Lestarikan Bahasa Aceh dan Gayo: Balai Bahasa Aceh Menggelar Rapat Koordinasi di Hermes Palace, Banda Aceh

Balai Bahasa Provinsi Aceh (BBPA) menggelar Rapat Koordinasi Antarinstansi Revitalisasi Bahasa Daerah Provinsi Aceh pada 5–8 Maret 2024 di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh. Kegiatan ini dihadiri oleh 50 peserta yang berasal dari berbagai instansi di daerah Aceh.

Rapat koordinasi ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia. Tujuan rapat ini adalah untuk menyamakan persepsi, membagi tugas dan wewenang, serta menyinkronkan kegiatan revitalisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Rangkaian kegiatan RBD meliputi penyusunan modul, rapat koordinasi antarinstansi, pelatihan guru, pendampingan pengimbasan, kompetensi berjenjang, dan festival. Nantinya RBD akan dilaksanakan di enam kabupaten, yakni Kabupaten Pidie, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh untuk RBD bahasa Aceh, serta Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues untuk RBD bahasa Gayo.

Acara pembukaan dimulai dengan penyampaian sambutan oleh Kepala Dinas Pendidikan Cabang Banda Aceh–Aceh Besar, Bapak Syarwan Joni. Dalam sambutannya, Beliau membacakan sambutan tertulis Pj Gubernur Aceh menyampaikan keunggulan bahasa daerah atau bahasa ibu adalah keragaman kosakata yang sangat luas dan spesifik, karena berkaitan langsung dengan budaya dan cara hidup suku bangsa yang menggunakannya.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Drs. Umar Solikhan, M.Hum. mengatakan sasaran dari kegiatan diskusi terkait revitalisasi tersebut agar generasi muda Aceh ke depan menjadi penutur aktif bahasa daerah.

“Alhamdulillah pada tahun ini Provinsi Aceh mendapat kesempatan untuk melanjutkan RBD setelah pada tahun 2023 kami melaksanakan RBD untuk bahasa Gayo,” kata Bapak Umar.

Dalam acara ini hadir juga Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Drs. Imam Budi Utomo, M.Hum.yang menjelaskan tentang tiga program prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yaitu literasi, pelindungan dan pemodernan bahasa dan sastra, serta penginternasionalan bahasa Indonesia. Untuk tahun ini, rencananya Badan Bahasa akan mencetak dan mendistribusikan 21 juta buku literasi di seluruh provinsi di Indonesia. Sementara itu, program pelindungan bahasa daerah mencakup revitalisasi bahasa daerah, konservasi, pemetaan bahasa daerah, dan pelestarian bahasa daerah dengan 718 bahasa yang ada. Program ketiga adalah penginternasionalan bahasa Indonesia, sebagai perwujudan dari peraturan perundang-undangan agar bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. 

Bapak Imam Budi Utomo menegaskan bahwa sinergi antarpihak sangat diperlukan dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah, sehingga keberagaman bahasa di Indonesia tetap terjaga dan tidak terancam punah.

Tinggalkan balasan!