Ilustrasi Ujian oleh Canva


Fatiya duduk dengan gusar di kursinya. Ia masih mencoba menyerap semua yang tertulis di buku sekolah yang sedang ia pegang. Sesekali matanya menoleh ke kanan, kiri, dan depan, melihat bagaimana ekspresi wajah anak-anak lain di kelas pagi itu, sebelum bel tanda mulai pelajaran berdentang. Pada detik-detik terakhir sebelum bel benar-benar berbunyi, Fatiya merasa otaknya sudah tak mampu menangkap apa pun lagi. Jadi, akhirnya dia meletakkan bukunya di meja, dan mengembuskan napas saat wali kelasnya mulai muncul di mulut pintu.


Hari ini ulangan bulanan diadakan. Kemarin, Fatiya asyik membantu ayahnya mengurus kebun di belakang rumah mereka tanpa ingat perihal ulangan ini. Saking aktifnya dia seharian kemarin, Fatiya berakhir kelelahan. Dan tak perlu ditebak lagi, tentu saja dia berakhir tertidur pulas di kamarnya tanpa sempat belajar sedikit pun. Justru, ketika membuka mata subuh tadi, dia baru kalang kabut saat teringat tentang ulangan ini.


Tentu ia sempat–mencoba–belajar, bahkan dari sejak bangun tidur, di meja makan, hingga tiba di dalam kelas tadi. Namun, waktu belajar yang singkat itu, ditambah kepanikannya, tentu tidak cukup membantu. Apalagi ada tiga mata pelajaran untuk ulangan hari ini. Fatiya pasrah. Ia benar-benar pasrah terhadap apa yang akan terjadi nanti. Akan tetapi, ia tetap akan melakukan yang terbaik, semampunya.


Setelah memberi salam dan kalimat pembuka seperti biasa, Bu Emi–wali kelas–mulai bergerak untuk membagikan sendiri kertas ulangan ke seluruh murid.


“Hei…Fatiya!”

Fatiya menoleh sedikit ke arah belakang. Ternyata Zuhra memanggilnya dengan suara berbisik.

Baca juga:   Kucing Lapar

“Kenapa kamu terlihat begitu gusar?” Zuhra bertanya.

“Aku lupa belajar kemarin.” Fatiya menjawab dengan suara yang juga berbisik.

“Oh, tenang saja. Kamu bisa–”

Zuhra menghentikan kalimatnya ketika Bu Emi menuju ke barisan kursi mereka.


Fatiya menatap lembar soal yang telah sampai di hadapannya. Ia bernapas sedikit lega setelah melihat sekilas soal-soal di halaman pertama, yang sepertinya bisa ia jawab dengan benar. Tak mau membuang-buang waktu, Fatiya segera mengambil lembar untuk menjawab, dan menuliskan namanya terlebih dahulu.


Selang beberapa waktu, Fatiya mulai terlihat sering menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Ia mulai terlihat kebingungan menghadapi soal-soal di halaman berikutnya, apalagi bagian soal matematika. Matematika adalah salah satu pelajaran yang tidak terlalu ia gemari. Meski itu hanya 15 soal pilihan berganda dan 5 esai, Fatiya bahkan belum menjawab setengahnya.


“Fatiya…”


Suara berbisik Zuhra terdengar kembali dari arah belakang.


“Tinggalkan saja bagian yang tidak bisa kamu jawab, lihat punyaku nanti, aku hampir selesai.”


Tawaran Zuhra terdengar begitu menggiurkan. Namun beberapa detik kemudian, Fatiya menggelengkan kepalanya. Ia akan mengerjakannya sendiri bagaimanapun juga.


“Waktu tersisa lima belas menit lagi.”


Suara Bu Emi membuat seisi kelas sedikit riuh, seperti isi kepala Fatiya yang mendadak semrawut. Masih ada sekitar tiga belas soal lagi dari ketiga pelajaran yang belum ia jawab, dan sebagian besarnya adalah soal esai. Fatiya menggigit bibirnya, sedikit frustrasi.

Baca juga:   Pulkam? Berbahagialah!


“Fatiya!”


Zuhra lagi-lagi memanggil dengan suara pelan, kali ini disertai sentuhan di bahu Fatiya.


“Aku sudah selesai, kamu boleh melihat jawabanku. Aku letakkan kertasku sedikit ke sudut kiri depan mejaku. Atau, beri saja kode, nomor berapa yang belum kamu isi, akan aku bacakan pelan-pelan jawabannya.”


Tawaran Zuhra lagi-lagi menggoyahkan iman Fatiya. Gadis yang sebentar lagi beranjak remaja itu hampir saja mengikuti instruksi Zuhra tadi untuk mendapatkan jawaban, apalagi Zuhra adalah juara kelas, yang tingkat kebenaran jawabannya hampir seratus persen. Namun, lagi-lagi juga hati nurani Fatiya masih bekerja dengan baik. Maka, dengan sopan, ia sekali lagi menggelengkan kepalanya.


“Kenapa? Waktunya sudah hampir habis.”


Fatiya berusaha tidak lagi memedulikan Zuhra. Ia kembali fokus untuk menjawab soal yang tersisa hingga waktu ulangan benar-benar habis. Bagaimanapun hasilnya nanti, setidaknya ia sudah berusaha dengan kemampuannya sendiri


*


Fatiya menatap kertas ulangannya sambil mendesah berat. Angka 65 tertoreh jelas di sudut kanan atas lembar jawaban dengan namanya. Ia sungguh menyesal tidak belajar kemarin, terlebih atas kelalaiannya yang lupa dengan ulangan bulanan ini.


“Fatiyaaaaa!”


Kali ini suara Zuhra terdengar lantang memanggil namanya, tidak berbisik seperti dalam kelas tadi. Gadis itu merangkul bahu Fatiya dan ikut melihat nilai pada kertas yang sedang Fatiya pegang.


“Kan, nilaimu hanya segitu. Coba tadi kamu menerima bantuanku.” Zuhra berkata sambil memperlihatkan nilai 98 pada kertas jawaban miliknya.


“Bukan bantuan, Zuhra, justru kamu tadi ingin menjerumuskanku ke dalam tindakan tidak terpuji.” Fatiya melepas rangkulan Zuhra dan memandangnya dengan wajah cemberut. “Mencontek itu perilaku yang buruk, mengambil jawabanmu dan mendapat nilai bagus setelahnya itu bukan hakku. Kamu sama saja mengajarkanku untuk mencuri, mengambil hak orang lain.”

Baca juga:   Sepiring Rujak Aceh


Zuhra terlihat bingung. “Tapi, kan aku mengizinkanmu.”


“Tetap saja itu bukan hakku. Jawaban ulangan bukanlah sesuatu yang boleh dibagi-bagi. Jika tadi aku menerima tawaranmu, mungkin besok aku akan mengulanginya, dan bisa jadi kebiasaan hingga dewasa nanti. Parahnya, bisa-bisa aku jadi koruptor karena sudah punya benih-benih mencuri sedari kecil.” Fatiya menjelaskan lagi. “Jadi, terima kasih atas niat baikmu. Tetapi bagaimanapun, aku memang harus mengerjakan sesuatu dengan jujur, dengan usahaku sendiri. Lagipula, ini juga salahku yang melupakan hari ulangan ini sehingga tidak mengulang pelajaran kemarin.”


Kali ini, Fatiya yang merangkul bahu Zuhra. “Ayo pulang!”


“Ah, kamu memang anak yang baik. Maafkan sikapku tadi, ya?” Zuhra berkata sambil menyamakan langkahnya dengan Fatiya.


Fatiya menggangguk seraya tersenyum. Mereka berdua pun pun melangkah pulang ke rumah tanpa membawa beban apa pun.


Oleh : Novita Maharani, Pengkaji Kebahasaan dan Kesastraan di Balai Bahasa Provinsi Aceh


Tinggalkan balasan!