Jika kita bertemu seseorang dengan kecerdasan langka, kita harus tanyakan buku apa yang ia baca.

–Ralph Waldo Emerson


Matt Bellamy (Youtube/Muse)

Tak asing lagi, kecerdasan dan buku sering kali dipandang sebagai dua hal yang memiliki asosiasi sangat erat. Konon, ada buku-buku luar biasa di balik kecerdasan orang-orang yang luar biasa. Buku adalah rumah gagasan; gagasan adalah pembentuk pikiran/kesadaran; dan pikiran adalah faktor yang menjadikan manusia berbeda dari binatang, atau lebih lanjut: menjadikan manusia satu lebih unggul dari manusia lainnya.


Dalam pengertian lain, preferensi dalam membaca buku tertentu bisa memberikan sejumlah gambaran diri tentang si pembaca. Membaca buku adalah pengalaman subjektif. Seseorang menyukai buku-buku yang cocok dengan jiwanya–atau sebaliknya, buku-bukulah yang semula membentuk jiwa si pembaca.


Meski buku bukanlah faktor satu-satunya yang membentuk pikiran/kesadaran manusia, ia setidaknya sering kali menjadi faktor penting. Tentu buku-buku yang dimaksud di sini ialah buku-buku bagus.


Nah, kali ini kita akan membahas buku-buku yang menjadi bacaan favorit orang-orang jenius superkreatif di bidang musik. Buku dan musik tampaknya bukanlah dua hal yang punya hubungan dekat. Namun, jika buku yang dimaksud ialah karya sastra dan musik yang dimaksud ialah lagu dengan komponen lirik sebagai bagiannya, tentu relevansi keduanya jadi lebih mudah dibayangkan.


Oh ya, pembahasan ini terdiri atas dua tulisan. Pada tulisan ini, sebagai bagian pertama, kita akan fokus pada musisi-musisi asal Inggris dan Irlandia. Pada tulisan kedua kita akan fokus pada musisi-musisi asal Amerika Serikat. Pada masing-masing tulisan, kita akan membicarakan lima musisi yang boleh dibilang adalah bintang-bintang super di langit musik seplanet bumi.


Nah, siapa sajakah mereka, dan buku-buku apa sih yang mereka baca–terutama yang membuat mereka terkesan? Yuk, mari kita mulai pembahasannya!


Chris Martin

Chris Martin (Youtube/Coldplay)


Siapa sih yang tidak tahu lagu-lagu hit seperti Yellow, Clocks, The Scientist, dan Viva La Vida? Setelah meraih tujuh Grammy Award dan menjual lebih dari seratus juta kopi album di seluruh dunia, Coldplay bisa disebut salah satu grup musik tersukses di abad ke-21. Prestasi ini jelas tak terlepas dari peran vital Chris Martin sebagai vokalis, pianis, gitaris, dan penulis lagu dalam band.


Terkait kepiawaian Chris dalam bermusik dan menulis lagu, Jay-Z pernah berkata, “Saya sudah cukup lama di industri [musik] untuk tahu kapan saya berhadapan dengan seorang jenius, dan Chris Martin adalah orangnya.” Bahkan, tak tanggung-tanggung, musisi kondang Amerika tersebut juga meramalkan, “Beberapa tahun mendatang orang-orang Inggris akan mengenangnya sebagai Shakespeare era modern. Ia artis rekaman yang luar biasa, penulis lagu yang hebat, dan sangat memukau di atas panggung. Jika kau punya kesempatan menonton konser Coldplay, datanglah–kau tak akan menyesalinya.”


Chris Martin lahir di Exeter pada 1977. Ia berasal dari keluarga kelas menengah. Ayahnya seorang akuntan dan ibunya guru musik. Semasa remaja Chris bersekolah di Sherborne School, salah satu sekolah bergengsi dan tertua di Inggris. Lalu, ia melanjutkan pendidikan di Ancient World Studies: Greek and Latin di University College London, dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Jadi, bisa dibilang ia punya catatan bagus dalam urusan pendidikan formal. Di Inggris abad ke-20, pelajar semacam Chris Martin mudah dibayangkan sangat akrab dengan budaya membaca tentunya.


Nah, dalam suatu wawancara BBC Radio, Chris membagikan ceritanya tentang pengalaman membacanya di masa muda. “Aku menyukai semua cerita Sherlock Holmes karena dulu aku tumbuh di pedesaan. Ada banyak hal tentang London era Victoria yang berasap dan tampak begitu misterius dan cerdas pada waktu yang sama. Itulah kenapa ia tak terlupakan. Semua orang merasakannya”.


Buku Sherlock Holmes terjemahan bahasa Indonesia


Ya, Chris Martin adalah penggemar Sherlock Holmes. Fiksi detektif ini merupakan karangan Sir Arthur Conan Doyle dan pertama kali beredar pada 1887 di Inggris. Total, ada enam puluh kisah Sherlock Holmes yang ditulis Doyle, 56 di antaranya berupa cerita pendek dan empat sisanya dalam bentuk novel. Dalam petualangan-petualangan serunya, Holmes selalu digambarkan sebagai sosok jenius yang dapat memecahkan berbagai macam kasus kriminal, bahkan yang paling sulit sekalipun. Maka tak mengherankan jika kemudian ia menjadi ikon kejeniusan itu sendiri, setidaknya di dunia fiksi, sebagaimana Albert Einstein di dunia nyata.


Cara Holmes menganalisis suatu kasus sangat menarik, sering kali menggunakan pengamatan yang tak terduga, selain metode berpikir deduksi yang bisa membuatnya menarik kesimpulan tentang seseorang, atau suatu peristiwa berdasarkan beberapa informasi yang diindranya. Segala kecakapannya ini juga tak terlepas dari wawasannya tentang sejarah kriminal di Inggris yang mencapai taraf ensiklopedik, serta kepakarannya dalam pemecahan kode, pelacakan jejak kaki, dan analisis tulisan tangan yang sangat baik. Selain itu, ia juga lihai dalam menyamar dan berkelahi jika sewaktu-waktu diperlukan. Karena reputasi luar biasanya ini, Holmes sering diminta membantu polisi lokal ketika mereka menemukan kebuntuan dalam sejumlah kasus yang sangat rumit.


Pada awal-awal kehadirannya kisah Sherlock Holmes sebenarnya lumayan sepi dari perhatian pembaca. Namun, tak lama berselang, setelah kisah-kisah Sherlock Holmes lainnya terbit, Sherlock Holmes segera menjadi tokoh populer di Inggris. Sejak itu kisah-kisah Sherlock Holmes terus memiliki banyak penggemar dan hingga sekarang buku-bukunya masih beredar di seluruh dunia. Di samping itu, kisah-kisah Sherlock Holmes juga telah sering difilmkan, dan tokoh Holmes telah diperankan oleh banyak aktor, termasuk aktor-aktor terkenal seperti Robert Downey Jr. dan Benedict Cumberbatch.


Ketika kisah Sherlock Holmes difilmkan kembali pada 2009, Robert Downey Jr. selaku pemeran Sherlock Holmes sempat diwanti-wanti Chris Martin yang merupakan teman dekatnya. Ia diingatkan Chris bahwa dalam cerita-cerita karangan Doyle, Holmes dideskripsikan sebagai sosok yang tinggi dan kurus. Robert berkisah soal itu, “Ia fan berat Sherlock Holmes. Ia berkata kepadaku sebelum kami memulai [pembuatan film], ‘Kau harus kerempeng. Kau harus kurus supaya kau dapat memerankan Holmes.’ Maka, setiap kali aku hendak mengambil kue aku segera teringat pada Chris dan mengabaikan kue tersebut. Itu sulit.”


Begitulah, Chris Martin adalah seorang die hard Sherlockian! Ia tumbuh besar bersama kisah-kisah Sherlock Holmes dan menjunjung ingatan tersebut hingga masa dewasanya.


Matt Bellamy

Matt Bellamy (Youtube/Muse)


Musisi Inggris lainnya yang berjaya di abad ke-21 ialah Matthew Bellamy. Bersama Muse, Matt menggebrak ranah musik Inggris dan global lewat lagu-lagu rock alternatif semacam Plug in Baby, Hysteria, Supermassive Black Hole, dan Resistance. Perannya dalam band begitu vital. Ia menulis hampir semua lagu Muse; mengisi bagian vokal, gitar utama, dan piano. Dalam setiap konser, ia selalu bernyanyi sambil memainkan gitar atau piano. Singkat kata, ia adalah otak dan jiwanya Muse.

Baca juga:   Sastra dan Logika


Jika permainan gitar Matt mengingatkan kita pada Jimi Hendrix dan permainan pianonya pada pianis-pianis romantik seperti Rachmaninoff dan Chopin, maka lirik-lirik yang ditulisnya akan membawa imajinasi kita pada distopia. Kondisi politik yang carut-marut, konspirasi-konspirasi licik, kejahatan kapitalis, ekses kemajuan teknologi, pembodohan masyarakat, pembangkangan warga sipil, orang-orang sakit jiwa, perang, perang, perang, dan kehancuran dunia, semua itu sering menjadi tema lagu-lagu Muse.


Bicara soal tema-tema muram begitu kita akan mudah terseret ke pembicaraan tentang fiksi distopis. Di sanalah ide-ide tentang kehidupan yang buruk sering kali dibayangkan seliar-liarnya, dibikin ekstrem, dan penuh horor. Sebagian ide-ide dalam fiksi distopis memang tak pernah, atau belum terjadi di kenyataan. Tapi, sebagian lain, satu per satu memang bukan lagi hanya sekadar fiksi belaka. Ia benar-benar mewujud di depan mata manusia.


Mahakarya distopis yang sangat terkenal dan menjadi model utama fiksi distopis ialah novel 1984 karya George Orwell. Kisahnya tentang pemerintahan totaliter yang dikendalikan secara biadab oleh sosok misterius bernama Big Brother. Ia mengebiri kebebasan warga negaranya habis-habisan, mengawasi setiap gerak-gerik siapa saja secara superketat, melarang hubungan seks (kecuali untuk kepentingan penguasa), melancarkan propaganda tiada henti untuk melestarikan kebodohan rakyat, menebar teror pemusnahan sadis bagi para pembangkang, menghasut warga negara untuk mati-matian membenci musuh negara, mengotak-atik sejarah demi citra baik negara dan penguasa,  dan seterusnya. Di tengah-tengah keangkeran semacam itu seorang pria bernama Winston Smith diam-diam berusaha mempertahankan kewarasannya. Kau tahu, itu juga berarti memelihara gagasan untuk melawan.


Buku 1984 terjemahan bahasa Indonesia


Selaku penyuka ide-ide distopis, Matt Bellamy jelas tak terlepas pula dari bayang-bayang novel yang perdana terbit pada 1949 ini. Bahkan, pada 2009 Muse merilis album yang secara umum merujuk pada novel 1984. Judul albumnya The Resistance. “Album ini semacam kisah cinta dengan latar belakang situasi Big Brother dalam 1984,” kata Matt dalam suatu wawancara dengan media Prancis. “Ini semacam perbandigan antara sastra, cerita 1984 yang ekstrem, dan fakta bahwa Inggris tampaknya telah menuju ke situasi ini. Jadi, Resistance adalah sentimen global dan umum bahwa tidak ada lagi demokrasi yang nyata, bahwa kebebasan bicara adalah ilusi, dan bahwa orang-orang terus-menerus curiga dengan perasaaan bahwa negara mencurigaimu, sehingga membuat paranoid dan gelisah.”


Kisah cinta yang disebut Matt utamanya terdapat dalam lagu Resistance, yang sekaligus menjadi judul album kelima Muse ini. Ia merupakan kisah cinta Winston Smith dan Julia dalam novel 1984. Kedua sejoli ini saling mencintai, tapi sebuah kekuatan superpower merintangi hasrat mereka untuk bersatu. Mereka adalah orang-orang yang terjebak dalam mesin kekuasaan, sehingga mau tak mau harus mengabdikan hidup sepenuhnya demi kepentingan negara. Dalam pengertian tersebut, mereka dilarang menjalin hubungan asmara. Namun, sisa-sisa kewarasan dan nurani mereka lambat-laun mendorong mereka untuk mengambil risiko terburuk sekalipun. Mereka tak tahan dengan korupnya kekuasaan yang mengendalikan mereka. Mereka juga tak bisa terus-menerus menyembunyikan kata hati mereka yang saling mencintai. Maka, mereka akhirnya lebih tunduk pada cinta daripada kekuasaan yang mengancam. “Cinta adalah perlawanan kita,” tulis Matt di bagian refrain lagu tersebut.


Album The Resistance boleh dibilang sukses besar di pasaran. Apresiasi positif berdatangan dari banyak pihak dan pada 2011 ia menjadi Best Rock Album pada Grammy Award ke-53. Lagu Resistance sendiri juga masuk nominasi Grammy Award ke-53 dalam dua kategori: (1) Best Rock Song dan (2) Best Rock Performance by a Duo or Group with Vocal, tapi sayangnya tidak menang.


Pada 2009 Muse mengatakan kepada MTV bahwa The Resistance merupakan karya paling personal mereka sepanjang karir bermusik sejak album perdana Muse pada 1999. Di kesempatan itu Matt juga menyampaikan bahwa The Resistance bisa dianggap semacam musik pendamping bagi novel 1984.


David Bowie

David Bowie (Youtube/David Bowie)


David Bowie adalah seniman langka penuh bakat. Ia musisi besar yang telah melahirkan banyak hit seperti Space Oddity, The Man Who Sold the World, Life on Mars, Starman, dan Heroes. Ia juga aktor untuk puluhan film, acara tivi, dan teater. Tak hanya itu, ia juga pelukis yang telah menggelar sejumlah pameran lukisan di Inggris dan beberapa negara lain. Dalam bermusik, ia tak hanya jago menulis lagu, tapi juga bagus dalam bernyanyi, serta piawai memainkan sejumlah instrumen, seperti gitar, keyboard, piano, synthesiser, harmonika, saksofon, biola, drum, dan lainnya. Dengan keterampilan kompleks seperti itu orang-orang kadang menyebutnya renaissance man–suatu sebutan yang segera mengingatkan kita pada seniman-seniman jenius Italia sekaliber Leonardo da Vinci dan Michelangelo.


Khusus di bidang sastra, selain menulis lirik-lirik luar biasa untuk banyak lagu-lagu hitnya, peraih enam Grammy Award ini juga menggandrungi sastra secara serius. “Dalam seminggu aku bisa menyelesaikan tiga atau empat buku,” katanya dalam wawancara dengan majalah Ikon pada 1995. “Kita secara tradisi adalah bangsa yang sangat akrab dengan sastra [….] Dan aku mewarisi kecintaan besar pada sastra. Aku suka diceritakan sebuah kisah, ditunjukkan ide-ide baru.”


Kesukaan David pada membaca bisa dibilang telah berada pada level maniak, dan itu umum diketahui kawan-kawannya sejak lama. Ke mana-mana ia hampir selalu membawa buku supaya ia tak gelisah ketika menghadapi waktu luang. Suatu kali ia bercerita kepada The Face tentang satu pengalaman uniknya sebagai penggila buku. “Kau tahu–ini sangat lucu–ketika aku mengunjungi Nick Roeg untuk film (The Man Who Fell to Earth) di New Mexico, aku membawa beratus-ratus buku [….] Dan aku punya lemari-lemari ini–kau benar, itu adalah perpustakaan keliling–dan mereka mirip kotak-kotak tempat amplifier dikemas, dan aku membaca semua buku itu, dan mereka berserakan di lantai–ada bergunung-gunung buku. Nick sedang duduk di sana melihatku dan ia berkata, ‘Masalah besarmu, David, kau tidak punya bacaan yang cukup.’”


Nah, dengan intensitas membaca seperti itu, tentu David Bowie telah berjumpa dengan banyak sekali buku sastra yang bagus-bagus, yang sebagiannya pasti menjadi favoritnya. Dalam sejumlah wawancara ia sering membagikan kekagumannya pada sastrawan-sastrawan kenamaan seperti Jack Kerouac, George Orwell, Thomas Hardy, Jane Austin, Stephen King, Julian Barnes, Allen Ginsberg, dan Ferlinghetti. Di antara nama-nama tersebut, satu yang sangat berkesan baginya ialah George Orwell, khususnya terkait novel 1984.


Seperti halnya Matt Bellamy, David Bowie juga mengekspresikan kekagumannya terhadap novel 1984 lewat musik. Malah, David tampak lebih ambisius sebab mulanya ia ingin mengalihwahanakan novel 1984 menjadi karya kolosal berupa teater musikal di panggung besar semacam West End, serta dilengkapi album studio dan film. Sayangnya, rencana besar tersebut terkendala izin mantan istri George Orwell yang tak mau karya almarhum suaminya diadaptasi menjadi karya apa pun selama ia masih hidup. Padahal, David konon telah mempersiapkan sekitar dua puluh lagu untuk proyek ambisius tersebut. David yang kecewa dan kesal akhirnya segera mengambil sikap lain.

Baca juga:   Kesantunan Imperatif


Pada 1974 ia merilis album Diamond Dogs sebagai album studio kedelapannya. Di sana terdapat di antaranya tiga lagu yang jelas-jelas terinspirasi langsung dari novel 1984, yaitu We are Dead, Big Brother, dan 1984. “Jujur saja, semuanya awalnya adalah [tentang] 1984,” kata David mengenang proses pembuatan album tersebut. “Ia (janda Orwell) berkata ‘tidak’ untuk musikal. Jadi, aku pada saat-saat terakhir segera mengubahnya menjadi album dengan konsep baru berjudul Diamond Dogs. Aku tak pernah ingin menjadikan Diamond Dogs sebagai teater musikal. Apa yang kumau adalah 1984.” Ngomong-ngomong, mulanya judul yang disiapkan untuk album tersebut adalah We are Dead.


Kesan mendalam David Bowie pada novel 1984 tak terlepas dari pengalaman masa kecilnya sebagai putra Inggris yang lahir pada masa awal pasca Perang Dunia II, yang segera menjadi Perang Dingin–istilah buatan Orwell. David lahir di London pada 1947 ketika kekuatan totaliter Uni Soviet pimpinan Stalin sedang angker-angkernya menjadi momok bagi Blok Barat, termasuk membayangi Inggris. “Kau selalu merasa bahwa kau dalam 1984,” ucap David mengenang masa-masa suram itu. Memang, novel 1984 ditulis Orwell pada 1949 juga sebagai ekspresi kekhawatirannya terhadap kegilaan Stalin yang semakin berbahaya bagi masa depan dunia.


John Lennon

John Lennon (Youtube/John Lennon)


John Lennon adalah anak tunggal dari keluarga yang broken home. Ayahnya minggat dari rumah dan ibunya mencintai laki-laki lain. Karena kondisi rumit begitu, John tinggal bersama bibinya dari keluarga ibu. Di sanalah masa kecil John terselamatkan. Ia juga mulai suka membaca sebab bibinya hobi membaca dan memiliki banyak buku di rumah. Diam-diam John menjadi pembaca yang rakus. Ia membaca apa saja dan biasanya sambil telentang di kasur, dengan posisi kaki yang kadang ditegakkan ke dinding. Mungkin, kebiasaan ini pula yang menjadikan matanya minus, sehingga ia harus memakai kaca mata di kemudian hari.


John membaca banyak buku. Tapi, buku kesayangannya adalah Alice in Wonderland dan sekuelnya Alice Through the Looking Glass karya Lewis Carroll. Karya ini sungguh mengocok-ngocok imajinasi. Kisahnya penuh keabsurdan, tapi dengan begitu–ditambah keluguan Alice sebagai bocah–ia menjadi seru. Di buku pertama, Alice terjatuh ke dalam lubang kelinci yang begitu dalam, lalu terdampar di negeri ajaib tempat peristiwa-persitiwa aneh menghampirinya bertubi-tubi. Di buku kedua, Alice masuk ke dunia di balik cermin dan mengalami petualangan yang tak kalah fantastis.


Buku Alice in Wonderland dan Alice Through the Looking Glass terjemahan bahasa Indonesia


Meski kisah Alice pertama kali dibaca John semasa kecil, dalam wawancara pada 1965 ia mengaku masih tetap membaca ulang buku-buku tersebut hingga dewasa. “Aku biasanya membaca keduanya itu kurang lebih sekali setahun, karena aku masih menyukainya.” Boleh dibilang karya Carroll ini memang banyak mempengaruhi John di masa selanjutnya. Penulis biografi John, Philip Norman dalam bukunya John Lennon: The Life mengatakan bahwa karakter John yang kompleks ketika dewasa merupakan penjelmaan dari watak sejumlah tokoh dalam karya Carroll, seperti Alice, Mad Hatter, Si Kucing Chesire, Si Walrus, Si Ulat, dan Si Tikus Penidur. John sendiri kelak menciptakan lagu I am the Walrus untuk The Beatles.


I am the Walrus adalah lagu The Beatles favorit John. Ia terinspirasi dari sebuah puisi panjang dalam buku Alice Through the Looking Glass, berjudul The Walrus and the Carpenter. “Bagiku, itu puisi yang indah,” kata John dalam suatu wawancara.


Kisah Alice memang menampilkan banyak puisi (termasuk lirik lagu). Kadang puisi-puisi itu seperti mengandung sejumlah simbol yang bisa ditafsirkan macam-macam. Namun, yang lainnya seperti permainan kata-kata belaka. John sangat suka jenis puisi yang terakhir tersebut, khususnya puisi berjudul Jabberwocky. Karena saking sukanya, John menggunakan gaya menulis puisi tersebut untuk bukunya In His Own Write yang terbit pada 1964. Buku itu berisi sejumlah puisi, beberapa cerita, dan ilustrasi-ilustrasi. “Puisi-puisi itu semuanya dari Jabberwocky … yang menyentakku begitu kuat,” kata John. “Kau tahu, aku bertekad untuk menjadi Lewis Carroll”.


Dalam waktu singkat In His Own Write telah mengalami sukses besar. Ratusan ribu kopinya terjual habis di Inggris, begitu juga di Amerika Serikat tak lama berselang. Sejumlah apresiasi berdatangan dari banyak pihak. Bahkan, konon Pangeran Philip dari Kerajaan Inggris dan Perdana Menteri Kanada masa itu, Pierre Trudeau juga ikut memujinya. Karena banyak permintaan dari penggemar, John menulis lagi karya serupa dan terbit pada 1965. Judulnya A Spaniard in the Works. Buku kedua ini tak sesukses buku pertama, tapi membuat John semakin dikenal sebagai penulis, khususnya penulis sastra nonsens (literary nonsense). Buku terakhir John terbit secara anumerta pada 1986, berjudul Skywriting by Word of Mouth, berkat usaha jandanya Yoko Ono.


Meski telah menulis tiga buku kreatif, ketenaran John Lennon di seluruh dunia pada akhirnya tetap lebih dikarenakan karir bermusiknya yang fenomenal. The Beatles adalah simbol budaya pop pada pertengahan abad ke-20. Beberapa orang menyebut John sebagai penyair, tapi kebanyakan orang lebih mengenalnya sebagai musisi rock legendaris dan superstar budaya pop. Di tengah itu semua, John diakui majalah Rolling Stone sebagai penulis lagu kelas kakap. Dalam daftar 100 Penulis Lagu Terhebat Sepanjang Masa yang dirilis Rolling Stone pada 2015, nama John Lennon bertengger di urutan ketiga, setingkat di bawah Paul McCartney, dan Bob Dylan di posisi puncak.


Selain I am the Walrus, lagu lain yang ditulis John berdasarkan kisah Alice ialah Lucy in the Sky with Diamonds. John menulisnya berdasarkan sebuah bagian ketika Alice sedang berada di atas perahu mengarungi sungai di antara gelagah tinggi yang indah, sebelum tiba-tiba dayung, perahu, dan sungai di hadapannya lenyap dan berganti menjadi toko kecil yang gelap. “Ia membeli telur dan telur itu berubah menjadi Humpty Dumpty,” jelas John tentang lagu itu. “Perempuan pelayan toko berubah menjadi domba [….] Ada juga bayangan perempuan yang suatu hari akan datang menyelamatkanku … ‘a girl with kaleidoscope eyes’ yang akan datang dari langit. Ia berubah menjadi Yoko, meski aku belum bertemu Yoko.”

Baca juga:   Musisi-Musisi Jenius dan Karya Sastra Favorit Mereka (Bagian II)


Bono

Bono (Youtube/U2)


Bono adalah frontman U2, band dengan sederet hit, seperti With or Without You, One, Elevation, Vertigo, dan Beautiful Day. Bono mengisi bagian vokal dan menjadi penulis lirik bagi hampir semua lagu U2. Tema-tema dalam liriknya banyak berhubungan dengan isu-isu sosial dan politik, dengan berpijak pada religiositas Kristen. Itu semua sangat mencerminkan kepribadiannya.


Bono memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Sebagai musisi, ia sering terlibat dalam konser-konser amal untuk membantu meringankan permasalahan-permasalahan kemanusian di berbagai belahan dunia, misalnya kelaparan di Etiopia, gelandangan di Irlandia, badai katrina di Amerika Serikat, gempa bumi di Haiti, dan penindasan di Tibet. Pada 2002 ia menjadi semakin serius dengan turut mendirikan DATA, sebuah organisasi multinasional yang fokus pada masalah-masalah kemiskinan, perdagangan, dan HIV/AIDS di Afrika. Proyek heroik Bono ini segera mendapat perhatian global ketika potret dirinya muncul di kover depan majalah Time tahun itu. Tajuknya tak main-main: Can Bono Save the World?. Sejak itu Bono terus menggencarkan aksi-aksi kemanusiaannya dengan mendirikan lebih banyak organisasi berorientasi amal, seperti One Campaign, EDUN, dan (RED), serta berjumpa dengan sejumlah pemimpin negara untuk membahas permasalahan-permasalahan kemanusiaan yang kurang diperhatikan. Sebagai penghargaan atas kegigihannya tersebut, pada 2005 ia dinobatkan sebagai Person of the Year oleh majalah Time, sementara pada 2008 ia dianugerahi Peace Summit Award oleh komite yang berisi para peraih Hadiah Nobel Perdamaian.


Semua aksi-aksi luar biasa Bono, baik sebagai musisi maupun aktivis kemanusiaan, merupakan wujud dari dorongan mimpi-mimpi besarnya yang gila bergejolak. Ia adalah pribadi yang penuh ide, cita-cita, semangat, dan keyakinan untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Dan sebagian dari ide-ide itu banyak ia dapatkan dari membaca buku.


Bono sangat beruntung terlahir sebagai anak Dublin, ibu kota Irlandia yang juga terkenal dengan tradisi sastranya yang mapan. Dublin adalah kota kelahiran bagi banyak pujangga besar dunia, seperti Jonathan Swift, Oscar Wilde, James Joyce, Bram Stroker, serta tiga peraih Hadiah Nobel Sastra: W.B. Yeats, G.B. Shaw, dan Samuel Beckett. Bagi penduduk Dublin, sastra adalah kebanggaan tersendiri–pada 2010 Dublin dinobatkan UNESCO sebagai Kota Sastra di mana sejumlah acara kesastraan digelar setiap tahun, serta sejumlah jalan, jembatan, dan kapal-kapal penyeberangan dinamai dengan nama-nama para penulis terkenal. Maka, Bono kecil jelas sudah tidak asing dengan sastra. Untuk memuaskan hasrat membacanya, ia bahkan mengaku pernah nekat mencuri buku.


Uniknya, bacaan favorit Bono sejak remaja cenderung tertuju pada sastra Amerika. Begitulah pengakuannya pada Today. Ia mengagumi karya-karya John Steinbeck, Jack Kerouac, dan Allen Ginsberg untuk sekadar menyebut beberapa nama sastrawan Amerika favoritnya. Ia juga menyukai novel Herman Melville, Moby-Dick–karya yang digadang-gadang sebagai salah satu karya sastra Amerika terbesar sepanjang sejarah. Meski demikian, Bono tidak menunjuk satu pun karya yang menurutnya paling berkesan. Ia mencintai sastra Amerika secara umum. “Aku membaca banyak dongeng tentang Amerika. Inilah sebagian alasan kenapa aku mengagumi Amerika,” kata Bono.


Bono adalah pemimpi besar, dan Amerika baginya adalah tempat ideal untuk mengadu mimpi-mimpinya menjadi nyata. Dalam lirik lagu American Soul ia memuji Amerika setinggi langit, “It’s not a place/This country is to me a thought/That offers grace/For every welcome that is shought [….] It’s not a place/This is a dream a whole world owns [….] There’s a promise in the heart of every good dream/It’s a call to action, not to fantasy/The end of a dream, the start of what’s real”.


Ekspresi Bono terhadap Amerika menjadi sangat monumental pada album studio kelima U2 berjudul The Joshua Tree. Album tersebut dirilis pada 1987 dan berisi tidak hanya ungkapan puja-puji terhadap “God’s country” itu, tapi juga kritik tajam terkait sisi gelapnya. Boleh dibilang inilah album terbaik U2 sejak mereka perdana merilis album studio pada 1980. Popularitas The Joshua Tree dengan lagu andalannya With or Without You semakin melambungkan nama U2 dan menjadikan mereka superstar baru di pentas musik internasional.


Kini U2 telah mengoleksi segudang prestasi prestisius, termasuk 22 Grammy Award yang menjadikan mereka pemegang rekor sebagai band tersukses dalam ajang penghargaan musik tertinggi di Amerika itu.


REFERENSI

Chris Martin

BBC Radio 2. 2015. 500 Words – Chris Martin – Get Reading, Get Writing, Get Inspired. Youtube.Com. https://www.youtube.com/watch?v=fIv0ealQfWs

Kaiser. 2009. Robert Downey Jr. Lost Weight to Make Chris Martin Happy. Celebitchy.Com. Diakses dari https://www.celebitchy.com/39032/robert_downey_jr_lost_weight_to_make_chris_martin_happy/

Revesz, Rachel. 2017. Jay-Z Calls Chris Martin ‘A Modern-Day Shakespeare’. Independent.Co.Uk. Diakses dari https://www.independent.co.uk/arts-entertainment/music/jay-z-chris-martin-coldplay-william-shakespeare-songwriter-live-band-a7872451.html


Matt Bellamy

Kaufman, Gil. 2009. Muse Discuss The Resistance, Their ‘Very Personal’ New Album. Mtv.Com. Diakses dari https://www.mtv.com/news/1622093/muse-discuss-the-resistance-their-very-personal-new-album/

MUSEicaaa. 2009. Muse Interview – THE RESISTANCE album. Youtube.Com. https://www.youtube.com/watch?v=cpAgLYZiwbE&list=LL&index=33


David Bowie

Anonim. 2016. David Bowie Dreamed of Turning George Orwell’s 1984 Into a Musical: Hear the Songs That Survived the Abandoned Project. Openculture.Com. Diakses dari https://www.openculture.com/2016/04/david-bowie-dreamed-of-turning-george-orwells-1984-into-a-musical.html

Egan, Sean (Ed.). 2015. Bowie on Bowie: Interviews and Encounters with David Bowie. Chicago: Chicago Review Press.

Lynskey, Dorian. 2019. David Bowie’s Orwell: how Nineteen Eighty-Four shaped Diamond Dogs. Theguardian.Com. Diakses dari https://www.theguardian.com/music/2019/may/19/david-bowie-nineteen-eighty-four-george-orwell-diamond-dogs-dorian-lynskey


John Lennon – Alice in Wonderland & Through the Looking Glass

Lennon, John. 1965. John Lennon Interview: World of Books 6/16/1965. Beatlesinterviews.Org. Diakses dari http://www.beatlesinterviews.org/db1965.0616.beatles.html

–––––––––. 1968. John Lennon Interview: Release 6/6/1968. Beatlesinterviews.Org. Diakses dari http://www.beatlesinterviews.org/db1968.0606.beatles.html

–––––––––. 1980. John Lennon Interview: Playboy 1980 (Page 3). Beatlesinterviews.Org. Diakses dari http://www.beatlesinterviews.org/dbjypb.int3.html

Norman, Philip. 2008. John Lennon: The Life. HarperCollins e-books.

Rolling Stone. 2015. The 100 Greatest Songwriters of All Time. Rollingstone.Com. Diakses dari https://www.rollingstone.com/interactive/lists-100-greatest-songwriters/


Bono

TODAY. 2019. Bono Made Jenna Cry with a Present for Her Daughter | Open Book with Jenna Bush Hager | Today. Youtube.Com. https://www.youtube.com/watch?v=gIBBKMsiaLM


Tentang penulis

Tinggalkan balasan!