saja, persisnya lagi pikirannya sendiri.


Bagi Epiktetos, dengan menyadari mana yang sepenuhnya dimiliki dan mana yang tidak, seseorang tidak akan memandang kehilangan–peristiwa yang di luar kontrol manusia–sebagai peristiwa yang menyiksa. Ketika mengetahui anak atau pasangan seseorang meninggal, kita dengan tenang dapat berkata, “Ya, itulah hidup. Satu per satu manusia pasti mati. Masa berganti, generasi pun berubah. Semua hanya soal waktu.” Tapi, jika kematian itu terjadi pada keluarga sendiri–orang-orang yang kita pikir kita miliki–kita biasanya malah menjadi tak rasional. Padahal, menurut Epiktetos, “Kita harus ingat bagaimana perasaan kita ketika kita mendengar ini [kematian] terjadi pada orang lain.” Karena itu, “Ketika kau mencium istri atau anakmu yang masih kecil, katakan bahwa kau mencium seorang manusia. Maka, jika salah seorang dari mereka meninggal, kau tidak akan berduka.”


Sumber dari banyak kefrustrasian manusia ialah ilusi rasa memiliki. Ia pikir ia bisa mengendalikan orang-orang yang sebenarnya memiliki kedaulatan mereka sendiri, yang berarti berada di luar kendalinya, sehingga ia akhirnya kecewa, lelah, frustrasi, dan seterusnya.


Sampai di sini memang ajaran Epiktetos tampak semakin muram, seolah ia menganjurkan hidup tanpa emosi. Namun, sebenarnya tidak persis demikian. Ini lebih ke masalah letak penekanan saja. Meninggikan rasio tidak sama dengan melenyapkan emosi, sebagaimana mengangkat seseorang menjadi raja tidak berarti membunuh orang-orang lainnya yang bukan raja.


Filsafat sebagai Praktik Cara Hidup

Bagi Epiktetos, keutamaan filsafat terletak pada praktik, bukan teori. Belajar filsafat bukan ditujukan untuk sekadar bisa tahu macam-macam teori, tapi terutama untuk bisa menerapkan cara hidup yang bijaksana dalam keseharian. Dalam filsafat, teori digunakan untuk menjelaskan kenapa manusia harus berupaya bijaksana. Ia menopang praktik. Dengan praktik, filsafat menjadi manfaat.


Karena praktik diutamakan, filsafat menjadi urusan yang tidak gampang–minimal tidak segampang berteori. Kesulitan terbesar terletak pada penjinakan nafsu yang condong pada kenikmatan lahiriah; yang menjadi sumber keinginan-keinginan tak terbatas. Bagi Epiktetos, kenikmatan lahiriah cenderung bertentangan dengan kenikmatan batiniah, yang di dalamnya mencakup kebebasan dan kedamaian hasil mempraktikkan filsafat. Ia mengingatkan, “Tidak mudah, yakinlah, untuk menjaga agar kehendakmu selaras dengan alam dan juga mempertahankan hal-hal lahiriah. Jika kau peduli pada salah satunya [‘mempertahankan hal-hal lahiriah’/kenikmatan lahiriah], kau pasti akan mengabaikan yang satu lagi [‘selaras dengan alam’/kenikmatan batiniah].”


Ketika mempelajari dan mempraktikkan filsafat sebagai cara hidup, “Semua perhatian harus terarah pada pikiranmu.” Konsekuensi ini sangat berat: “Kau harus tidak tidur, bekerja sangat keras, menyingkir dari teman-teman dan keluarga, tidak dihargai oleh budak muda, dicemooh oleh orang di jalanan, dan semakin buruk dalam hal jabatan, atau di mata hukum, di mana saja. Pikirkan semua ini, lalu lihat apakah kau ingin menukarnya dengan ketenangan, kebebasan, dan ketenteraman. Jika tidak, jangan mendekati filsafat”.


Hidup Begitu Indah

Orang yang berpikir bahwa “kematian bukanlah sesuatu yang mengerikan”–”yang mengerikan adalah pendapat bahwa kematian itu mengerikan”–adalah orang yang tak akan mengatakan Tuhan sebagai Zat yang kejam, tidak adil, iseng, dan seterusnya. Demikian pula Epiktetos.


Jika ia ditanya kenapa sih manusia diciptakan oleh Dewa, barangkali ia akan menjawab: karena Dewa ingin manusia mengalami kebaikan-Nya, limpahan nikmat-Nya. Bukankah Dewa itu Maha Baik? Tidak mungkin Dewa punya tujuan buruk dalam penciptaan manusia dan kehidupan di alam semesta.


Masalahnya, manusia hanya bisa mengenal nikmat jika ia mengenal derita, sebagaimana terhadap banyak hal lainnya: panjang dan pendek, siang dan malam, cantik dan jelek, muda dan tua, luang dan sibuk, kaya dan miskin, hidup dan mati, dan seterusnya. Bukankah manusia baru menyadari nikmat sehat setelah kesehatan itu hilang dan berganti menjadi sakit? Begitu juga terhadap nikmat-nikmat lainnya: ia baru disadari setelah ia menghilang. Manusia kadang melupakan yang sebagian (karena telah terlalu terbiasa; karena begitu banyak) dan berlarut-larut dengan sebagian lainnya.

Baca juga:   Hudep Nyoe


Epiktetos berkata, “Karena kau memiliki kekuatan ini [pikiran] secara bebas dan sepenuhnya milikmu, mengapa kau tidak menggunakannya dan menyadari hadiah-hadiah apa yang telah kau terima dan dari penderma mana kau menerimanya, alih-alih duduk diliputi duka dan merintih?”


Seperti Dea Anugrah, Epiktetos pun pasti meyakini bahwa “hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.” Jika kau mendengar “hidup ini indah” dari lagu Ahmad Dhani, mungkin kau akan sinis: “Ya, itu kan bagi Ahmad Dhani. Hidupnya enak. Coba dong jadi aku (yang sangat malang ini)!”


Nah, jika demikian, kita mestinya takjub sebab ajaran tentang kebebasan ini, cara pandang hidup-begitu-indah ini lahir dari pengalaman dan pikiran seorang mantan budak. Ya, Epiktetos menjalani masa kecil hingga mudanya sebagai budak–dalam makna harfiah! Ia juga memiliki kaki yang pincang serta hidup sambil menanggung penyakit untuk waktu yang lama. Meski menjadi budak dan dihinggapi penyakit secara lahiriah, kau tahu, ia jelas merdeka dan sehat secara batiniah. Dan itu yang terpenting. “Sesungguhnya pikiran adalah kita.”


Yang Masuk Akal, Yang Berumur Panjang

Bagi Hegel, keseluruhan realitas bersifat rasional dan disebut akal dunia. Akal dunia tercermin dalam sejarah pemikiran. Ia dinamis dan diilustrasikan seperti sungai yang terus mengalir, yang alirannya dibentuk oleh lekukan-lekukan sepanjang sungai; pun bebatuan di dalamnya. Aliran sungai adalah gagasan-gagasan yang terus mengkritisi dirinya sendiri–pemikiran lama (tesis) vs pemikiran baru (antitesis)–sementara lekukan dan bebatuannya adalah dasar kesadaran manusia: konteks sejarah setiap pemikiran itu. Polanya selalu sama; prosesnya semakin lama semakin menuju rasionalitas yang semakin besar. Argumen-argumen yang lemah dalam suatu pemikiran akan tersisihkan lewat seleksi dialektis sejarah pemikiran, dan hanya menyisakan argumen-argumennya yang rasional saja untuk terus mengalir (dan kembali diuji). Dengan kata lain, gagasan-gagasan besar selalu menghadapi tantangan gagasan-gagasan baru di sepanjang masa, dan “hanya yang masuk akallah yang akan berumur panjang.”


Nah, boleh dibilang, ajaran Epiktetos masih saja relevan sampai sekarang. Ia berakar pada Sokrates (w. 399 SM) dan kian berkembang pada masa Epiktetos (w. 135). Pada Abad Pertengahan (500–1500) ajaran Epiktetos diadopsi oleh otoritas Kristen sebagai salah satu panduan hidup. Lalu, yang terbaru, pada 2016 ia mengalami reinkarnasi menjadi buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson, yang dalam waktu singkat menjadi mega best-seller di seluruh dunia.


buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson

Jika kita perhatikan dengan saksama, sebetulnya ajaran Epiktetos juga selaras–sepenuhnya atau sebagian besar–dengan banyak ajaran cara hidup lainnya sepanjang masa, baik dalam model agama yang dogmatik maupun dalam model filsafat yang kontemplatif. Di sana selalu ditemukan anjuran-anjuran kepada keseimbangan, pengendalian diri, keadilan, kesederhanaan, ketertiban, kerendahhatian, keikhlasan, kesyukuran, kesabaran, dan seterusnya. Agama memerintahkan, filsafat menjelaskan. Semuanya sama-sama bermuara pada kebaikan manusia. Jika ajaran tersebut kita dapatkan dalam model agama, yaitu berupa perintah Tuhan Yang Maha Besar, tidak berarti bahwa kita harus melaksanakannya untuk kebaikan Tuhan. Zat yang sempurna tak butuh apa-apa lagi bagi kebesaran-Nya yang absolut. Maka, pelaksanaan ajaran tentang keselarasan hidup itu sudah pasti untuk kebaikan pelaksananya sendiri. Bukankah hanya dalam keselarasan hidup saja jiwa manusia bisa sehat–damai, bahagia?


Catatan Akhir

Seperti Sokrates, Epiktetos sebenarnya tidak menuliskan ajarannya. Ia memang mengajarkan filsafat secara tatap muka, tapi ia tidak menulis. Buku Encheiridion dan Discourses yang sering dirujuk sebagai karyanya merupakan catatan muridnya, Arian, tentang ajaran Epiktetos. Semasa menjadi budak, Epiktetos telah dikenal masyarakat sebagai pribadi yang bijak. Karena itu, setelah kemerdekaannya orang-orang berdatangan untuk belajar kepadanya.


Bisa dibilang, Epiktetos hanya berceramah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh ingin belajar filsafat dengannya. Ia tak memaksakan ajarannya kepada siapa pun yang memang tidak berminat. Ia terlalu bodo amat untuk itu. Ia juga tak mencari pengakuan, apalagi puja-puji orang lain. Ia mengajarkan filsafat karena orang-orang ingin belajar dengannya; karena ia menyadari tanggung jawab untuk berbagi kebaikan. Di hadapan murid-muridnya, ia pun sadar bahwa ajarannya akan selalu punya kemungkinan diragukan, dikritik, disalahpahami, ditolak, atau bahkan dicemooh, dan itu semua di luar kendalinya. Jika gagasan-gagasannya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi sejumlah orang, ia tentu akan bahagia. Tapi, kalaupun tidak, ia tentu akan tetap bahagia. Ia akan tetap damai dan terus menjadi dirinya sendiri tanpa ragu. Sebab Epiktetos adalah Epiktetos. Ia selalu cukup dengan dirinya sendiri.


Seperti yang telah ia bilang, “Ke mana pun aku pergi, aku akan baik-baik saja, karena aku sudah baik-baik saja di sini–bukan karena tempatnya, tetapi sebagai akibat dari prinsip-prinsipku, dan aku akan membawa prinsip-prinsip itu bersamaku. Tak seorang pun bisa merampas prinsip-prinsip itu dariku; mereka adalah harta milikku satu-satunya, yang tidak bisa dipindahkan dan cukup bagiku di mana pun aku berada dan apa pun yang kulakukan.”


REFERENSI


Epiktetos. 2021. How to Be Free: Sebuah Panduan Klasik Hidup Stoik. Diterjemahkan Ingrid Nimpoeno dari How to Be Free: An Ancient Guide to the Stoic Life. Jakarta: KPG.


Plato. 2019. Apologia Socrates. Diterjemahkan Atollah Renanda Yafi dari Plato’s Apology of Socrates. Yogyakarta: Basabasi.


Plato. 2021. Republik. Diterjemahkan Sylvester G. Sukur dari The Republic. Yogyakarta: Narasi.


Tinggalkan balasan!