“Coba lihat itu si Desi, apalagi yang dia beli?” Hili mencondongkan tubuhnya ke arah samping rumahnya ketika ia melihat satu mobil pengangkut barang berisi televisi, kulkas, dan lemari berhenti di halaman indekos tetangganya. Indekos itu berada di samping rumahnya.

“Iya, ya, padahal, dia kan sehari-harinya aktivitasnya hanya berada di sekitar sini-sini saja, berbeda dengan kita yang memang mempunyai pekerjaan dan sering bepergian ke banyak tempat. Aku heran, memangnya apa pekerjaannya? Mengapa bisa uangnya banyak? Kemarin dia juga membeli meja dan kursi baru, darimana uangnya?” Jana ikut menimpali perkataan Hili.

students in the classroom whispering
Ilustrasi gosip oleh cottonbro di Pexels.com

“Mungkin dia itu keturunan anak orang kaya sehingga kekayaannya banyak,”

“Kalau dia keturunan orang kaya, uangnya banyak, tidak mungkinlah dia tinggal di indekos. Pasti dia sudah membeli rumah secara tunai tanpa kredit,”

“Ya juga ya, lagipula tidak mungkinlah kalau dia mempunyai uang banyak dia mau tinggal di rumah indekos yang kecil seperti itu. Apalagi biaya indekosnya kan lebih murah dari tempat indekos kita. Fasilitasnya juga berbeda dibandingkan daripada fasilitas di indekos kita,”

Hili dan Jana masih memerhatikan kesibukan yang terjadi di indekos Desi. Jana mengajak Hili untuk menghampiri Desi.

“Eh, Desi, Kamu membeli barang baru lagi ya?” Hili tersenyum manis ketika ia dan Jana sudah sampai di teras depan indekos Desi.

“Eh, Hili, Jana. Iya, Alhamdulillah, aku baru membeli perabotan baru,” ujar Desi. Ia tersenyum ke arah mereka. Ia juga menyambut kedatangan Hili dan Jana dengan ramah.

“Ayo masuk!”

Kalian mau minum apa? Teh atau sirup? Ada sirup rasa jeruk, nanas, melon, dan leci,” tanya Desi setelah Hili dan Jana berada di ruang tamu kecil tempatnya indekos.

“Kamu tidak usah repot-repot, tetapi, kalau ada bolehlah. Aku mau minum sirup melon,” ujar Jana.

“Boleh minta dua sirup? Aku haus banget. Aku mau minum sirup jeruk dan sirup leci,” ujar Hili.

“Boleh, Sebentar ya aku ambilkan,” ujar Desi masih dengan senyum manisnya.

Ketika Desi berada di belakang untuk menyiapkan minuman, Hili dan Jana memerhatikan ruangan indekos Desi. Ruangan satu petak itu diisi dengan sofa, meja, dan lemari yang membatasi tempat tidur. Dua pigura berukuran sedang berisi lukisan bunga dan buah di pasang di dua sisi dinding. Bunga mawar merah jambu segar dalam pot diletakkan di meja kecil yang berada di antara dua sofa yang berukuran kecil. Dinding kamar indekosnya bercat biru muda.

“Rapi juga dia ya,” bisik Hili kepada Jana.

“Ya, aku pikir kamar indekosnya berantakan. Ternyata kamarnya ditata rapi dan bersih,” kata Jana menanggapi.

“Ya, iyalah, perabotannya juga semua baru. Wajar ruangannya jadi tampak rapi dan bersih,” ujar Hili.
Desi muncul dari belakang dengan membawa tiga gelas berisi minuman sirup, dua gelas jus alpukat, dan empat piring berisi puding, tahu isi, risol, dan pisang goreng.

“Rajin banget Kamu Desi,”

“Eh, mana ditambah jus,”

“Ada kue-kue lagi,”

Hili dan Jana tersenyum senang.

“Banyak ya uangmu sehingga Kamu dapat menyediakan makanan dan minuman ini,”

“Alhamdulillah, aku baru dapat uang dari hasil penjualan kerajinan tangan. Kalau kalian mau memesan taplak meja, tas, dompet, pigura, pot bunga, lampu gantung, dan gantungan kunci, kalian bisa memesan kepadaku,” ujar Desi mempromosikan usahanya.

“Oh, kamu mendapat penghasilan dari kerajinan tangan itu. Selama ini kami heran, kamu aktivitasnya hanya di sekitar ini saja, tetapi uangmu bisa banyak. Kami sampai bertanya-tanya pekerjaanmu apa?”

“Iya ini keseharianku berhubungan dengan produk kerajinan tangan, melestarikan produk-produk lokal. Minggu depan aku pindah dari sini. Aku sudah membeli rumah mungil tidak jauh dari sini. Perabotan-perabotan ini nanti untuk melengkapi isi di dalam rumah baruku nanti,” ujar Desi sambil tersenyum. Hili dan Jana mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Nurhaida
Banda Aceh, Mei 2022

Baca juga:   Ilfi

Tinggalkan balasan!