Tanda kecerdasan yang sebenarnya bukanlah pengetahuan, tapi imajinasi.

–Albert Einstein


Kurt Cobain (Youtube/Nirvana)


Pada tulisan sebelumnya kita telah membahas tentang lima musisi jenius asal Inggris dan Irlandia dengan karya sastra favorit mereka masing-masing. Sekarang mari kita beralih ke negeri Paman Sam. Selain menjadi negara adidaya di bidang ekonomi, politik, dan militer, terlebih sejak memenangi Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat merupakan negara yang juga berjaya di bidang kebudayaan. Ia punya pengaruh sangat kuat dalam pembentukan budaya global, termasuk dalam urusan musik. Amerika merupakan tanah kelahiran bagi banyak aliran musik, seperti jazz, blues, rock ‘n’ roll, country, hip hop, disco, R&B, funk, dan lain-lain turunannya. Maka, tak mengherankan jika kebanyakan dedengkot musik dunia berasal dari Amerika.


Di sisi lain, Amerika juga punya tradisi sastra yang luar biasa sejak lama. Mulai dari era romantik (1800-an) yang disesaki pujangga-pujangga sekaliber Walt Whitman, Nathaniel Hawthorne, Edgar Allan Poe, Herman Melville, dan Emily Dickinson, hingga era kontemporer yang berisi nama-nama seperti Toni Morrison, Cormac McCarthy, dan Don DeLillo, Amerika tak pernah kekurangan sastrawan besar bagi setiap generasinya. Ketika Hadiah Nobel Sastra 2020 dianugerahkan kepada Louise Gluck, itu merupakan Hadiah Nobel Sastra ketiga belas bagi sastrawan Amerika, pencapaian yang hanya kalah dari Prancis dengan raihan lima belas kali penghargaan.


Singkatnya, sastra adalah produk kebudayaan yang sangat akrab bagi masyarakat Amerika, termasuk di kalangan musisinya. Nah, berikut adalah lima musisi besar Amerika dengan karya sastra favorit mereka masing-masing. Siapa sajakah mereka, dan buku-buku sastra apa saja yang istimewa bagi mereka? Yuk, kita bahas satu per satu!


Billie Joe Armstrong

Billie Joe Armstrong (Youtube/Green Day)


Sebagai anak punk yang identik dengan gaya hidup urakan, Billie muda memutuskan berhenti sekolah pada tingkat SMA. Kala itu ia hampir genap delapan belas tahun dan telah mempunyai band bernama Green Day. Band itu diharapkannya bisa mendatangkan masa depan yang lebih cerah ketimbang sekolah. Namun, karena itu keputusan besar, ia tetap saja galau. “Aku merasa benar-benar tersesat,” katanya mengenang masa-masa krusial itu. “Aku tak tahu kehidupan seperti apa yang akan terjadi.”


Ia pernah membaca kisah tentang remaja galau seperti dirinya sebelumnya. Remaja itu juga gelisah karena masa depan yang tak tentu, sementara sekolah baginya tidak menyenangkan. Dulu Billie membaca kisah itu secara terpaksa sebagai tugas wajib dari guru di sekolah. Ia tak menyukai tugas itu.


Beberapa tahun berselang, setelah merdeka dari sekolah, Billie berjumpa kembali dengan buku tentang remaja galau itu. Entah kenapa ia tertarik untuk membaca ulang kisahnya. Kali ini ia sangat menyukai buku itu. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan juga menulis lagu khusus tentang buku itu. Judulnya Who Wrote Holden Caulfield?.


Holden Caulfield adalah tokoh remaja galau dalam buku yang dibaca Billie itu–judulnya The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger. Ia berusia enam belas dan penuh kemuakan pada lingkungan di sekitarnya, terutama orang-orang dewasa. Ia merasa bahwa ia menghadapi banyak kepalsuan di sekolah, di masyarakat New York, di mana-mana. Orang-orang suka berpura-pura dan mereka tak tahu malu. Ia jadi tak habis pikir: kok bisa-bisanya orang-orang nyaman dengan kehidupan palsu seperti itu.


Buku The Catcher in the Rye terjemahan bahasa Indonesia


Di sekolah ia akhirnya kena drop out. Ia sebenarnya memang sengaja membuat dirinya ditendang dari sekolah. Ia mengerjakan tugas-tugas sekolah secara ugal-ugalan dan tak melakukan pendaftaran ulang setelah berkali-kali mendapat surat peringatan untuk “cepat-cepat mendaftar ulang”. Di sekolah sebelumnya ia juga angkat kaki atas kehendaknya sendiri. Alasannya:  “karena ketika di sana aku terjebak di tengah-tengah sederetan pecundang yang serba munafik. Itu saja.”


Karena tak ingin pulang ke rumah, ia gentayangan saja tak tentu arah. Ia sempat mengunjungi rumah beberapa kenalan, tapi setelah itu ia galau lagi harus bagaimana. Ia lalu berencana pergi jauh ke wilayah Barat, mengembara sendirian, dan memulai hidup baru sebagai orang asing. Ia sangat senang membayangkan dirinya sebagai orang tak dikenal karena itu akan membuatnya tak harus terlibat dalam “percakapan bodoh sialan dan tak ada gunanya dengan orang lain.” Ia membulatkan tekad, tapi adik perempuannya tiba-tiba membuatnya berubah pikiran.


Kehidupan remaja kacau seperti itulah yang ditulis Billie di lagu Who Wrote Holden Caulfield?. Baginya itu keren sekali. Ia berkata, “Ini lagu tentang melupakan apa yang ingin kau katakan. Berusaha termotivasi untuk melakukan sesuatu karena orang tuamu berkata bahwa kau harus punya motivasi. Maka kau pun jadi frustrasi dan berpikir bahwa kau harus melakukan sesuatu, tapi ujung-ujungnya kau tak melakukan apa-apa. Tapi kemudian kau enjoy-enjoy saja.”


Lagu Who Wrote Holden Caulfield? berada dalam album Kerplunk yang dirilis pada 1991, saat Billie berusia sembilan belas. Ini adalah lagu favorit Billie di album tersebut, sementara Kerplunk adalah album favorit Billie selama menggawangi band Green Day, setidaknya sampai saat ia diwawancara Vulture pada 2021. “Ini semacam [karya] otobiografis,” jelas Billie.


Holden Caulfield adalah ikon bagi remaja yang gelisah, muak, dan ingin memberontak lingkungannya. Ia adalah remaja yang terseok-seok di ambang pengaruh orang tua dan keinginan untuk berdikari, untuk bebas menentukan jalan hidup sendiri. Ia terombang-ambing dalam suasana mental antara kepolosan kanak-kanak dan kekritisan anak muda yang berakal sehat. Hasilnya, begitulah, ia kecewa menemukan orang-orang dewasa dengan segenap kepalsuannya, yang ternyata sering menjadi pencipta neraka di dunia, dan sialnya mereka harus tetap selalu dihormati, bagaimanapun. Segala kegalauan ini merupakan tema utama lagu-lagu Green Day. Di majalah Kerrang! Sam Law mengatakan bahwa novel The Catcher in the Rye memberi “gema kuat di seluruh konsep American Idiot”, album tersukses Green Day yang mengukuhkan mereka sebagai idola anak-anak muda galau yang selalu merindukan pembangkangan.


Sebenarnya kebanyakan lagu-lagu punk rock juga punya tema-tema yang cenderung tak ramah seperti itu. Kedongkolan, kefrustrasian, kenakalan, subversi, semuanya biasanya dinyanyikan dengan suara sengau dan diiringi musik berisik bertempo cepat. Musik punk rock adalah corong bagi emosi-emosi negatif yang menolak dijinakkan. Mereka berusaha jujur, persetan jika kejujuran sering kali berarti kelancangan, tidak sopan, anti basa-basi, pahit, dan berbahaya. Agaknya, karena itulah Billie menyebut novel The Catcher in the Rye yang penuh kejujuran menohok ini sebagai novel “punk rock”.


Kurt Cobain

Kurt Cobain (Youtube/Nirvana)


Biografi Kurt Cobain adalah kisah tentang kekacauan dan frustrasi. Mulanya ia adalah bocah yang periang. Ayah dan ibunya orang biasa-biasa saja dan mereka tinggal di Aberdeen, Washington. Lalu, ketika Kurt berusia sembilan tahun, orang tuanya bercerai. Kurt pun segera menjadi pribadi yang berbeda. Ia jadi pendiam, suka mengasingkan diri, dan mulai memendam sesuatu yang dari waktu ke waktu kian padat dan sewaktu-waktu siap meledak. Ia juga mulai kurang ajar dan melempari kaca jendela dengan batu. Jangan pikir ia takut dengan orang-orang dewasa.


Di SMA ia murid yang sama kacaunya. Ia sering mengalami perundungan dan terlibat perkelahian. Nilainya juga parah-parah, dan itu semua membuatnya malas melanjutkan sekolah. Akhirnya, ia harus cabut dari rumah. Ia bekerja serabutan untuk bisa membayar sewa apartemen dan bertahan hidup. Di kala isi dompetnya menyedihkan, ia memilih kolong jembatan sebagai tempat peristirahatan.


Hanya musik yang membuat hari-harinya masih punya cukup harapan untuk dijalani. Di masa-masa sulit seperti itu Kurt terus memperjuangkan band yang baru dibentuknya dengan gigih. Pada 1989 Kurt bersama Nirvana akhirnya merilis album perdana mereka berjudul Bleach. Dua tahun berselang album Nevermind menyusul. Dipenuhi lagu-lagu seperti Smells Like Teen Spirit, Come as You Are, Breed, Lithium, dan Polly, album studio kedua Nirvana ini sontak membuat Nirvana meroket secara gila-gilaan. Sejak itu Kurt mengalami sorotan media yang intens sebagai hero baru di panggung musik rock Amerika. Suatu kondisi yang lama-lama membuatnya tidak nyaman. 


Di tengah-tengah popularitasnya yang terus menanjak, ia mulai menyadari bahwa industri musik tempat ia hidup ternyata penuh kelicikan. Itu membuatnya bertambah muak. Ia melarikan diri ke obatan-obatan, menjadi kecanduan, menjadi ketergantungan, dan menemukan dirinya makin lama makin hancur. Ia telah menanggung masalah paru-paru sejak lama. Kini segalanya diperparah oleh overdosis. Tak tahan menanggung segala kekacauan yang tak henti-henti menghajarnya, pada awal April 1994 Kurt akhirnya menembakkan shotgun ke kepalanya. Maka, selesailah segala penderitaannya. Kala itu ia masih berusia 27, terlalu muda untuk menjadi salah satu musisi paling berpengaruh dalam sejarah musik rock alternatif.

Baca juga:   Kesantunan Imperatif


Segala kekacauan dan frustrasi yang Kurt alami dari waktu ke waktu sangat tercermin dalam lagu-lagu yang ia tulis untuk Nirvana. Liriknya blak-blakan, musiknya cadas, dan vokal Kurt seperti geraman seseorang yang siap melawan apa pun yang ada di hadapannya tanpa ampun. Di kebanyakan konser Nirvana, Kurt juga sering tampil sangat rusuh. Ia melemparkan gitar ke arah drum, atau speaker, merobohkan alat-alat di panggung, menghancurkan apa saja, menghantam penonton, atau siapa saja yang membuatnya jengkel.


Nah, meski sosok dan perjalanan hidupnya sangat kacau seperti itu, siapa sangka bahwa ternyata Kurt mendapatkan kesenangan khusus dari membaca novel. “Aku telah membaca Perfume karya Patrick Suskind kurang lebih sepuluh kali dalam hidupku, dan aku tak dapat berhenti membacanya,” aku Kurt dalam suatu wawancara pada 1993. “Itu seperti sesuatu yang ada dalam kantongku sepanjang waktu. Ia tak lepas dariku, dan setiap kali aku bosan, seperti ketika aku dalam pesawat atau sesuatu, aku membacanya lagi dan lagi.”


Novel Perfume terjemahan bahasa Indonesia


Novel Perfume berkisah tentang seorang yatim-piatu bernama Jean-Baptiste Grenouille yang hidup di kota kumuh Paris pada abad ke-18. Ia memiliki indra penciuman yang luar biasa. Ia bisa mengenali berbagai macam bau, mengingat semuanya dengan mudah, meski kadang ia tak tahu apa saja namanya. Lebih dari itu, ia juga bisa mengombinasikan sejumlah ingatannya tentang berbagai bau menjadi bau baru yang sangat wangi. Karena begitu terpikat oleh aneka bebauan, Grenouille suka sekali luntang-lantung ke mana suka untuk memperkaya pengetahuannya tentang bebauan baru yang belum pernah dikenalnya. Kebiasaan ini kemudian mengantarkannya kepada bau wangi seorang gadis muda yang seketika sangat membuatnya terobsesi. Ini sungguh janggal sebab setahunya semua manusia itu berbau busuk dan menjijikkan. Karena dibesarkan di lingkungan kasar yang tak pernah mengajarkannya nilai-nilai moral dan bagaimana berempati, ia lalu segera menjelma sebagai pembunuh yang mengerikan. Satu per satu gadis muda menemui ajal di tangannya.


Kurt Cobain sangat menyenangi tokoh Grenouille, terutama karena, seperti kata Kurt, “ia pada dasarnya jijik pada semua manusia [….] Setiap waktu ia mencium bau manusia seperti api dari jauh. Kau tahu, ia sungguh muak dan bersembunyi. Ia hanya mencoba menjauhi orang-orang. Aku bisa berkaitan dengan itu.”


Dalam surat perpisahannya sebelum bunuh diri, Kurt mengaku bahwa “sejak usia tujuh tahun, aku telah membenci semua manusia pada umumnya.” Jauh sebelumnya, Kurt juga pernah merekam pengakuannya tentang masa sekolahnya yang buruk di sebuah kaset. “Aku mulai tak terlalu depresi, tapi masih tidak pernah punya satu pun kawan karena aku membenci setiap orang, karena mereka begitu palsu.” Kebencian Kurt pada orang-orang yang palsu memang begitu besar, sampai-sampai itu membayangi banyak lagu Nirvana, salah satunya yang sangat gamblang yaitu Stay Away.


Khusus tentang kekagumannya pada Grenouille, Kurt menulis lagu berjudul Scentless Apprentice untuk album studio terakhir Nirvana, In Utero.


Michael Jackson

Michael Jackson (Youtube/ Michael Jackson)


Michael adalah penghibur ulung yang jarang-jarang lahir ke muka bumi. Ia bernyanyi, menari, dan menciptakan lagu dengan sama memukaunya. Konser-konsernya dihadiri lautan manusia, lengkap dengan jeritan histeris para penonton wanita yang tak jarang juga sampai menangis haru, atau pingsan terbius takjub. Popularitasnya melampaui ketenaran para pemimpin dunia, dan penggemarnya berasal dari segala generasi–sebagian dari mereka bahkan sangat fanatik dan mencoba meniru-niru gayanya. Ia adalah The King of Pop.


Karir cemerlang Michael telah dimulai sejak ia masih belia. Ia anak kedelapan dari sepuluh bersaudara–salah satu saudaranya wafat sesaat setelah lahir. Ayahnya bekerja sebagai operator mesin derek dan mereka hidup miskin. Rumahnya terlalu kecil untuk dihuni sebelas orang. Lingkungan tempat mereka tinggal juga penuh bahaya, sehingga Jackson bersaudara dilarang ayah mereka keluar rumah kecuali untuk alasan-alasan penting tertentu. Maka, untuk menghibur diri, mereka mulai suka bernyanyi bersama di kala senggang. Sang ayah yang suka musik, seperti juga sang ibu, segera mengenali bakat bernyanyi mereka, lalu menaruh mimpi besar pada mereka. Hasilnya, The Jackson 5, nama grup Jackson bersaudara, menjadi grup vokal yang cukup sukses pada paruh akhir 1960-an. Pada awal 1970, lagu mereka I Want You Back memuncaki tangga lagu bergengsi, Billboard Hot 100, dan bertahan selama empat pekan. Kala itu Michael, anggota The Jackson 5 termuda, belum genap dua belas tahun, dan ia sudah menjadi bintang cilik ternama di Amerika.


Karena bakatnya sangat menonjol, Michael diberi kesempatan meluncurkan lagu solo pertamanya pada 1971, dan dua album studio solonya setahun kemudian. Di masa itu ia masih menjadi anggota The Jackson 5 yang juga terus berkarya, sehingga ia semakin eksis dan populer di Amerika. Ia digadang-gadang sebagai anak ajaib, calon superstar masa depan, dan itu terbukti pada 1982, ketika ia meluncurkan album studio solo keenamnya, Thriller. Album berisikan hit-hit seperti Billie Jean dan Beat It itu segera menjadi album terlaris nomor satu sepanjang masa, dan memberikan Michael delapan Grammy Award sekaligus pada 1984. Itu sebuah rekor dan dengan segera ia pun dikenal luas sebagai The King of Pop. Kala itu ia baru berusia 26.


Dengan kekayaan yang berlimpah, pada 1988 Michael membeli lahan peternakan seluas 2.700 hektar di California, lalu menyulapnya menjadi kediaman sekaligus taman hiburan pribadi yang fantastis. Di sana ada danau buatan yang dilengkapi air mancur, lapangan tenis, lapangan basket, kebun binatang, bioskop, perpustakaan, museum, kolam renang, bianglala, komidi putar, roller coaster, kereta api listrik, bom bom kar, kapal bajak laut, dan wahana-wahana bermain lainnya. Negeri fantasi itu ia beri nama Neverland Valley, atau akrab dikenal Neverland saja. Dari namanya kita segera tahu bahwa Michael terinspirasi dari kisah Peter Pan karya J.M. Barrie. Ya, Michael memang sangat terobsesi oleh kisah Peter Pan.


Novel Peter Pan terjemahan bahasa Indonesia


Peter Pan adalah tokoh fiksi yang menjadi simbol bagi semangat kanak-kanak yang polos, kaya imajinasi, dan suka bermain dengan penuh gairah. Ia tak ingin tumbuh dewasa sebab menjadi dewasa baginya tak menyenangkan, bahkan mengerikan. Ia ingin selalu menikmati kebebasannya di Neverland, semacam negeri pelarian tempat berbagai petualangan seru terjadi bagai dongeng. Di sana ada Kapten Hook Si Bajak Laut, anak-anak hilang, suku Indian, para peri, kawanan putri duyung, dan makhluk-makhluk ajaib lainnya. Neverland hanya bisa dicapai dengan cara terbang tinggi di angkasa, dan untuk terbang “Kau hanya perlu memikirkan hal-hal menyenangkan.”


“Kau tahu,” kata Michael pada Jane Fonda, “seluruh dinding kamarku penuh gambar Peter Pan. Aku benar-benar mengidentikkan diri dengan Peter Pan, si anak hilang dari Never-Never  Land.”


Dalam kisah Peter Pan, anak hilang adalah sebutan bagi mereka yang sejak kecil telah lepas dari perhatian orang tua. Mereka semua bertujuh, dan Peter Pan adalah kaptennya. Peter Pan sendiri sewaktu kecil minggat dari rumah karena ia percaya bahwa ia tak diinginkan lagi oleh orang tuanya. Di sinilah sisi kelam kehidupan Peter Pan yang tampak selalu bersenang-senang di Neverland. Ia dan anak-anak hilang lainnya selalu menginginkan kehadiran orang tua yang bersedia memanjakan jiwa kanak-kanak mereka yang haus kasih sayang. Mereka ingin diceritakan dongeng-dongeng, dan karena itulah Peter Pan kemudian membawa Wendy, gadis remaja yang jago bercerita, ke Neverland.

Baca juga:   Musisi-Musisi Jenius dan Karya Sastra Favorit Mereka (Bagian I)


Michael merasa bahwa ia adalah bagian dari anak-anak hilang itu. Ia juga memiliki masa kecil yang tak menyenangkan. Ia sukses sebagai artis cilik, tapi ia menderita sebagai seorang anak. Ayahnya, pria yang dibentuk oleh kerasnya hidup menjadi pribadi yang kasar, memperlakukan anak-anaknya, termasuk Michael dengan brutal. Ia sangat berambisi untuk lekas mengubah nasib keluarganya melalui kesuksesan anak-anaknya, dan untuk itu ia menuntut mereka bekerja keras penuh disiplin. Michael yang pembangkang menjadi anak yang sangat sering berkelahi dengan ayahnya. “Buruk,” kata Michael mengenang hubungannya dengan sang ayah di masa lalu. “Sangat buruk.”


Pembelian Neverland yang luar biasa mahal merupakan kompensasi yang ditebus Michael untuk keriangan kanak-kanak yang tak sempat ia alami di masa kecil. “It’s been my fate to compensate for the childhood I’ve never known,” tulis Michael dalam lagu Childhood. “Have you seen my childhood/I’m searching for that wonder in my youth/like fantastical stories to share/the dreams I would dare watch me fly”. Lagu ini sering diputar di wahana-wahana bermain di Neverland, tempat Michael  kadang mengundang sejumlah anak-anak untuk bermain bersama; dan tempat ia menjauh dari bayang-bayang orang tua yang telah menanamkan trauma mendalam bagi masa mudanya yang kelabu.


“Aku adalah Peter Pan,” kata Michael penuh percaya diri kepada Martin Bashir. “Aku adalah Peter Pan di hatiku.” Peter Pan dalam ceria dan murungnya.


Jim Morrison

Jim Morrison (Youtube/The Doors)


“Saya pribadi percaya bahwa Jim Morrison adalah seorang dewa,” kata Danny Sugerman, kerabat dekat sekaligus penulis biografi Jim. “[M]enurut saya Jim Morrison adalah seorang dewa zaman modern, atau apalah; tapi paling tidak ia adalah seorang maharaja.”


Hidup Jim diselubungi banyak mitos. Orang-orang yang mengenalnya, atau mendengar cerita tentangnya, sering kali sulit mempercayai apa yang ia tahu tentang Jim. Sosoknya kontroversial dan di mana-mana orang membicarakannya. Itu tak terlepas dari popularitas Jim sebagai superstar rock Amerika di paruh akhir 1960-an. Juga karena Jim adalah penyair-intelektual berbakat di satu sisi, dan orang-sinting-vulgar-tak-terpuji di sisi lainnya. Profilnya sendiri juga begitu tampan untuk membuat banyak gadis muda senantiasa tergila-gila memujanya.


Jim lahir di keluarga yang sangat mapan. Ayahnya pejabat angkatan laut, dan hal itu membuatnya sering kali berpindah-pindah rumah mengikuti tempat ayahnya bertugas. Sikap militeristik ayahnya juga membuat komunikasi mereka jadi sangat kaku dan buruk. Kondisi ini begitu mempengaruhi kepribadian Jim, termasuk bagaimana ia bersosialisasi nantinya. Jim kecil hampir tak punya kawan akrab sebab ia terlalu sering berhadapan dengan kawan baru. Ia akhirnya lebih suka dan terbiasa menyendiri. Di tengah kesendiriannya, semasa SMP, ia mulai asyik membaca apa saja buku-buku di rumahnya. Pada 1957, Jim baru berusia tiga belas ketika berjumpa dengan novel On the Road untuk pertama kalinya. Karya Jack Kerouac ini akan punya pengaruh luar biasa bagi hidup Jim setelahnya.


Novel On the Road terjemahan bahasa Indonesia


Novel On the Road adalah kisah tentang orang-orang yang ingin menghadapi hidup dengan penuh gairah. Mereka membuka tangan lebar-lebar kepada segala kemungkinan, dan mengatakan “ya!” tanpa ragu. Dalam cerita, penggila-penggila hidup itu diwakili oleh dua protagonis bernama Sal Paradise dan Dean Moriarty. Sal berlaku sebagai narator, sementara Dean adalah bintang utamanya. Dean adalah sosok yang menjadi pusat cerita, termasuk alasan kenapa Sal ingin menceritakan kisah hidupnya yang “sangat fantastis untuk disimpan begitu saja.”


Sebagai anak muda yang haus pengalaman hidup, mereka menjelajahi tanah Amerika dengan mengendarai mobil berhari-hari; dari timur ke barat, ke selatan hingga Meksiko. Mereka kadang berdua saja, kadang bertiga atau berempat bersama kawan lain, atau sesekali bersama orang asing yang ingin menumpang ke tempat-tempat yang searah dengan tujuan mereka. Dalam perjalanan-perjalanan hebat itu mereka singgah di sejumlah kota dan mengalami manis-getirnya kebebasan. Ketika sedang sial, mereka harus mendorong mobil yang kehabisan bensin karena SPBU masih jauh, atau membayar denda karena ditilang polisi akibat kebut-kebutan. Namun, ketika sedang gila, mereka akan bercinta dengan pelacur, memakai narkoba, dan menghadiri kelab-kelab tempat pertunjukan musik jazz bergelora. Semuanya gara-gara Dean Moriarty, “jiwa penuh gelora cinta” itu.


Jim Morrison sangat terpesona oleh sosok Dean Moriarty. Di masa-masa selanjutnya Jim mulai meniru-niru gaya Dean, bahkan hingga cara tertawanya yang khas. Meski Dean sangat gila dalam masalah seks dan narkoba, di sisi lain ia adalah “pemuda yang terpesona oleh berbagai kemungkinan indah untuk menjadi seorang intelektual sejati”. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku, entah di perpustakaan, tempat biliar, di atas pohon, loteng, atau di mobil jika dalam perjalanan. Ia mengagumi Nietzsche dan berterus terang ingin menjadi penulis.


Jim kelak juga mengagumi Nietzsche, bahkan menggila-gilainya. Filsafat Nietzsche merupakan faktor penting yang mengidentikkan Jim dengan Dean, terutama dalam soal pandangan hidup. Doktrin amor fati (cintai takdirmu) Nietzsche telah membuat keduanya sama-sama punya hasrat besar untuk menjelajahi hidup dengan suka cita. “Ketika itu,” kata Jim pada 1969, “katakanlah, aku sedang menguji sejauh apa batas-batas kenyataan itu sebenarnya. Waktu itu aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Semuanya hanya itu: cuma ingin tahu.” Bukankah prinsip itu pula yang membawa Dean merayakan hidupnya dengan berpetualang ke seantero Amerika? Jim sendiri kelak juga suka melakukan perjalanan yang sama dengan mobil. Ia hidup di jalanan selama berhari-hari dan mengembara bersama kawannya menjelajahi Amerika.


Karena itu pula Jim ingin jadi penulis. Pemuda yang konon ber-IQ 149 ini ingin menjadi penulis “supaya bisa mengalami semua hal”. Ke mana-mana ia selalu membawa buku catatan, tempat ia menulis apa saja refleksi dan kesan-kesan terhadap sejumlah pengalaman, termasuk kutipan berarti dari buku-buku yang ia baca. Buku catatan itu juga menjadi “tempat di mana aku menciptakan alam semesta lain dalam kepalaku, untuk menandingi yang ada.” Dalam hal ini ia banyak menulis puisi dan sempat menerbitkan buku antologi puisi berjudul The Lords & The New Creatures. Baginya puisi itu “membuka semua pintu. Kau dapat berjalan melalui pintu mana saja yang cocok denganmu … dan itulah kenapa puisi sangat menarik bagiku–karena ia begitu abadi.” Ngomong-ngomong, filosofi ini juga ia gunakan ketika memberi nama bandnya The Doors. “Ada yang diketahui, dan ada yang tak diketahui. Dan apa yang memisahkan keduanya adalah pintu (the door), dan itulah apa yang kuinginkan. Aku ingin menjadi pintu …,” kata Jim.


Karena gemar sekali dan jago menulis puisi, Jim juga menjadi penulis lirik untuk hampir semua lagu The Doors. Kadang ia membacakan bait-bait puisi karyanya di tengah-tengah lagu, dan itu akhirnya menjadi salah satu ciri khas Jim sebagai vokalis.


Sayangnya, Jim mati secara misterius di usia 27. Dua tahun kemudian The Doors yang telah berjaya sejak perilisan lagu Light My Fire pada 1967 akhirnya bubar. Itu menegaskan bukti bahwa peran Jim di dalam band adalah benar-benar seperti nyawa, dan ia tak ada duanya. Tak tergantikan.


Nah, karena saking pentingnya novel On the Road dalam hidup Jim Morrison, dan Jim Morrison dalam band The Doors, kibordis The Doors Ray Manzarek sampai berkata, “Jika ia (Jack Kerouac) tidak menulis On the Road, The Doors tidak akan pernah ada.”


Bob Dylan

Bob Dylan (Youtube/Bob Dylan)


Bob Dylan lahir pada 1941 dengan nama Robert Allen Zimmerman dari keluarga Yahudi. Karena kagum pada penyair Dylan Thomas, ia kemudian mengganti nama resminya menjadi Robert Dylan, dengan nama panggungnya Bob Dylan. Ia mulai mencuri perhatian publik Amerika pada 1963 lewat album The Freewheelin’ Bob Dylan yang berisi lagu-lagu protes sosial seperti Blowin’ in the Wind, Masters of War, dan A Hard Rain’s a-Gonna Fall. Kala itu kondisi sosial politik Amerika sedang bergolak dan ia ikut serta mengobarkan api perjuangan para demonstran yang berkerumun dalam aksi March on Washington untuk membela hak-hak sipil warga kulit hitam Amerika yang didiskriminasi pemerintah. Setahun berselang Bob kembali merilis album studio yang penuh suara protes sosial, dan menjadikannya semakin populer di kalangan publik Amerika yang masih membara. Ketika majalah Time menerbitkan edisi Time 100 pada penghujung abad ke-20, Bob Dylan dimasukkan ke daftar 100 Orang Terpenting Seabad (ke-20) dan dipuji sebagai “Penyair ulung, pengkritik sosial yang pedas dan pemberani, semangat yang memandu generasi counterculture.”

Baca juga:   Belajar Kembali Penulisan Partikel -pun


Sebagai musisi, Bob adalah peraih sepuluh Grammy Award dan pemuncak daftar 100 Penulis Lagu Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone edisi 2015. Lagunya Like a Rolling Stone juga memuncaki daftar 500 Lagu Terbaik Sepanjang Masa versi majalah yang sama edisi 2004 dan 2010. Kehebatan lagu-lagu Bob tak hanya terletak pada komposisi musiknya yang cemerlang, tapi juga pada lirik-liriknya yang cerdas dan puitis.


Pada 2016 Bob Dylan menjadi kontroversi seru di kalangan pemerhati sastra dunia sebab ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra oleh Swedish Academy. Belum pernah terjadi sebelumnya seorang musisi meraih Hadiah Nobel Sastra sejak penghargaan tersebut perdana diberikan pada 1901. Khusus dari sudut pandang pihak yang kontra, banyak pendapat yang menyatakan bahwa Bob Dylan lebih diakui sebagai musisi (besar) ketimbang sastrawan (besar). Bahkan, sebagian pihak juga masih mempertanyakan apakah lirik-lirik lagu Bob Dylan bisa disebut puisi/karya sastra atau tidak. Meski demikian, sekretaris permanen Swedish Academy, Sara Danius, telah menyampaikan penjelasannya secara bijaksana pada saat pengumuman, “Saya menyadari bahwa kita masih membaca Homer dan Sappho dari Yunani Kuno, dan mereka menulis 2.500 tahun lalu. Karya-karya mereka dimaksudkan untuk ditampilkan, sering kali bersama dengan instrumen, tapi karya-karya itu bertahan, dan bertahan dengan sangat baik di halaman buku. Kita menikmati puisi (mereka), dan saya pikir Bob Dylan berhak untuk dibaca sebagai penyair.”


Pada 1985 Bob memang menerbitkan buku antologi liriknya secara lengkap. Buku setebal 524 halaman itu sangat istimewa karena diterbitkan oleh salah satu penerbit besar di Amerika Serikat, Alfred A. Knopf. Pada 2014 Bob kembali menerbitkan koleksi lengkap liriknya. Kali ini buku berjudul The Lyrics: Since 1962 itu mencapai ketebalan 960 halaman, dan diterbitkan oleh penerbit kondang lainnya, Simon & Schuster. Fenomena ini menjadi indikasi bahwa lirik lagu (yang bagus) pada kenyataannya dapat juga dinikmati sebagai karya sastra tulis, sebagaimana membaca sajak, tanpa harus mendengarkan musik yang biasa menjadi harmoni bersamanya.


Bob Dylan dianugerahi Hadiah Nobel Sastra “karena telah menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu Amerika yang hebat.” Lirik-lirik lagunya dinilai selevel dengan puisi-puisi para penyair berbahasa Inggris sekaliber Milton dan Blake, sehingga Swedish Academy tidak ragu untuk menyebut Bob sebagai “penyair agung”.


Bob memang dikenal sebagai musisi yang membawa ambisi intelektual ke ranah musik populer. Saat ia dimasukkan ke Rock and Roll Hall of Fame pada 1988, Bruce Springsteen memperkenalkan Bob sebagai seorang revolusioner: “Dengan cara Elvis membebaskan tubuhmu, Bob membebaskan pikiranmu.” Lirik-liriknya penuh referensi pada peristiwa-peristiwa bersejarah, imaji kitab suci, dan sastra klasik. Semua itu mencerminkan perhatiannya yang sangat besar terhadap dunia gagasan. Semua itu tak terlepas dari kebiasaan membacanya yang telah ia mulai sejak belia.


Dalam kuliah Hadiah Nobel-nya pada 2017, Bob berbagi cerita tentang itu. Ia semasa sekolah telah akrab dengan karya-karya klasik semacam Don Quixote, Ivanhoe, Robinson Crusoe, Gulliver’s Travels, Tale of Two Cities, dan lainnya. “[T]ema-tema dari buku-buku itu bekerja dengan cara mereka sendiri di dalam banyak laguku, secara sadar atau tidak. Aku ingin menulis lagu-lagu yang tidak seperti apa pun yang pernah siapa pun dengar, dan tema-tema ini fundamental.”


Meski telah membaca banyak buku sejak semasa sekolah, bagi Bob ada tiga buku yang secara khusus sangat membekas di pikirannya. Mereka adalah Moby Dick karya Herman Melville, All Quiet on the Western Front karya E.M. Remarque, dan The Odyssey karya Homer. Khusus mengenai karya Homer–penyair legendaris yang telah diidentikkan dengan dirinya–Bob berkata, “The Odyssey adalah buku luar biasa yang temanya telah berhasil masuk ke dalam balada banyak penulis lagu: […] lagu-laguku juga.”


Buku The Odyssey terjemahan bahasa Indonesia


Epik The Odyssey adalah kisah tentang seorang raja yang menempuh perjalanan pulang usai terlibat perang panjang di negeri jauh. Ia menghadapi banyak rintangan di sepanjang jalan, dan sesampainya di rumah, setelah sepuluh tahun dalam perjalanan, ia mendapati pula istrinya tengah diganggu banyak laki-laki kurang ajar yang ingin memanfaatkan kesempatan. Mereka berusaha melamar istrinya dan terus menunggu dari tahun ke tahun. Terbakar oleh amarah, sang raja segera menghajar mereka satu persatu. Awalnya sang ratu tak percaya bahwa pahlawan yang telah membunuh para pengacau itu adalah suaminya, kekasih yang kepulangannya telah ia tunggu dengan setia bertahun-tahun. Namun, setelah dilakukan sejumlah tes, sang ratu akhirnya yakin bahwa laki-laki gagah berani itu memang benar suaminya. Raja itu adalah Odyssey.


REFERENSI

Billie Joe Armstrong

Albert, Melissa. 2020. Green Day: American Rock Band. Britannica.Com. Diakses dari https://www.britannica.com/topic/Green-Day

Doyle, Patrick. 2020. Billie Joe Armstrong: My Life in 15 Songs. Rollingstone.Com. Diakses dari https://www.rollingstone.com/music/music-lists/billie-joe-armstrong-green-day-my-life-937805/409-in-your-coffeemaker-938114/

Green Day. 2015. Who Wrote Holden Caulfield? (Live at Madison Square Garden, New York City, NY, 7/27/09). Youtube.Com. https://www.youtube.com/watch?v=EVyQobn6MbM

Greene, Andy. 2011. Readers Poll: The Best Punk Rock Bands of All Time. Rollingstone.Com. Diakses dari https://www.rollingstone.com/music/music-lists/readers-poll-the-best-punk-rock-bands-of-all-time-15225/10-bad-brains-119554/

Jenkins, Craig. 2021. The Best and Most Misunderstood of Green Day, According to Billie Joe Armstrong. Vulture.Com. Diakses dari https://www.vulture.com/article/interview-billie-joe-armstrong-green-day-history.html

Kahn, Jamie. 2022. The Green Day Song Dedicated to Billie Joe Armstrong’s Favourite Book. Faroutmagazine.Co.Uk. Diakses dari https://faroutmagazine.co.uk/the-green-day-song-dedicated-to-billie-joe-armstrongs-favourite-book/

Law, Sam. 2021. The 20 Greatest Green Day Songs–Ranked. Kerrang.Com. Diakses dari https://www.kerrang.com/the-20-greatest-green-day-songs-ranked

Salinger, J.D. 2020. The Catcher in the Rye. Diterjemahkan Gita Widya Laksmini. Depok: Banana.


Kurt Cobain

Azerrad, Michael. 2001. Come as You Are: The Story of Nirvana. New York: Broadway Books.

Morgen, Brett dan Richard Bienstock. 2015. Kurt Cobain: A Montage of Heck. San Rafael: Insight Editions.

Waring, Olivia. 2022. With the Lights Out: When Did Kurt Cobain Died and What Did His Suicide Note Say?. Thesun.Co.Uk. Diakses dari https://www.thesun.co.uk/tvandshowbiz/4161956/kurt-cobain-die-suicide/

WatchMojo.com. 2017. One of Kurt Cobain’s Final Interviews – Incl. Extremely Rare Footage. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=3CTsGievjMU&t=125s


Michael Jackson

Barrie, J.M. 2020. Peter Pan. Diterjemahkan Julanda Tantani. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Taraborrelli, J. Randy. 2009. Michael Jackson: The Magic, the Madness, the Whole Story. New York: Grand Central Publishing.

Theroux, Paul. 2016. Michael Jackson’s Iconic Neverland Ranch. Architecturaldigest.Com. Diakses dari https://www.architecturaldigest.com/story/neverland-ranch-michael-jackson-article

Vincent, Rickey. 2022. Michael Jackson: American Singer, Songwriter, and Dancer. Britannica.Com. Diakses dari https://www.britannica.com/biography/Michael-Jackson


Jim Morrison

Hopkins, Jerry dan Danny Sugerman. 2010. No One Here Gets Out Alive: Biografi Terlaris Jim Morrison. Diterjemahkan Herry Mardian dan Septina Ferniati dari No One Here Gets Out Alive: The Bestselling Biography of Jim Morrison. Yogyakarta: Ayyana.

Kerouac, Jack. 2017. Di Jalanan. Diterjemahkan Noor Cholis dari On the Road. Depok: Banana.

Morrison, Jim. 1989. Wilderness: The Lost Writings of Jim Morrison. Volume I. New York: Vintage Books.


Bob Dylan

Cocks, Jay. 1999. The Folk Musician Bob Dylan. Shrout.Co.Uk. Diakses dari https://www.shrout.co.uk/TIME%20Bob%20Dylan.html

Dylan, Bob. 2017. Bob Dylan: Nobel Lecture. Nobelprize.Org. Diakses dari https://www.nobelprize.org/prizes/literature/2016/dylan/lecture/

Ellis-Petersen, Hannah dan Alison Flood. 2016. Bob Dylan Wins Nobel Prize in Literature. Theguardian.Com. Diakses dari https://www.theguardian.com/books/2016/oct/13/bob-dylan-wins-2016-nobel-prize-in-literature

Harrington, Richard. 1988. The Night of Rock ‘n’ Roil. Washingtonpost.Com. Diakses dari https://www.washingtonpost.com/archive/lifestyle/1988/01/21/the-night-of-rock-n-roil/302a0602-264b-476c-950e-69c12e3b1b55/

Tinggalkan balasan!